Ksatria Lembah Neraka

Ksatria Lembah Neraka
Kemunculan Sepasang Pendekar Naga Dari Lembah Neraka


__ADS_3

Sepasang Pendekar Suci Dari Lembah Hitam telah menghabisi lebih dari enam orang para pendekar gabungan aliran hitam berilmu tinggi. Peluh keringat membanjiri sekujur tubuh mereka.


Surasena tersenyum tenang melihat Nila Sari berhasil membunuh musuhnya dengan menebas putus leher orang tersebut yang diketahuinya di dunia persilatan berjuluk Jaring Kematian. Lelaki itu mengusap keringat yang mulai banyak mengalir di dahinya.


Karena begitu fokus menatap wanita yang dicintainya itu Surasena sedikit lengah dan tidak menyadari seorang lelaki berwajah hitam bersiap menyerang hendak membokongnya dari belakang.


"Huh... Lengah di saat perang. Kau terlalu percaya diri dengan kemampuanmu. Marilah...!!!"


Mendengar kesiur angin tajam dari arah belakang membuat Surasena terkejut setengah mati. Begitu dia membalikkan badan serangan itu telah begitu dekat dengannya. Tidak sempat menghindar, untuk menangkispun sudah sangat terlambat.


"Apakah umurku hanya sampai di sini? Dinda Nila Sari... Maafkan aku... Kau akan segera menjadi janda. Selamat tinggal, aku akan menunggumu di kehidupan selanjutnya..." kata Surasena pasrah. Dia lalu memejamkan matanya sambil mengingat - ingat kembali kenangannya bersama Nila Sari dari kecil hingga tumbuh dewasa dan mendapat julukan Pendekar Sejoli Pembunuh Naga sampai mereka bertemu Argadana yang menaklukkan mereka.


Surasena tersenyum seolah menyambut kematiannya dengan rasa bahagia tanpa terlihat beban sedikitpun di matanya.


Lelaki berwajah hitam yang membokong tersebut terlihat tersenyum menyeringai. Sejengkal lagi serangan itu mengenai sasaran, sesosok bayangan berwarna putih menerjang dengan cepat memapak serangan telapak tangan lelaki berwajah hitam itu.


Plak... Des...


Lelaki berwajah hitam terdorong ke belakang memegang pergelangan tangan yang terasa kebas. Dadanya terasa sesak.


"Ughh..."


Keluhan pria berwajah hitam itu terkejut dengan wajah geram. Geraham nya bergemelutukan menandakan emosinya yang meningkat.


Surasena yang sudah sejak tadi pasrah akan apa yang segera menimpa dirinya terheran - heran karena serangan yang begitu dekat dengan tubuhnya itu tidak juga datang. Karena penasaran dia membuka matanya sedikit dan dia melihat seorang pemuda berpakaian serba putih berdiri di hadapannya dengan posisi tubuh membelakanginya.


"Bangsa*t... Ternyata orang dari golongan putih juga bisa main bokong secara curang" umpat lelaki berwajah hitam itu karena merasa urusannya dicampuri orang lain.


"Hmm... Kalau yang boleh bertindak curang itu hanya orang dari golongan hitam, apa kau pikir kami dari golongan putih juga akan bisa bertahan selama ini jika tidak menggunakan kecerdikan kami untuk mengatasi kalian? Pikiran macam apa itu? Kau boleh mencurangi orang lain, dan orang lain tidak boleh membalasmu? Begitu???" kata pria berpakaian serba putih itu yang tidak lain adalah Widura alias Penyair Maut.


"Jangan besar kepala hanya karena kamu telah berhasil memapak seranganku, anak jumawa. Kalau berani mari kita beradu nyawa di sini. Kita akan tentukan mana pemenang dan mana pecundang"


Melihat orang yang telah menyelamatkan jiwanya itu berdebat dengan pembokongnya, Surasena maju ke depan di sisi pemuda penolongnya itu.

__ADS_1


"Kisanak... Terimakasih sebelumnya atas bantuannya. Jika tidak ada kisanak, aku mungkin sudah tidak lagi bernyawa kali ini. Jadi untuk orang ini biarkan aku saja yang mengurusnya" kata Surasena membungkukkan badannya.


"Tidak usah sungkan, kisanak. Itu sudah kewajiban kita untuk saling tolong menolong dalam kebaikan. Kalau begitu orang ini aku serahkan padamu" balas Widura membungkukkan badan.


Pemuda berjuluk penyair maut itu pun melesat pergi untuk membantu para pendekar aliran putih lainnya yang tengah kesulitan.


***


"Bersiaplah untuk mati, anak muda. Ini adalah pelajaran untukmu karena kau berani macam - macam denganku"


Jurus Tarian Iblis...


Singa Maruta melesat dengan kecepatan tinggi mengira akan dapat dengan mudah membunuh pendekar kita, Lalu Argadana alias si Ksatria Lembah Neraka. Tetapi begitu serangannya mendekati sasaran, tahu - tahu di depannya telah seorang lelaki tua yang tampak seumuran dengannya berdiri di hadapannya memapak serangan Jurus Tarian Iblis.


Singa Maruta yang terkejut dengan kehadiran orang tersebut yang sangat tiba - tiba itu melompat mundur sepuluh langkah dengan dahi berkerut.


"Kau jangan terlalu usil mencampuri urusan orang, Pendekar Cambuk Naga. Kau pikir aku akan takut untuk melawanmu?" bentak Singa Maruta tidak senang dengan campur tangan lelaki tua yang baru saja tiba itu yang bukan lain adalah Pendekar Cambuk Naga atau Anung Pramana, guru Argadana.


"Kau ingin menyerang murid kesayanganku, dan kau bilang aku tidak mencampuri urusanmu? Apa kau bermaksud memperbolehkan dirimu mengusik orang, dan orang lain tidak boleh mengganggumu?" tegur Anung Pramana dengan wajah sinis.


"Apa???" Singa Maruta secara spontan berkata karena begitu terkejut mendengar ucapan Anung Pramana si Pendekar Cambuk Naga.


"Hehehe ... Lagipula dia bukan tandinganmu, tikus tua. Kau lebih baik melawanku saja."


Perkataan Pendekar Cambuk Naga itu membuat panas hati Singa Maruta yang memang sedang dalam keadaan emosi.


"Baiklah, Anung Pramana. Kita sama - sama dari golongan tua, mari kita lihat apakah kau bisa mengalahkan ilmu baru yang telah kukuasai dari leluhur perguruan kami"


"Itu tidak masalah... Kita masih punya banyak waktu untuk menghabiskan ratusan jurus dalam peperangan aliran yang telah kalian kumandangkan lebih dulu ini"


Anung Pramana lalu menoleh kepada Argadana.


"Cucuku... Biarkan tikus tua pemarah ini menjadi bagianku. Kamu urus saja anggota - anggotamu yang lain. Mereka membutuhkan bantuanmu"

__ADS_1


"Baik, guru..."


Anung Pramana menunjuk wajah Singa Maruta dengan senyum mengejek mengesalkan.


"Ayo... Tunjukkan kepadaku, sudah seberapa jauh kesaktianmu meningkat"


"Baik... Kau bersiaplah untuk menemui Raja Neraka di alam baka"


Jurus Tarian Iblis..!!


Singa Maruta yang sudah banyak pengalaman dalam pertarungan hidup dan mati itu paham betul bahwa lawan bermaksud memancing kemarahannya agar dia bertarung dalam keadaan kalap sehingga kelemahannya akan terlihat jelas oleh lawan.


Tapi Singa Maruta bukanlah pendekar kemarin sore jika hal sekecil itu saja tidak dapat ditebaknya.


Serangannya dalam pengerahan Jurus Tarian Iblis mencecar berbagai titik lemah di tubuh Anung Pramana dengan sangat cepat namun keadaan emosinya masih tetap terjaga agar tidak dimanfaatkan oleh musuhnya untuk mencari kelengahannya.


Sementara kedua pendekar tua dari aliran berbeda itu bertarung dengan sengit Argadana hendak pergi membantu para anggota Perguruan Anak Naga terhenti ketika mendengar panggilan dari seorang wanita yang amat dikenalnya. Wanita itu tidak lain adalah Dewi Obat, istri Anung Pramana ibu guru Argadana.


"Guru... " sapa Argadana membungkukkan badan.


"Ahh... Muridku... Guru senang kau dalam keadaan sehat. Kami berdua kemari sebenarnya sedang dalam perjalanan untuk mencarimu karena ada sesuatu yang ingin guru sampaikan padamu. Tapi di perjalanan kami seperti mendengar suara raungan Raja Naga. Itu yang menuntun kami sampai ke tempat ini yang ternyata telah terjadi perang besar yang sangat kacau begini. Ternyata kau selama ini sudah menyembunyikannya dengan sangat baik, Raja Naga bahkan bisa kau panggil keluar dari cambuk itu" kata Dewi Obat panjang lebar.


Sebenarnya yang lebih tahu kalau suara yang didengar kedua Pendekar berjuluk Sepasang Pendekar Naga Dari Lembah Neraka itu mirip suara raungan Raja Naga adalah Anung Pramana. Hal itu tidak lain adalah karena Anung Pramana pernah bertarung melawannya di alam semedinya dulu untuk memperoleh kekuatan dari Cambuk Raja Naga.


(Baca Eps. 15. 'Teknik Meditasi Ganda')


"Ahh... Hehehe... Jadi apa ada yang bisa dibantu oleh murid ini, silakan guru menyebutkan" kata Argadana tersenyum kecil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Dewi Obat atau Kasih Pertiwi menyerahkan sebuah gulungan yang terbuat dari kulit binatang kepada muridnya itu.


"Setelah perang ini berakhir kami ingin kau mewakili kami pergi ke sebuah negeri yang sangat jauh dari sini. Negeri itu disebut Negeri Matahari Terbit. Kami dulu pernah membuat janji dengan seorang saudara angkat kami yang berasal dari negeri itu bernama Sebia Hayashi... Serahkan surat itu kepadanya...Untuk lebih jelasnya apa yang harus kau lakukan di sana nanti kau akan tahu sendiri setelah kau sampai di tempat itu"


"Ehmmm.... Baik, guru... Setelah perang ini berakhir murid akan segera mempersiapkan keberangkatan sesuai perintah guru" kata Argadana.

__ADS_1


__ADS_2