
"Ahh.... Bagaimana persiapan murid - murid-murid, Maruta?" tanya La Huda.
"Emm..... Semua sudah siap, guru. Serbuk racun sudah disiapkan setiap murid di barisan depan jika ada prajurit Kerajaan Datu Gumi yang menggunakan perisai besi untuk melapisi tubuh mereka"
"Kerja bagus. Buat racun sebanyak - banyaknya. Dengan begitu pekerjaan kita akan selesai lebih cepat, dan jalan untuk menguasai Kerajaan Sakra akan semakin mudah setelah kita buat raja bodoh itu lengah sesudah memenangkan perang melawan Datu Gumi. Lalu dari Kerajaan Sakra, kita akan menguasai seluruh dunia. Hahahahaha. . . "
La Huda tertawa bergelak. Rencananya untuk menguasai Kerajaan Sakra hanya tinggal selangkah saja.
Memang, selama ini La Huda tidak sungguh - sungguh membantu perang Kerajaan Sakra. Hal itu dilakukannya hanya semata demi keuntungannya sendiri. Setelah Kerajaan Sakra ditaklukkan, tujuan selanjutnya adalah menduduki Kerajaan Datu Gumi sebelum menguasai kerajaan - kerajaan lain. Pada intinya, tujuan sesungguhnya La Huda adalah mengumpulkan kekuatan yang besar untuk menggempur Kerajaan Siluman Darah.
***
"Hiaaatttt..... "
Wuss..... Duarr......
Seiring terdengarnya suara bentakan keras seorang pemuda berambut emas yang mendorong kan kepalan tangannya ke depan, melesatlah seberkas sinar berwarna merah memancarkan panas yang amat menyengat menghantam sebatang pohon sebesar pelukan orang dewasa. Hal tersebut menimbulkan ledakan keras memekakkan telinga.
Terjadi guncangan kecil mengiringi suara ledakan itu. Pohon besar tersebut dan beberapa pohon lain di sekitarnya bertumbangan mengejutkan hewan - hewan yang berkerumun di sekitar tempat itu.
"Daya rusak akibat pengerahan Pukulan Naga Murka benar - benar mengerikan. Ilmu ini tidak boleh aku gunakan jika tidak benar - benar terpaksa nanti" gumam pemuda berambut emas itu.
"Kakang... Tenaga dalammu bertambah setingkat lagi. Aku jadi semakin kesulitan untuk mengejarmu" terdengar suara merdu seruan seorang gadis jelita berambut panjang lurus menjuntai sepinggang menghampiri pemuda itu dengan mengulas senyum manisnya.
"Tuan muda benar - benar mewarisi kehebatan Panglima Besar Askar"
__ADS_1
Yang baru saja ikut menimbrung adalah Jaya Ruma, telik sandi Kerajaan Datu Gumi.
Tentu saja yang dimaksud Tuan Muda oleh Jaya Ruma adalah Argadana. Jaya Ruma mengubah panggilannya pada Argadana setelah dia mengetahui identitas sebenarnya Argadana yang merupakan putra panglima besar yang terkenal di kerajaannya. Gadis yang menayapa Argadana tadi adalah Ningrum.
Putri Kerajaan Sampang Daru itu tidak hentinya merasa takjub dengan kehebatan pemuda yang amat dikasihinya itu. Meskipun dia juga menguasai ilmu tersebut karena memang mereka merupakan saudara seperguruan, namun Ningrum selalu merasa bahwa Pukulan Naga Murka miliknya kalah setingkat dibanding dengan yang dikuasai Argadana.
Hari itu tepat sepuluh hari Argadana bersama Ningrum dan Jaya Rumah melanjutkan perjalanan menuju Kerajaan Datu Gumi setelah melakukan pertemuan dadakan di markas pusat Pecahan Kelemahan. Macao tetap tinggal di markas Pecahan Kelemahan karena masih harus membuat bedil dan bom untuk persiapan perang nanti.
"Haa.... Kalian sudah bangun rupanya. Lekaslah, kita lanjutkan perjalanan. Tidak jauh dari sini, kita akan menemui sebuah perkampungan" ajak Argadana.
Merekapun melanjutkan kembali perjalanan. Namun ketika hendak bersiap - siap meninggalkan tempat tersebut Argadana tiba - tiba memberi isyarat untuk diam. Ningrum dan Jaya Rumah menurut. Pendengaran Argadana yang tajam menangkap suara seperti orang sedang bertarung.
"Apa kalian mendengarnya?" tanya Argadana.
Melihat hal itu Argadana sedikit mengendurkan kecepatannya sembari menunggu Ningrum dan Jaya Ruma menyusul dari belakang.
***
"Hahaha. . . Kalian semua tidak akan ada yang selamat dari tangan maut kami"
Seorang wanita tua berusia sekitar enam puluh tahun. Bibirnya dipolesi dengan gincu warna hitam tampak seperti pesolek dengan bedak putih tebal melumuri skujur wajahnya.
Wanita itu membawa lima puluh orang lelaki berpakaian prajurit sedang mengobrak abrik sebuah perkampungan. Kampung Peresak nama kampung tersebut. Orang - orang yang dibawa wanita tua itu sangat ganas. Mereka tidak segan memperkosa dan bahkan membunuh wanita yang mereka temui.
Dalam operasi mereka, sudah tak terhitung nyawa penduduk kampung tersebut telah melayang karena kekejaman mereka. Lima orang yang tampaknya memiliki ilmu cukup tinggi coba menghalangi mereka, tetapi karena menang jumlah lima orang tersebut dalam beberapa gebrakan saja sudah kepayahan dan akhirnya tewas dengan tubuh terpotong - potong oleh senjata tajam.
__ADS_1
Ketika suasana kacau semakin parah Argadana dan Ningrum sampai di tempat tersebut. Rumah - rumah dihancurkan, mayat - mayat bergelimpangan tak tentu arah. Kutungan tangan dan kaki, bahkan kepala tercecer di mana - mana.
Pemandangan mengerikan tersebut membuat Jaya Ruma dan Ningrum merasa mual dan nyaris memuntahkan isi perut mereka. Sementara itu Argadana wajahnya tampak kelam membesi. Sejujurnya tubuhnya bergetar tak dapat lagi membendung kemarahan yang membludak.
Dengan langkah tergesa - gesa pemuda rambut emas itu segera mencari siapa pelaku yang menjadi dalang di balik perbuatan kejam tersebut. Setelah beberapa jauh berjalan, terlihatlah orang - orang berpakaian prajurit bersenjata pedang menyeret para warga dan mengumpulkannya dalam satu tempat di halaman yang cukup luas. Prajurit - prajurit kasar itu tampaknya menerima perintah dari seorang wanita tua berpakaian serba hitam. Argadana segera mengibaskan tangan kanannya ke arah salah prajurit yang jaraknya tidak seberapa jauh darinya.
Serangkum angin kencang menerbangkan tubuh prajurit itu sejauh belasan tombak dan jatuh tepat di hadapan wanita tua yang memerintahnya.
"Siapa kau? Berani melawan prajurit Datu Gumi?" bentak wanita tua itu keras melihat seorang pemuda berambut emas dan memiliki rajah bergambar pedang di tengah - tengah dari antara kedua alisnya yang tadi menyerang anak buahnya.
Belum sempat Argadana membuka mulut untuk menjawab, Jaya Ruma tiba - tiba datang dari belakangnya bersama Ningrum dan berkata.
"Aku juga prajurit Datu Gumi. Tapi aku tidak merasa pernah mengenalmu. Dan para prajurit itu juga tidak pernah kulihat sebelumnya" kata Jaya Ruma.
Wajah wanita tua itu sedikit berubah mendengar kata - kata Jaya Ruma itu. Sesaat kemudian dia tersenyum menampilkan seringai mengejeknya.
"Ohh... Rupanya kalian anji*ng - anji*ngnya Raja Sangkala" katanya mengangkat dada.
"Aku Pendekar Tangan Hitam dari Andalas. Raja Durja dari Kerajaan Sakra memberi perintah kepadaku untuk membuat keonaran di sekitar wilayah Kerajaan Datu Gumi. Agar rakyatnya kehilangan kepercayaan pada Raja Sangkala itu. Hehehe... "
"Hmm.... Kau sendiri begitu bangga rupanya, bisa menjadi anjing suruhan Raja Durja" sindir Jaya Ruma membalas.
Wajah Pendekar Tangan Hitam mengelam mendengar balasan Jaya Ruma. Nafsu membunuh seketika menguasai dirinya membuat Jaya Ruma merinding dan kesulitan untuk bergerak.
Argadana yang melihat hal itu tidak tinggal diam. Pemuda sakti itu mengerahkan sedikit hawa kekuatan dari Pedang Siluman Darah. Rajah pedang merah di dahinya memancarkan cahaya mencekam menindih hawa membunuh yang dikeluarkan oleh Pendekar Tangan Hitam membuat tokoh sesat dari Andalas itu terkejut bukan kepalang.
__ADS_1