Ksatria Lembah Neraka

Ksatria Lembah Neraka
Bumi Terbelah Bala' Menimpa


__ADS_3

"Apa??? Bagaimana mungkin? Mereka bisa menggunakan ilmu yang jenisnya hampir sama seperti Ilmu Dewa Naga?" kejut Nila Sari.


Di hadapannya kini terlihat Argadana sebagian tubuhnya telah tertutupi semacam sisik yang mirip sisik ular berwarna merah bagai bara. Selain itu di sekujur tubuhnya berkobar api berwarna merah yang sangat panas.


Di samping Argadana Ningrum juga tidak berbeda jauh, hanya saja yang membedakan adalah warnanya putih kebiru - buruan memercikkan petir kecil yang menjalar di sekujur tubuhnya.


Widura dan yang lainnya tercengang melihat kejadian aneh tersebut.


Ya... Kedua pendekar muda dari Lembah Neraka itu memang telah menggunakan Ilmu Naga. Argadana menggunakan Ilmu Tubuh Raja Api Tingkat 1, sedangkan Ningrum menggunakan Ilmu Tubuh Guntur.


"Bersiaplah, dinda. Mereka juga menguasai ilmu yang hampir sama dengan kita" kata SurasenaSurasena mengingatkan Nila Sari.


Slapp....


Argadana dan Ningrum menghilang dari pandangan Pendekar Sejoli Pembunuh Naga dan tiba - tiba saja sudah berdiri tepat di hadapan mereka dalam jarak satu langkah.


Dess....


Tendangan Naga Api dan Tendangan Naga Petir milik Argadana dan Ningrum berhasil menggedor dada Pendekar Sejoli Pembunuh Naga yang terlambat bereaksi karena terkejut melihat perubahan gerakan kedua lawan mereka.


"Bangs4t.... Kalian bersiaplah untuk mati" teriak Surasena.


Uap hitam berbau amis mengepul dari kepalanya dan Nila Sari. Kini seluruh tubuh mereka dipenuhi racun ganas yang sangat mematikan.


Kembali mereka bertukar jurus dengan kecepatan seimbang karena telah sama - sama menggunakan kekuatan penuh. Ini merupakan pertarungan pertama yang dirasa paling berat oleh Argadana dan Ningrum, karena lawan ternyata memiliki ilmu yang hampir sama jenisnya dengan milik mereka. Meskipun tubuhnya kebal terhadap segala macam racun, tapi bau amis dari uap hitam di tubuh lawan membuatnya sedikit terganggu sehingga pemuda dari Lembah Neraka itu kehilangan fokusnya dan menerima tendangan beruntung dari Surasena. Tubuhnya terpental cukup jauh.


"Baiklah. Kali ini tidak perlu tanggung - tanggung lagi" kata Argadana.


Jurus Bulan Darah


Begitu jurus aneh itu dikerahkan Argadana, kabut warna merah memenuhi pandangan Surasena. Nila Saripun tak luput terkena imbas dari penggunaan Jurus Bulan Darah.

__ADS_1


Kali ini Pendekar Sejoli Pembunuh Naga itu tidak mau ambil resiko. Takut lawan masih memiliki ilmu aneh lain yang dapat mengimbangi, mereka kemudian mengeluarkan senjata masing - masing berupa pedang berwarna hitam pekat yang di bagian pangkal badannya terbentuk tiga lekukan seperti keris.


Dengan pedang di tangan, keduanya cukup yakin akan dapat mengalahkan kedua lawan berat mereka.


Argadana dan Ningrum juga ikut menghunus senjata mereka masing - masing begitu melihat lawan sudah mengeluarkan senjata.


Sring....


Di tangan Ningrum kini tergenggam Pedang Naga Guntur yang memercikkan petir - petir kecil di bagian badan pedangnya. Sementara itu Argadana telah menggenggam Cambuk Raja Naga yang memendarkan cahaya keemasan.


Hupp....


Trang....


Pedang Naga Hitam milik Nila Sari saling beradu dengan Pedang Naga Guntur Ningrum. Nila Sari terdorong mundur dengan tangan tergetar, Pedang Naga Hitam di tangannya nyaris terlepas dari pegangan jika tidak digenggam dengan erat.


Jurus Dewi Pedang Membelah Samudra


Nila Sari melakukan tebasan lurus dari atas ke bawah berusaha membelah tubuh sintal Ningrum, namun hanya dengan memiringkan sedikit tubuhnya gadis cantik berjuluk Dewi Pedang Guntur itu telah terhindar dari serangan ganas Jurus Dewi Pedang Membelah Samudra.


Kali ini serangan balasan Ningrum membuat Nila Sari kelabakan melayani tebasan Pedang Naga Guntur milik Ningrum.


"Sialan... Gerakan macam apa ini? Serangan nya seperti ombak, berat dan terus menerus" keluh Nila Sari dalam hati.


Trang...


Sekali lagi pedang keduanya beradu karena Nila Sari tidak dapat berkelit dari ujung pedang Ningrum. Nila Sari kembali terdorong ke belakang.


Ningrum tidak membiarkan begitu saja. Segera disusul nya Nila Sari yang tengah mengimbangi lontaran tubuhnya dengan sabetan miring yang menggores bagian bahunya karena Nila Sari menghindar dengan cepat. Akibatnya darah segar mengucur deras dari luka yang disebabkan oleh sabetan Pedang Naga Guntur.


"Sial... Tubuhku seperti tersengat petir setelah pedang pusaka itu menggores bahuku. Uhhh.... Panas sekali. Tampaknya kabut merah yang memenuhi sekeliling tempat ini sangat mempengaruhi pergerakanku. Apa ini sejenis sihir?" batin Nila Sari keheranan.

__ADS_1


Sementara itu pertarungan Argadana dan Surasena tampak sangat menegangkan. Surasena yang menggunakan pedang berjenis sama dengan istrinya tampak terus bergerak cepat berusaha mendekati Argadana yang memegang pusaka Cambuk Raja Naga.


Namun Nila Sari dapat melihat bahwa suaminya itu juga tampak terpengaruh oleh kabut merah yang membatasi penglihatan mereka. Gerakan secepat apapun akan tetap melambat jika masih dalam area jangkauan kabut merah.


Argadana terus memutar Cambuk Raja Naga yang menebarkan api berwarna keemasan yang terasa sangat panas menyambar - nyambar tubuh Surasena yang semakin terpojok. Baju mewah yang amat dibangga - banggakannya telah hangus terbakar dan hanya menampakkan bagian atas tubuhnya yang kekar berisi.


Tebasan Maut Dewa Naga


Karena kesal tidak dapat mendekati Argadana yang dilindungi api Raja Naga Surasena membuat gerakan menebas dari jarak jauh dengan Pedang Naga Hitamnya.


Wuss.....


Dari ujung pedang yang diayunkan Surasena tiba - tiba keluar seberkas cahaya berwarna hitam pekat melesat ke tubuh Argadana dengan kecepatan sulit diikuti mata.


Surasena tersenyum menyeringai membayangkan tubuh Argadana yang sebentar lagi akan terpotong - potong menjadi beberapa bagian setelah terkena Jurus Tebasan Maut Dewa Naga yang dilepaskannya dengan separuh dari tenaga dalamnya.


Namun senyumnya memudar saat melihat cahaya energi Pedang Naga Hitam hancur seketika setelah membentur ujung Cambuk Raja Naga.


Argadana yang melihat lawan sedikit lengah segera memanfaatkan kesempatan tersebut dengan melepaskan Jurus Naga Bersujud.


Bummm....


Ketika ujung Cambuk Raja Naga menghantam tanah di depan Surasena, terjadilah gempa yang cukup dahsyat. Akibat dari hujaman cambuk tersebut tanah di hadapan Surasena rengkah terbelah membentuk jurang dalam yang gelap bagai tanpa dasar. Rengkahan tanah tersebut terus melebar ke arah Surasena.


Jika lelaki dari Pendekar Sejoli Pembunuh Naga itu tidak cepat bereaksi, tentu saja dia akan mati tertelan oleh jurang yang tercipta akibat hujaman Cambuk Raja Naga itu.


Sejengkal lagi retakan tanah itu menghampiri Surasena, dengan cepat pemuja Naga Iblis itu melompat sejauh mungkin karena merasakan bahwa retakan tanah itu seolah seperti menyedot tubuhnya agar tertelan oleh jurang di hadapannya itu.


Bunyi dentuman keras dan gempa yang baru saja terjadi mempengaruhi Ningrum dan Nila Sari yang sedang bertarung. Kedua wanita itu menghentikan sejenak pertarungan mereka untuk melihat apa yang memicu gempa.


Nila Sari melengak menyaksikan keadaan suaminya yang sudah sangat mengenaskan. Terlihat wajah Surasena pucat pasi, sementara di badannya tampak melepuh karena menderita beberapa luka bakar karena sambaran api dari Cambuk Raja Naga. Sisik sisik Naga Iblis di tubuhnya telah banyak yang terkelupas karena tersabet Cambuk Raja Naga.

__ADS_1


"Ihhh.... Ilmu Iblis macam apa yang dipelajari anak itu? Tanah bahkan terbelah begitu" kejut Nila Sari.


Melihat keadaan suaminya yang begitu memprihatinkan, wanita itu segera melesat menghampiri suaminya yang belum terbebas dari rasa terkejutnya.


__ADS_2