
Sehari setelah peperangan antara Kerajaan Datu Gumi melawan Kerajaan Sakra berakhir, peperangan antara aliran hitam dan putih juga selesai dengan terbunuhnya para anggota - anggota inti aliran hitam di tangan Sepuluh Penjaga Anak Naga. Ditambah lagi dengan terbunuhnya Singa Maruta di tangan Anung Pramana dan juga La Huda alias Ki Wisanggeni yang tewas setelah menghadapi Argadana membuat perlawanan aliran hitam menjadi melemah dan mereka akhirnya melarikan diri dengan memasuki hutan - hutan lebat.
Sementara itu di Kerajaan Sakra sendiri telah terjadi perpecahan yang disebabkan oleh pemberontakan yang dilakukan oleh Pangeran Senda, adik kandung Raja Durja.
Sang pangeran yang beralasan bahwa ambisi Raja Durja yang terlalu berlebihan itu secara perlahan - lahan akan membawa kehancuran bagi Kerajaan Sakra.
Akhirnya setelah mendapatkan persetujuan dari semua petinggi - petinggi kerajaan, Pangeran Senda berhasil menggulingkan kekuasaan Raja Durja sekaligus memenjarakan kakak kandungnya itu beserta seluruh keluarganya tidak terkecuali Pangeran Damar Sena sendiri.
***
Dua bulan kemudian Kerajaan Datu Gumi mengadakan pesta besar pernikahan antara putri Kerajaan Datu Gumi yaitu Putri Mandalika dengan Panglima Besar Lalu Askar Wirajaya.
Pesta itu dihadiri oleh banyak bangsawan dan para raja dari berbagai kerajaan, termasuk salah satunya adalah Kerajaan Sampang Daru. Hari itu Raja Kurawa datang secara langsung untuk menghadiri pesta tersebut dengan didampingi Permaisuri Ratu Malini bersama Pangeran Handra Wiraguna dan Putri Ningrum.
"Kami sekeluarga mengucapkan selamat kepada Raja Sangkala yang sudah mendapatkan menantu yang amat setia dan berjasa pada negaranya beserta kedua mempelai. Semoga pernikahan kedua mempelai tetap langgeng selamanya. Dan semoga kalian cepat mendapat momongan..." kata Raja Kurawa tersenyum seraya menyerahkan bingkisan berisikan sebuah hadiah untuk ucapan selamat kepada kedua mempelai, Putri Mandalika dan Panglima Askar.
"Merupakan kehormatan bagi kerajaan kami karena kedatangan tamu agung Raja Kurawa dari Kerajaan Sampang Daru" menjawab Raja Sangkala.
"Ahh... Terimakasih banyak atas kesediaan Yang Mulia Raja Kurawa yang telah menyempatkan diri untuk menghadiri pesta pernikahan kami. Terlebih lagi ketika perang melawan Kerajaan Sakra waktu itu Putri Ningrum juga ikut membantu menghadang pergerakan aliran hitam yang ikut terjun membantu Kerajaan Sakra untuk menggempur pasukan kami" jawab Panglima Besar Askar malu - malu.
"Hehehe... Tidak usah sungkan begitu, Tuan Panglima. Begini - begini juga kan kita adalah calon besan..." celetuk Ratu Malini.
"Ibu..."
Ningrum yang mendengar ucapan ibunya hanya menegur pelan saja namun tidak berkata apapun lagi. Dia hanya tertunduk dengan wajah bersemu merah menahan malu namun tidak dapat memungkiri perasaan senangnya. Sementara itu Argadana yang berdiri di samping Sang ayah tepat berhadapan dengan Ningrum juga ikut merasa jengah.
"Ahemm.... Mungkin memang sudah saatnya putra - putri kita memikirkan masa depan mereka. Yahh... Lagi pula kami juga sudah sejak lama ingin segera menimang cucu" tambah Raja Kurawa.
"Yunda... Kenapa wajah Yunda memerah begitu? Apakah Yunda merasa panas? Bukankah ruangan ini cukup sejuk?" ejek Handra Wiraguna tersenyum nakal.
"Kau mau merasakan pedangku, Handra?" gertak Ningrum yang seketika itu juga membuat Handra Wiraguna menutup mulutnya.
"Yunda tidak bisa diajak bercanda. Baru begitu saja sudah main pedang" gerutu Handra Wiraguna dalam hati.
"Ahh... Sudah - sudah... Nak Argadana, kau bawalah teman - temanmu berkeliling. Anak - anak muda sebaiknya tidak ikut mengobrol dengan orang tua kan?"
***
__ADS_1
Argadana membawa Ningrum dan Handra Wiraguna bergabung dan mengobrol bersama Sembilan Pendekar Naga lainnya sekalian untuk memperkenalkan Wiraguna.
Mereka membicarakan tentang pengalaman - pengalaman mereka ketika pertama kali bertemu dengan roh pusaka mereka masing - masing. Sekumpulan pendekar muda itu tertawa riang.
Hanya Yalina saja yang sejak tadi menampakkan wajah cemberut. Ya hal itu tiada lain adalah karena dia melihat Ningrum selalu menempel pada Argadana seakan tidak mau melepaskannya walau sejengkal pun. Hal itu membuatnya kesal bukan main terlebih Naga Racun yang dimintai solusinya bagaimana cara untuk mendekati Argadana justru hanya acuh - acuh saja.
"Lihat saja nanti... Aku pasti akan mendapatkanmu, kakang Argadana" batin Yalina kesal.
"Ha... Nona cantik... Wajahmu dari tadi kelihatan cemberut terus... Hati - hati nanti jadi cepat tua"
Handra Wiraguna yang melihat ada raut kecemburuan terpancar di wajah Yalina jadi kumat sifat urakannya. Dari situ timbullah niat untuk mengerjai nona cantik yang satu ini.
Sementara Yalina yang memang sedang emosi menimpakan kekesalannya pada Handra Wiraguna yang kebetulan sengaja ingin mengerjainya itu.
"Dasar... Mau kupanah dengan panah racunku?" kata Yalina dengan nada sedikit meninggi dan mata melotot membuat Handra Wiraguna jadi mengkeret ngeri.
"Sudah... Sudah... Kau harus belajar menghilangkan sifat urakanmu itu, Handra. Jangan buat lidahmu terlalu tajam, agar nanti tidak melukai dirimu sendiri"
Ningrum yang melihat perdebatan kecil itu segera melerai. Di saat itulah Naga Guntur merasa perlu memberitahu Ningrum akan hal apa yang membuat Yalina jadi tampak tidak terkendali emosinya.
"Benar, putri. Tuan memiliki identitas lain yang belum putri ketahui, dan saya tidak memiliki hak untuk memberitahu hal ini. Tetapi jika putri bersedia menerima gadis racun itu menjadi istri tuan yang kedua, mungkin tuan akan mempertimbangkan untuk memberitahu nona tentang silsilah garis keluarga dari ibunya" kata Naga Guntur dalam pikiran Ningrum.
"Hmm... Meskipun aku akan lebih suka memiliki kakang Argadana seorang diri tapi aku tidak keberatan kakang Argadana memiliki istri lebih dari satu asalkan dia bisa berbuat adil. Tapi aku tidak tahu apakah Yalina akan bersedia menerima posisinya yang hanya menjadi istri kedua?" jawab Ningrum bijak.
"Dia tidak bisa menolaknya, putri. Dia sudah menerima persyaratan dari Naga Racun. Dan waktu itu dia sempat ragu, tetapi setelah bertemu tuan dalam peperangan itu dia tampaknya sudah mulai menyukai tuan"
"Baiklah... Baiklah... Aku akan coba berbicara dengan mereka"
Ningrum kemudian mengajak Argadana dan Yalina dalam obrolan yang terpisah. Yalina dan Argadana mengikutinya dengan hati berdebar. Setelah sampai di tempat yang sedikit sepi mereka bertiga lalu berhenti.
Ningrum menatapi Argadana dan Yalina secara bergantian untuk menenangkan gemuruh di hatinya. Yaa... Memang. Wanita mana yang mau berbagi kasih dengan orang lain? Ningrum pun juga demikian.
Dia tidak akan bisa merelakan Argadana untuk Yalina meskipun dia tetap menjadi wanita pertama Argadana. Akan tetapi keingintahuan Ningrum akan jati diri Argadana yang sebenarnya membuat gadis itu tabah untuk mencoba menerima Yalina sebagai istri kedua Argadana jika mereka memang saling menyukai.
"Ada apa ini, dinda?" tanya Argadana dengan perasaan was - was sementara Yalina hanya menundukkan wajah sambil memain - mainkan jarinya.
"Sekarang kita berada di tempat yang sepi. Aku ingin kalian menjawab semua pertanyaanku dengan jujur"
__ADS_1
Ningrum berhenti sebentar untuk melihat reaksi Argadana dan Yalina.
"Kakang... Dan kau, Yalina. Katakan dengan jujur, apakah kalian berdua saling menyukai?"
Pertanyaan Ningrum bagai petir meledak tepat di telinga Argadana dan Yalina membuat keduanya terbatuk - batuk karena terkejut dengan pertanyaan Ningrum yang tiba - tiba itu.
"Eh... Apa maksudnya ini, Dinda? Coba jelaskan padaku?"
"Ii... Iya, Ningrum. Aku ... Aku juga tidak mengerti" jawab keduanya terbatas - bata.
"Sudah... Jawab saja dulu pertanyaanku. Dan ingat, jangan ada yang ditutup - tutupi" ancam Ningrum menggenggam gagang pedang Naga Guntur.
"Aiiss.... Dia benar - benar serius kali ini" batin Argadana serba salah.
"Ehm... Ba.. Baiklah... Aku akan jujur. Aku tidak tahu apakah ini merupakan perasaan suka atau tidak. Hanya saja setiap kali aku melihat mata Yalina, aku selalu merasa kalau aku sedang memandang dirimu"
"Lalu bagaimana denganmu, Yalina?" kata Ningrum menoleh ke arah Yalina dengan tatapan tajam menusuk.
Yalina hanya merunduk dengan wajah merah menahan debaran kencang di dadanya karena dia mengerti bahwa ternyata Argadana pun juga memiliki perasaan yang sama terhadapnya.
Akan tetapi Yalina merasakan dilema di hatinya. Di satu sisi dia ingin mengakui bahwa dia juga mencintai Argadana, namun suatu pikiran terbersit di kepalanya. Apakah nanti Ningrum akan mengamuk jika dia tahu bahwa Argadana menyimpan perasaan terhadap gadis lain selain dirinya? Hal itu memang diketahui betul oleh Yalina, sebagai seorang wanita mana ada yang rela membagi kasih dengan wanita lain.
"Ahh... Soal Ningrum mau Terima atau tidak nanti saja kupikirkan. Lagipula dia juga yang bertanya lebih dulu" batin Yalina.
"Ehh... Iy.. Iya..."
"Iya apa?" bentak Ningrum cukup keras.
"Ahh... Anu... Ee... Aku... Aku juga menyukai kakang Argadana... Sejak pertama kali bertemu, aku sudah menyukainya. Emm... Maaf, aku tak bisa mengendalikan hatiku untuk tidak mencintainya"
Yalina tertunduk dengan jantung berdegup semakin kencang menunggu reaksi Ningrum setelah mendengar jawabannya.
Namun bukannya mengamuk seperti yang dibayangkan Yalina, Ningrum justru tersenyum dan merangkulnya. Sontak saja Argadana dan Yalina terkejut bukan main melihat reaksi Ningrum yang sangat berbeda dari yang dibayangkannya.
"Ehh...?" kejut Yalina.
"Kelak kau akan menjadi adikku.. Jadilah istri kedua kakang Argadana. Tapi, kakang... Kau harus berbuat adil pada kami nantinya yahh... Jika tidak... " Ningrum memberikan tatapan mengancam sambil menggenggam kembali gagang pedang Naga Guntur di punggungnya.
__ADS_1