
Kemunculan dua orang Pendekar Naga yaitu Rawa Mada dan Ridu Hastapara yang menunggangi Naga Besi dan Naga Air membuat ciut nyali Sepuluh Pendekar Taring Maut. Wujudkan mengerikan dua ekor Naga itu terasa sangat mengancam jiwa mereka. Bersyukur kedua penunggang naga itu tidak memerintahkan naga - naga itu untuk menelan mentah - mentah tubuh mereka. Namun mengetahui bahwa dua orang pemuda penunggang naga itu begitu hormat pada pemuda yang menjadi target mereka mau tidak mau Sepuluh Pendekar Taring Maut itu semakin berkecil hati. Sadarkah mereka bahwa pemuda yang tampak beberapa dua puluh tahun lebih muda daripada mereka itu ternyata adalah seorang pendekar berilmu tinggi.
Rasa kecut membuat nyali bertarung mereka menguap tetapi harga diri mereka sebagai Pendekar angkatan tua tidak mengizinkan mereka untuk melarikan diri. Akhirnya mereka bertekad untuk melawan meski harus menerima imbalan berupa kematian.
Argadana yang merasa takjub dengan keberanian sepuluh Pendekar tua itu lantas menjawab dengan lantang.
"Baiklah... Aku takjub dengan keberanian kalian. Orang - orang seperti kalian sangat jarang ditemukan di dunia persilatan ini yang bahkan seorang raja sekalipun akan memohon - mohon untuk dilepaskan jika itu mengancam jiwa mereka. Untuk kalian Sepuluh Pendekar Taring Maut... Setelah perang besar ini aku berjanji akan mengubur jasad kalian dengan tanganku sendiri sebagai bentuk penghormatanku pada jiwa - jiwa pemberani. Sayangnya kalian berjalan di jalur yang salah... Aku hanya bisa menyesalkan hal ini..."
"Baiklah, Pendekar Muda... Kami akan memulai serangan pertama, bersiaplah..." kata Taring Satu dengan nada percaya diri melihat semua saudara seperguruannya telah bangkit.
"Aku sudah siap... Ayo kita lakukan... "
Wus...
Rajah pedang merah di dahi Argadana sedikit bercahaya. Ketika pemuda rambut emas itu membuat kuda - kuda kokoh dengan posisi kaki kiri di depan. Tangan kiri melintang di depan dada sementara tangan kanan menggenggam Pusaka Cambuk Raja Naga.
Ctar...
Begitu terdengar suara lecutan cambuk Argadana di udara pandangan Sepuluh Pendekar Taring Maut tampak berubah. Dunia bagai dipenuhi warna merah mulai dari rerumputan dedaunan dan bahkan golok di tangan mereka yang tadinya berasap hitam kini asap tersebut menjadi warna merah.
Melihat dari keanehan tersebut jelas murid Sepasang Pendekar Naga dari Lembah Neraka itu sedang menggunakan Jurus Bulan Darah untuk memperlambat gerakan Sepuluh Pendekar Taring Maut. Argadana berniat mengakhiri pertarungan dengan cepat agar sepuluh orang itu tidak akan merasakan sakit yang menyiksa terlalu lama sebelum mereka mati.
"Ada apa ini?" batin Taring Satu.
"Semuanya berwarna merah, dan bahkan dendekar muda itu juga" pikir yang lainnya dalam hati.
"Ini pasti kekuatan sihir... Entah apa pengaruhnya pada kita, kita akan tahu setelah kita menyerangnya. Ayo... Rangsek bersama.."
Sepuluh orang itu terkejut melihat pergerakan Argadana yang sangat cepat dan tahu - tahu Taring Sepuluh telah terpental cukup jauhjauh setelah menerima tendangan keras di bagian ulu hatinya. Taring Sepuluh seketika itu juga muntah darah.
__ADS_1
"Kepung di semua sisi. Akan sulit jika melawannya dari depan" Tating Satu memberi perintah.
Taring Sepuluh ikut bergabung mengepung Argadana setelah menelan obat untuk meringankan luka dalamnya.
Jurus Sembilan Matahari!!!
Ketika jurus itu dikerahkan sinar berwarna merah samar - samar menyelimuti tubuh Argadana dan terus melebar sejauh dua batang tombak.
Kepungan Sepuluh Pendekar Taring Maut merenggang karena tidak tahan dengan panas menyengat pengaruh kekuatan tenaga dalam Jurus Sembilan Matahari.
"Pemuda ini bukan hanya rambutnya saja yang aneh. Ilmunya juga ternyata ikutan aneh" batin Taring Satu kagum.
"Gunakan tenaga dalam untuk menahan hawa panas dari tubuhnya"
Kali ini setelah menggunakan tenaga dalam untuk menetralkan hawa panas di tubuh mereka Sepuluh Pendekar Taring Maut kembali menerjang ke arah Argadana dengan pola serangan teratur meskipun hawa panas di tubuh Argadana masih terasa sedikit menyengat.
Ctar...!!!
Lecutan cambuk Argadana membuat kacau pikiran Sepuluh Pendekar Taring Maut sehingga pola serangan yang telah mereka buat kini terpecah belah.
"Hiatt....!!!"
Argadana melompat ke belakang bersalto di udara berusaha tetap menjaga jarak.
"Jangan biarkan dia menjaga jarak. Cambuknya akan menyulitkan gerakan kita. Terus serang dengan jarak dekat" teriak Taring Satu namun terlambat.
Argadana telah berdiri dalam jarak yang cukup jauh dari Sepuluh Pendekar Taring Maut.
"Sebuah kehormatan bisa bertarung bersama kalian semua. Pertarungan ini kita akhiri saja di sini. .."
__ADS_1
Lecutan Api Kematian!!!
Cambuk Raja Naga di tangan Argadana terselimuti api yang merah membara.
Sepuluh Pendekar Taring Maut mengerutkan dahi mereka melihat keanehan pada cambuk itu.
"Lihat api...!!! Hiahhh...."
Argadana memberikan serangan balik yang cukup mengejutkan dan membuat Taring Lima terlambat bereaksi sehingga Cambuk Raja Naga yang dilambari Jurus Lecutan Api Kematian melabrak dadanya hingga berlubang. Taring Lima ambruk tanpa nyawa.
"Oh, tidak... Taring Lima...!!!"
Taring Satu berteriak menubruk saudara seperguruannya yang telah menjadi korban keganasan Cambuk Raja Naga di tangan Argadana itu. Hatinya begitu terpukul.
Demikian juga dengan anggota Sepuluh Pendekar Taring Maut yang lainnya. Mereka tidak dapat menahan kepedihan di hati mereka melihat kematian Taring Lima di depan mata mereka sendiri tanpa mereka dapat berbuat apa - apa.
"Kau terlalu kuat bahkan untuk kami hadapi bersama, anak muda. Kami mengaku kalah. Tetapi nyawa saudara kami yang telah terenggut tidak akan kembali meski kami menyudahi pertarungan. Jadi kami memutuskan untuk mengadu jiwa denganmu"
Taring Satu menoleh ke arah saudara seperguruannya yang lain dan mendapat anggukan.
Sembilan dari Sepuluh Pendekar Taring Maut yang masih hidup itu berbaris lurus di depan Argadana dengan kedua tangan terentang. Mulut mereka bergerak - gerak tanpa suara pertanda sedang membaca mantra untuk menggelar ilmu pukulan pamungkas mereka yang terkenal dengan nama Pukulan Taring Maut. Perlahan - lahan lengan kanan mereka berubah membiru dari ujung kuku hingga siku.
"Pukulan andalan... Baiklah, kita samakan jumlah dulu. Dan aku akan menghadapi kalian dengan Pukulan Naga Murka"
"Taring Satu dan saudara seperguruannya yang lain keheranan mendengar ucapan Argadana.
"Apa maksudnya menyamakan jumlah? Bukankah dia hanya sendiri?" batin Taring Tiga yang tidak dapat menyembunyikan keheranannya.
Para pendekar yang telah pasrah akan nyawa mereka itu bertanya - tanya dalam hati karena kebingungan. Tetapi tiba - tiba mata mereka melotot seakan hendak keluar dari kelopaknya. Taring Dua menggosok - gosok matanya beberapa kali untuk memastikan penglihatannya tidak salah.
__ADS_1