
"Kidung Malam!!!"
Yalina bergerak lincah menghindar dan berkelit dari serangan kedua tinju manusia raksasa yang berseliweran mengancam titik - titik terlemah di tubuhnya.
Anehnya setiap pukulan maupun tendangan yang diluncurkan raksasa itu selalu saja berhasil dihindari istri kedua Argadana itu yang tubuhnya terlihat ringan bagai kapas yang melayang setiap kali serangan raksasa hampir mengenai sasaran.
Itulah kehebatan 'Jurus Kidung Malam' yang diajari Pemanah Agung pada muridnya, Yalina. Jurus ini menekankan pada ilmu meringankan tubuh yang telah mencapai kesempurnaan dan juga persepsi yang tinggi untuk melihat jurus lawan. Sebagai hasilnya tubhh Yalina seperti mengikuti alur jurus yang dikeluarkan manusia raksasa.
Telah belasan jurus berlalu raksasa menggerung marah karena merasa dipermainkan oleh lawan yang hanya menghindari saja serangannya tanpa membalas.
"Hiaaattt!!!"
Setelah mengeluarkan bentakan nyaring raksasa bertubuh tinggi besar itu melompat bagaikan terbang. Besar tubuhnya seperti tidak mempengaruhi gerakannya. Ini merupakan tanda bahwa ilmu meringankan tubuhnya telah sempurna.
Yalina mengangkat kepalanya mendongak ke atas. Dilihatnya raksasa lawannya sedang dalam posisi kepala di bawah, tubuhnya menukik tajam. Jari jemarinya terkembang lebar bersiap menggepruk pecah kepala Yalina.
Lagi - lagi keunikan 'Jurus Kidung Malam' membantu Yalina lolos dari serangan maut lawan. Akan tetapi kali ini wanita cantik itu terkesiap mana kala dilihatnya lawan menyusul dengan tendangan tajam kembali mengancam batok kepalanya dalam keadaan tubuh terbalik di udara.
Jurus kidung malam tak dapat membantu banyak kali ini karena memang serangan dari atas adalah kelemahannya.
'Jurus Jemari Dewi Sutra'
Akhirnya dengan mengerahkan sepertiga bagian dari tenaga dalamnya Yalina memapak serangan tersebut dengan jurus tingkat tinggi yang telah didalaminya dengan sempurna.
Ibu jari, jari manis dan kelingking ditekuk sedangkan jari telunjuk dan jari tengah tegak kokoh menusuk persendian pergelangan kaki yang mengancam pecah kepalanya.
Raksasa yang dilawan Yalina jatuh bergulingan di tanah berusaha menjauh dari jangkauan serangan Yalina dan berdiri kembali bersiap mengeluarkan jurus pertahanan. Tetapi malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih.
Kaki kanan yang terkena tusukan 'Jemari Dewi Sutra' seperti kehilangan tulangnya. Karena sebelah kakinya tak lagi dapat digunakan raksasa itu berdiri dengan hanya bertumpu pada kaki kiri. Ia tak mengerti jurus apa yang dikeluarkan musuhnya yang dapat memberikan dampak mengerikan seperti yang dialaminya saat ini.
"Kau tidak akan bisa meladeni seranganku selanjutnya dengan sebelah kaki lumpuh seperti itu" kata Yalina yang hanja dijawab dengan geraman marah saja.
"Yang lain juga rupanya sudah selesai!!!" kata Yalina bergumam sendiri.
'Tamparan Pelebur Sukma'
Begitu raksasa pincang menerjang ke arahnya dengan tinju Yalina tanpa segan menyambut dengan telapak tangan yang telah berubah warna menjadi hijau karena pengerahan sebagian besar tenaga dalamnya.
"Plak...!!!"
Telapak tangan kiri Yalina menepis tinju yang diluncurkan lawannya. Gerakan Yalina tidak hanya sampai di situ saja. Usai membelokkan arah serangan raksasa tersebut tangan kanannya bergerak bebas menerobos perut raksasa tersebut.
"Dess...!!!"
"Aarggghh...!!!"
__ADS_1
Setelah terkena luka berat akibat 'Tamparan Pelebur Sukma' tubuh raksasa itu tiba - tiba mengecil sampai ke ukuran tubuh manusia biasa. Wujud asli raksasa tersebut ternyata merupakan seorang pria berbadan kekar berkulit kehitaman. Ia meraung kesakitan.
Yalina merasa iba melihat penderitaan yang dialami pria itu. Matanya terpejam dengan mulut bergerak - gerak membaca mantra ilmu pamungkasnya yang diajarkan Pemanah Agung sementara telapak tangan kanannya di angkat ke depan menutupi sebagian wajah menawannya.
Beberapa detik kemudian jari tengah dan telunjuk Yalina memancarkan cahaya terang berwarna kuning keemasan. Saat kedua jemari lentik itu ditempelkan dengan ibu jari membentuk lingkaran kecil asap dingin perlahan - lahan mengepul.
"Jentikan Serat Dewi!!!"
Yalina menjentikkan jari tangannya ke arah manusia raksasa yang telah menyusut tubuhnya. Cahaya kuning panjang yang terlihat seperti serat keluar dari celah antara jari tengah dan jari telunjuk Yalina menebarkan bau darah yang menyengat. Serat kuning itu kemudian melilit tubuh lawan Yalina tadi.
"Duaarr!!!"
Tubuh target Yalina meledak dan hancur seketika setelah terlilit serat kuning tersebut.
"Kekuatan yang besar akan memberimu tanggung jawab yang juga besar. Jika kekuatan itu kau gunakan untuk kerusakan dan menabur dendam di mana - mana, akan ada saatnya kehancuran datang bertandang" kata Yalina berbicara pada dirinya sendiri. Murid Pemanah Agung itu lalu berkelebat ke arah tempat mereka berkumpul tadi.
***
"Trang...!!! Trang!!!"
Adu senjata tombak dan katana antara Ling Yun dan Fudo Kiyomasa terjadi beberapa kali. Dan setiap kali terjadi adu senjata tangan Fudo Kiyomasa selalu tergetar hebat. Beruntung katana digenggam dengan kedua tangannya dengan erat sehingga senjata andalannya tidak terlepas.
'Menerpa Badai Prahara'
Serangan demi serangan yang dilancarkan Ling Yun semakin lama semakin gencar membuat Fudo Kiyomasa keteteran.
Ling Yun berseru nyaring menggenjot tubuhnya melayang bagai burung walet. Gerakan itu sangat cepat sehingga Fudo Kiyomasa sedikit kesulitan untuk mengikutinya.
Wajahnya mendadak pucat berkeringat dingin saat merasakan angin kencang menerpa ubun - ubun kepalanya. Kalau suasana gelap malam tidak membatasi pandangan tentu akan terlihat bagaimana wajah Fudo Kiyomasa yang pucat bagai mayat.
Serangan Ling Yun itu tidak mungkin bisa ditepisnya sehingga ia hanya bisa membuang tubuhnya menjauh dari jangkauan serangan. Cepat - cepat Fudo Kiyomasa berdiri untuk berjaga dari serangan susulan namun ternyata Ling Yun tidak memanfaatkan kesempatan saat dia bergulingan untuk melancarkan serangan mematikan.
"Bangsat!!! Anak ini tenaganya seperti kuda. Raksasa - raksasa itu juga tidak ada yang berguna. Badannya saja yang besar. Sial..." dalam hati Fudo Kiyomasa mengumpat kesal mengetahui kekuatan lawan berada di atasnya.
"Meneruskan pertarungan dengan anak ini tidak akan berakhir baik, terlebih kalau teman - temannya ikut membantu. Aku harus kabur!!!" Fudo Kiyomasa mulai menyapu pandang ke kiri dan kanan mencari celah untuk meelarikan diri.
Bertepatan dengan itu Yalina baru saja muncul menyusul tujuh orang lainnya yang sudah terlebih dahulu menyelesaikan pertarungannya.
Wajah Fudo Kiyomasa berseri cerah melihat kesempatan untuk melarikan diri datang padanya sehingga pada saat Ling Yun datang dengan ayunan Tombak Pemburu Arwah dari arah samping kiri samurai tua itu segera melakukan gerakan menangkis dengan mengerahkan seluruh tenaga dalamnya. Akibatnya...
"Trang...!!!"
Fudo Kiyomasa memanfaatkan daya dorong dari benturan senjata tadi untuk menjauhkan diri dari Ling Yun dan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya ke arah Yalina untuk melakukan penyergapan. Fudo Kiyomasa berencana ingin menggunakan Yalina sebagai sandra untuk mendapatkan peluang melarikan diri. Pria tua itu melebarkan senyumnya mengira bahwa rencana melarikan dirinya telah sempurna.
Jendral Thalaba melihat Fudo Kiyomasa dengan sengaja mendekati Yalina membelalakkan mata ngeri.
__ADS_1
"Hooyyy... Bodoh!!! Jangan kesana!!!" teriak Jendral Thalaba tetapi teriakannya hanya dibalas dengan senyum mengejek Fudo Kiyomasa.
Ling Yun sama cemasnya dengan Jendral Thalaba. Hanya saja kalau Jendral Thalaba mengkhawatirkan keselamatan Samurai Perak Sesat sedangkan Ling Yun khawatir Yalina akan dicelakai oleh lawan tandingnya itu.
"Hmphh... Kau fikir aku bodoh, untuk bertarung terus dalam keadaan tidak menguntungkan seperti ini? Gadis ini akan kujadikan sandra untuk melarikan diri" kata Fudo Kiyomasa dalam hati. Tetapi sejengkal lagi tangannya meraih tubuh Yalina senyumannya menguap seketika.
"Haisss.... Dia memang bodoh!!!" kata Jendral Thalaba menepuk keningnya sendiri.
Ling Yun hendak melompat memotong pergerakan Fudo Kiyomasa namun niat tersebut dibatalkannya karena ...
"Brukkk!!!"
Tubuh Samurai Perak Sesat itu terjatuh dan berguling di tanah dengan mulut mengalirkan darah dari sudut bibirnya. Sementara di beberapa bagian tubuhnya mengepulkan asap berhawa panas, melepuh.
"Aapp.... Apa yang terjadi? Sejak kapan aku terkena ra... racun?" kata Fudo Kiyomasa terputus - putus saat merasakan sekujur tubuhnya mulai terasa gatal.
Wajah Yalina tampak mengelam. Wanita cantik itu mendengus kasar sebelum menjawab.
"Sebaiknya kau berhenti memikirkan rencana pengecutmu itu. Malam ini kau hanya punya satu pilihan, yaitu melawan sampai mati"
Setelah berkata demikian Yalina tampak menarik nafas panjang. Ling Yun tercengang. Mulutnya menganga lebar melihat keajaiban yang terjadi pada Fudo Kiyomasa. Tubuhnya yang tadi melepuh kini telah pulih seperti sediakala.
"Cara penyebaran racun yang sangat unik. Aku sudah meremehkan perempuan ini sebelumnya. Kekuatannya tidak kalah dariku" kata Ling Yun dalam hati.
Dengan demikian pupuslah sudah harapan Fudo Kiyomasa untuk melarikan diri dari pertarungan hidup mati dengan Ling Yun. Ia kembali berdiri setelah dirasanya tenaga dalamnya telah pulih.
"Baiklah!!! Karena tidak ada pilihan lagi aku akan mengadu jiwa denganmu, anak muda. Meskipun tidak dapat lolos dari kematianku malam ini, tapi ingatlah oleh kalian markas pusat kami tidak akan tinggal diam. Pada saatnya nanti kalian akan menyesali hal ini"
Samurai Perak Sesat merentangkan tangannya ke depan lalu membentuk kuda - kuda kokoh sembari mulutnya bergerak perlahan membaca mantra ilmu pamungkasnya.
Katana di tangan kanan Samurai Perak Sesat memancarkan cahaya putih perak menyilaukan. Sementara di depannya Ling Yun juga telah siap dengan ilmu pamungkasnya.
"Jurus Raja Perak!!!"
"Bianglala Pemenggal Arwah!!!"
"Hiaaaattt!!!"
"Heeeiyyaaa...!!!"
Ling Yun dan Fudo Kiyomasa sama - sama melayang dan mengayunkan senjata masing masing ke arah lawan dengan segenap tenaga yang tersisa.
"Trang...!!!"
"Craass...!!!"
__ADS_1
Setelah beradu sejurus di udara kedua pendekar beda usia itu mendarat di tanah. Ling Yun mendarat dengan mulus. Terlihat darah mengalir dari luka sabetan di pipi kirinya.
Lain halnya dengan Fudo Kiyomasa tubuhnya terjatuh dalam keadaan kepala terpisah dari badan. Saat mendarat di tanah tadi tubuhnya memang sudah tidak lagi bernyawa.