Ksatria Lembah Neraka

Ksatria Lembah Neraka
Raja Teluh


__ADS_3

Ayam berkokok menyambut subuh yang masih diterangi bulan. Di luar Kota Shinshiro sebelah utara di tepi Danau Tsukoya seorang pria tengah berjalan tertatih - tatih melewati jalan setapak yang menuju perkampungan Kunori. Lelaki itu berpakaian serba hitam dan seluruh kepalanya tertutup kain hitam hingga yang terlihat hanya kedua bola matanya saja.


Penutup wajah di bagian mulutnya tampak basah oleh sesuatu. Darah menetes - netes dari tangan kirinya. Sebentar - sebentar dia terbatuk - batuk menutup mulutnya dengan tangan kanan yang ikut basah juga karena menyentuh kain penutup wajah tersebut yang ternyata basahnya adalah karena darah.


Orang itu tidak lain adalah Zatou Natsu pemimpin organisasi pembunuh bayaran terkuat di Kota Shinshiro. Dia malam tadi bersama delapan orang murid pribadinya menyelinap secara diam - diam ke Perguruan Elang Emas. Tujuan mereka adalah untuk membalas dendam kematian sahabatnya, Tokugawa Chirou.


Akan tetapi rencana itu harus ditelan mentah - mentah karena Argadana keburu menyadari suara pergerakan yang amat halus di atas atap kediamannya. Akhirnya Argadana keluar dan memancing mereka memasuki hutan.


Pertarungan pun terjadi di dalam hutan itu yang berakhir dengan Zatou Natsu yang terluka parah setelah berbenturan dengan Argadana yang menggunakan Ilmu Pukulan Gugur Gunung. Zatou Natsu akhirnya melarikan diri setelah dengan terpaksa membunuh delapan muridnya untuk menjaga rahasia.


Zatou Natsu terus berjalan menyusuri jalan setapak itu dengan sesekali batuk darah. Dengan tubuh lemah, dia akhirnya sampai di sebuah gubuk tua yang terpencil jauh dari perkampungan.


"Kau sudah sangat lama tidak menyambangi diriku, Zatou. Masuklah..."


Belum sempat Zatou Natsu mengetuk pintu gubuk tersebut sebuah suara serak terdengar dari dalam mempersilakan nya masuk.


Ruangan di dalam gubuk tua tersebut dipenuhi bau dupa yang setiap saat dinyalakan oleh pemilik gubuk tersebut.


Banyak terdapat benda - benda aneh yang sengaja dikumpulkan untuk dijadikan barang antik.


Zatou Natsu saat ini tengah duduk berhadapan dengan seorang lelaki berusia sekitar lima puluh tahun. Mata lelaki tua itu yang sebelah kanan ditutupi bahan yang terbuat dari kulit karena buta sedangkan mata kirinya terlihat bekas luka memanjang hingga ke pipi. Yang paling menyeramkan dari penampilan orang itu adalah seekor ular kobra melingkar hidup di lehernya siap mematuk siapa saja yang dikehendaki tuannya.


Di antara orang itu dengan Zatou Natsu terdapat sebuah meja panjang berisi sebuah baki berisikan air bunga tujuh warna. Di samping baki tersebut terdapat sebuah boneka terbuat dari kain yang tampak sedikit menyeramkan.


Ya... Orang yang ditemui Zatou Natsu adalah sahabatnya yang bergelar Raja Teluh. Pria tua satu ini sudah tidak lagi ada yang mengenal namanya, bahkan dirinya sendiripun sudah tidak ingat siapa nama sebenarnya. Orang - orang dunia persilatan biasa menjulukinya Raja Teluh karena kehebatan ilmu hitamnya yang sangat terkenal.


Raja Teluh memang adalah seorang penganut ilmu Hitam yang berhati keji. Dengan ilmunya itu dia tidak akan segan membunuh orang yang tidak disukainya dari jarak jauh, tanpa menyentuh, tanpa jejak.


"Ada apa kali ini kau menemuiku, Zatou? Dan... Kau tampaknya terluka dalam cukup parah. Siapa orangnya di Kota Shinshiro yang bisa melukaimu sampai separah itu?" tanya Raja Teluh.


"Jahanam...!!! Semalam aku bersama delapan muridku menyambangi sebuah perguruan baru yang dibentuk oleh salah satu anggota klan Nakamura. Perguruan itu diberi nama Perguruan Elang Emas. Perguruan itu dibentuk tepat setelah perang antara klan Nakamura dan Tokugawa dimenangkan oleh klan Nakamura. Seluruh anggota klan tewas, termasuk sahabatku Tokugawa Chirou. Uhukk... Uhukk...!!!" Zatou Natsu kembali batuk darah.


"Lalu apa hubungannya dengan lukamu? Tidak mungkin orang dari klan Nakamura bisa melukaimu separah itu kan?" kata Raja Teluh sembari menyodorkan sebuah pil berwarna hitam kemerahan yang langsung diambil dan ditelan oleh Zatou Natsu.


Sesak di dada Zatou Natsu sedikit berkurang setelah meminum pil penyembuh luka dalam dari Raja Teluh. Dia lalu melanjutkan penjelasannya.


"Aku tidak bertarung dengan orang klan Nakamura"


"Lantas dengan siapa kau bertarung?

__ADS_1


"Di perguruan itu tinggal beberapa orang asing. Mata - mataku mengatakan bahwa Tokugawa Chirou terbunuh oleh salah satu dari mereka. Aku kesana untuk membalas dendam tapi kepergok oleh salah satu orang asing itu. Dia memancingku ke tengah hutan dan kami bertarung di sana. Orang itu ternyata sangat kuat. Dia menguasai ilmu totokan aneh dari daratan tenggara yang membuat tubuh delapan muridku kaku tidak dapat bergerak. Aku menggunakan Pukulan Tinju Raja untuk menghantamnya, tapi justru aku yang terluka parah hingga terpaksa melarikan diri setelah membunuh delapan muridku untuk menjaga rahasia" kata Zatou Natsu menjelaskan panjang lebar.


Raja Teluh tampak merenung sebentar memegang janggutnya yang tumbuh tipis.


"Hmm... Biar kulihat tanganmu yang berbenturan dengan pukulannya...!!!"


Zatou Natsu menyodorkan tangan kirinya. Raja Teluh memeriksa kondisi nadi di tangan kiri Zatou Natsu dengan dahi berkerut.


"Ilmu Pukulan Gugur Gunung...!!!" desis Raja Teluh tanpa sadar dengan tubuh gemetar.


"Ada apa, Raja Teluh? Kau mengenal pukulan yang digunakan anak muda itu?" tanya Zatou Natsu penasaran.


"Ilmu pukulan itu adalah salah satu ilmu yang paling diandalkan oleh musuh bebuyutan mendiang guruku, Dewa Kutukan dari Jurang Naga" kata Raja Teluh menghela nafas dalam.


"Dulu guruku bertarung hidup mati dengan pendekar berjuluk Pendekar Cambuk Naga itu. Guruku kalah. Beliau lalu melarikan diri sampai kemari dan tidak pernah kembali ke daratan tenggara hingga saat kematiannya"


Raja Teluh menceritakan tentang peristiwa besar yang terjadi puluhan tahun yang lalu. Ketika itu seorang pendekar aliran hitam bernama Simba Mayora memiliki ilmu teluh yang sangat keji.


Siapa saja yang menyinggung perasaannya pasti akan mati mengenaskan tanpa diketahui penyebabnya.


Hal itu lambat laun menumbuhkan sifat sombong di hati Simba Mayora, sehingga dia bertekad untuk menantang semua pendekar tingkat tinggi untuk bertarung hidup dan mati.


Bertahun - tahun pendekar keji berjuluk Raja Kutukan dari Jurang Naga itu malang melintang di dunia persilatan membunuhi para ahli - ahli tingkat tinggi baik dari aliran hitam maupun putih sehingga bahkan aliran hitampun enggan mengakui bahwa orang tersebut beraliran yang sama dengan mereka.


"Ada apa tuan mendatangi tempat kediaman saya?" tanya sang pendekar dengan wajah ramah dan senyum yang tak lepas dari bibirnya.


"Hmph... Tidak usah berbasa - basi. Aku Dewa Kutukan dari Jurang Naga. Aku banyak mendengar orang - orang membicarakan tentang ilmu kesaktianmu yang sangat tinggi. Jadi aku kemari untuk menantangmu bertarung hidup mati untuk membuktikan siapa yang paling kuat di antara kita" kata Simba Mayora dengan angkuhnya.


Yang ditantang hanya tersenyum saja dan sedikit menggeleng - gelengkan kepalanya.


"Pertarungan tidak pernah membawa sesuatu yang baik jika didasari dengan niat yang buruk. Bagaimana kalau saya menyerah saja? Dan tuan bisa mengumumkan kepada dunia bahwa tuan telah mengalahkan saya. Jadi dengan begitu tuan bisa dianggap lebih sakti daripada saya" kata Pendekar Cambuk Naga mengusulkan.


"Tidak bisa... Hanya ada dua akhir, hidup dan mati dalam pertarungan ini. Jika kau ingin menyerah maka serahkan juga kepalamu untuk kujadikan barang bukti atas kemenangan ku darimu"


"Hmm...!!! Aku sebelumnya hidup dengan tenang di kediamanku ini sampai hari ini kau tiba - tiba datang dan menantangku bertarung hidup dan mati" kata Pendekar Cambuk Naga dingin. Matanya berkilat dipenuhi kemarahan. Tidak ada lagi sikap hormat yang tadi diperlihatkannya.


"Apa kau fikir mengalahnya aku itu berarti aku takut padamu? Tapi baiklah, karena kau begitu penasaran dengan kemampuanku. Aku akan memenuhi hasratmu"


Setelah keduanya bersiap memasang kuda - kuda kokoh Simba Mayora menghantamkan tangan kanannya ke muka.

__ADS_1


Seberkas sinar berwarna hijau kehitaman melesat ke arah Pendekar Cambuk Naga membawa kesiur angin yang bukan main panasnya.


Pendekar Cambuk Naga membuang tubuhnya sehingga angin panas tersebut lewat di samping tubuhnya dan menghantam rumahnya hingga hancur berantakan.


Kedua orang yang bertarung sama - sama terkejut. Pendekar Cambuk Naga terkejut karena kekuatan pukulan dan tenaga dalam lawan sangat hebat, sedangkan Simba Mayora terkejut karena tidak menyangka bahwa lawannya dapat menghindari pukulannya hanya dengan membuang tubuhnya ke samping.


Karena penasaran Simba Mayora kembali melancarkan pukulan yang sama. Jika tadi hanya dengan sepertiga tenaga dalamnya, kali ini dia menggunakan setengahnya namun sekali lagi Simba Mayora dibuat hemas karena Pendekar Cambuk Naga masih dapat menghindari serangannya.


"Hiaaattt....!!!"


Dengan kemarahan meluap - lupa Simba Mayora bergerak secepat kilat. Lima jarinya bergerak mencengkram ke arah muka.


Pendekar Cambuk Naga mengeluarkan bentakan nyaring menghindar ke samping kanan lalu balas menyerang dengan menghantamkan tangan kiri.


Simba Mayora sangat terkejut dengan gerakan cepat Pendekar Cambuk Naga segera menggunakan tangan kanan untuk memapak serangan tersebut namun tak urung tubuhnya terdorong mundur sejauh dua langkah. Keringat dingin memercik dari dahi Simba Mayora.


"Sial... Setan satu ini ternyata memiliki ilmu tinggi juga" batin Simba Mayora.


Dia merubah pola pergerakannya. Kali ini dia mengeluarkan senjata pusaka andalannya berupa sebatang pedang panjang yang memancarkan cahaya kuning menebar bau amis, racun.


"Keluarkan senjatamu. Aku tidak ingin dikatai orang kejam karena membunuh orang yang tak bersenjata" katanya masih dengan nada sombong.


"Kalau begitu maumu, maka aku akan memenuhi keinginanmu"


Pendekar Cambuk Naga lalu mengeluarkan sebatang cambuk yang berwarna kuning keemasan mengobarkan api yang panasnya menjangkau jarak sepuluh batang tombak.


"Huh... Aku ingin lihat apakah cambukmu atau pedangku yang kuat. Bersiaplah, lihat pedang...!!!"


Simba Mayora menyerang Pendekar Cambuk Naga dengan sebat. Tebasan dan tusukan mengancam tubuh Pendekar Cambuk Naga yang segera melompat cukup jauh untuk menjaga jarak.


Ketika jarak keduanya cukup jauh, Pendekar Cambuk Naga memutar senjata pusakanya yang telah dialiri tenaga dalam tinggi membentuk dinding tak kasat mata di sekitar tubuh Pendekar Cambuk Naga.


Api seketika menyambar kesana kemari menghanguskan pohon - pohon di sekitar kaki Gunung Rinjani.


Simba Mayora yang kerepotan untuk bertahan dari serangan ganas Pendekar Cambuk Naga wajahnya pucat pasi mengetahui bahwa sebagian pakaiannya telah hangus terbakar. Hal itu membuatnya lengah dan tanpa sadar membuka satu celah di dada kirinya.


Pendekar Cambuk Naga yang bermata jeli itu dapat melihat bagian yang lowong di tubuh lawannya. Diayunkannya cambuk pusaka itu melecut dada kiri Simba Mayora.


Karena Pendekar Cambuk Naga mengaliri lebih dari setengah bagian tenaga dalamnya ke dalam cambuk tersebut begitu cambuk melecut dada, Simba Mayora terlempar sejauh puluhan tombak dan baru berhenti setelah menabrak sebatang pohon pinus. Simba Mayora memuntahkan darah segar beberapa kali.

__ADS_1


"Sial... Luka ini terlalu parah. Aku tidak mungkin bisa mengalahkannya. Aku harus lari, sebelum orang itu sampai kemari dan menemukan aku dalam keadaan terluka parah"


Akhirnya Simba Mayora melarikan diri jauh. Karena takut Pendekar Cambuk Naga masih menyimpan dendam dia lalu memutuskan untuk mengasingkan diri menyeberangi lautan hingga seorang samurai pengembara menemukannya yang pingsan di dekat pantai. Simba Mayorapun mengikuti samurai pengembara itu sampai ke Negeri Sakura.


__ADS_2