Ksatria Lembah Neraka

Ksatria Lembah Neraka
Si Naga Kembar


__ADS_3

Peluru - peluru yang tadinya terhenti di udara gagal menembus tubuh Argadana. Sebagai balasannya, Argadama mengangkat kedua tangannya lurus ke atas. Peluru tersebut seolah mengikuti gerakan tangan Argadana melayang setinggi satu batang tombak di atas kepalanya. Lalu peluru - peluru tersebut berputar - putar bagai bola terbawa angin dari pengerahan tenaga dalam Naga Langit.


"Nah... Kalian suka bermain peluru kan? Sekarang, rasakanlah sendiri peluru - peluru kalian yang aku kembalikan!!!"


Usai berteriak demikian, Argadana mengibaskan tangannya ke arah para prajurit pembawa bedil yang tadi menembaknya. Maka peluru - peluru yang tadinya beterbangan tersebut melesat balik kembali dengan kecepatan yang dua kali lebih cepat dari tembakan bedil.


"Ahhkk.... "


"Ughhh.... "


Dalam sekejap mata , sepuluh orang penembak tersebut tergeletak tak bernyawa, mati. Tubuh mereka tertembus peluru mereka sendiri yang mereka tembakkan tadi.


"Ilmu iblis macam apa itu? Anak itu dapat menahan peluru dan membalikkannya dengan kecepatan yang lebih tinggi. Ini tidak bisa dibiarkan..."


"Bagaimana ini, Tuan La Huda? Tubuh orang itu, bahkan peluru tidak bisa menembusnya. Sepuluh orang penembak handal yang telah disiapkan jendral ku mati setelah peluru mereka dikembalikan" kata Panglima Danang Kamba sangat panik.


"Hmm... Itu hanya berarti bahwa pemuda itu kemungkinan memiliki tenaga dalam tingkat tinggi. Mungkin juga setara dengan muridku, Singa Maruta" Jawab La Huda.


"Mm.. Maksud tuan, ketua pusat Perguruan Tengkorak Darah?" tanya Panglima Danang Kamba tidak menyembunyikan rasa terkejutnya.


"Bagaimana mungkin bisa begitu? Orang itu kelihatan masih sangat muda, bagaimana dia bisa memiliki tenaga dalam setinggi ketua pusat Perguruan Tengkorak Darah?" kata Panglima Danang Kamba bertanya - tanya dalam hati.


"Jadi kita harus bagaimana, tuan??? Prajurit kami pasti tidak akan bisa melawannya jika dia itu memiliki kekuatan yang setingkat Tuan Singa Maruta"


"Tenanglah... Kita masih bisa mengandalkan orang - orang persilatan untuk mengeroyoknya. Atur sepuluh Pendekar Taring Maut untuk melawannya"


"Baik, tuan... "

__ADS_1


Di belakang La Huda sekitar lima puluh batang tombak berkumpul sekitar lima puluh orang berpenampilan sangar. Mereka itu adalah kekuatan inti dari aliansi aliran hitam di bawah pimpinan Pendekar Lembah Mayat.


Lima puluh orang tersebut adalah orang - orang yang khusus disiapkan oleh La Huda untuk mengantisipasi jika terjadi sesuatu di luar perkiraan. Jadi ketika situasi perang nantinya tidak dapat lagi berjalan sesuai kendali, maka mereka inilah yang akan dikerahkan.


"Hahaha.... Aku sudah tidak sabar lagi ingin melihat kejayaan kita dari aliran hitam. Setelah kita menguasai dunia persilatan, kita bisa berbuat apapun sesuka hati kita"


"Iya, benar... Harta dan gadis - gadis cantik tidak akan jauh dari ranjang kita. Adapun para aliran yang mengatakan diri mereka aliran putih itu, mereka hanya akan menjadi kuda - kuda tunggangan kita. Hehehe... "


"Itu benar, kakang. Dengan hancurnya aliran putih sialan itu, kita akan berjaya selamanya"


Percakapan orang - orang berangasan itu terdengar riuh. Wajah - wajah mereka memerah karena mabuk terlalu banyak menenggak arak. Percakapan kotor mereka seputar tentang wanita dan kekayaan terhenti ketika melihat Panglima Danang Kamba mendekat.


"Tuan - tuan... Tuan La Huda meminta Sepuluh Pendekar Taring Maut untuk berurusan dengan seorang pendekar dari aliran putih" katanya menundukkan kepala.


"Hmph... Pendekar macam apa yang sampai memerlukan kami bersepuluh untuk mengurusnya? Apakah para aliran hitam lain sama sekali tidak ada yang berguna sampai - sampai hanya untuk mengurus seorang dari aliran putih saja tidak sanggup?" bentak Taring Satu marah.


"Ehh... Maaf, tuan Taring Satu. Para anggota aliansi lainnya sedang disibukkan oleh Perguruan Siluman yang telah mengerahkan seluruh anggota mereka yang berjumlah ratusan. Dan lagi, orang itu tidak dapat ditembus peluru. Menurut perkiraan Tuan La Huda, orang itu memiliki tenaga dalam yang setingkat dengan Tuan Singa Maruta"


"Ih...!!! Setingkat dengan Tuan Singa Maruta? Apakah para tokoh tua dari aliran putih sudah mulai menampakkan diri? Kalau begitu baiklah, kami akan melawannya"


***


"Apakah tempatnya masih jauh, Naga Bumi?"


Seorang pemuda tampan berambut panjang lurus sepunggung berdiri di atas tubuh seekor binatang bersisik kecoklatan bertanduk, naga. Ya... Itu adalah Naga Bumi.


Pemuda itu tidak tampak menyandang senjata berupa pedang, keris, tombak maupun senjata lain di tubuhnya. Tetapi bagi orang yang teliti tentu dapat melihat bahwa benda kecil berbentuk gelang di pergelangan tangan pemuda itu merupakan senjatanya.

__ADS_1


Gelang itu memiliki bentuk yang cukup aneh. Permukaannya menyerupai sisik - sisik ular berwarna kecoklatan. Jika dilihat secara keseluruhan, memang gelang itu menyerupai ular bertanduk yang melilit dengan kepala dan ekornya. Yang membuatnya lebih tampak seperti senjata adalah di permukaan kepala dan bagian ujung ekor gelang ular bertanduk itu tampak melekat sebuah cakram bergerigi.


Dari ciri - ciri ini kita dapat menebak bahwa pemuda ini pastinya merupakan salah satu pemilik Senjata Pusaka Naga. Tepatnya yang dimiliki pemuda ini adalah Gelang Naga Bumi.


Nama pemuda ini adalah Wirayuda alias Pendekar Gelang Naga. Di belakangnya juga berdiri seorang gadis yang sangat cantik berkulit putih dan berambut lurus. Di punggungnya tergantung sebuah pedang berwarna merah darah yang tampak memancarkan aura yang cukup mengerikan.


Nama gadis di belakang Wirayuda itu adalah adalah Ayu Kenanga. Gadis itu bukan lain adalah istrinya sendiri, merupakan seorang Putri dari Kerajaan Muladara.


"Sebentar lagi kita akan segera sampai, tuan bersiap - siaplah. Raja Naga mengabari kami bahwa majikan para naga saat ini tengah terlibat dalam perang melawan aliran hitam yang telah beraliansi sehingga semua murid - murid di perguruan nya bahkan kewalahan menghadapi keroyokan ribuan orang berilmu tinggi"


"Baiklah... Tampaknya kita akan melemaskan urat - urat kita yang sudah kaku di sana, dinda. Kau harus bersiap untuk menghadapi situasi yang membuat keringat kita mengucur dengan deras" kata Wirayuda tersenyum.


"Hmm... Aku ingin menghajar sebanyak mungkin orang - orang dari aliran hitam" kata Ayu Kenanga berapi - api terlihat antusias hendak terjun ke dalam pertarungan besar.


"Kalau begitu kita akan berlomba. Dan kita lihat nanti, siapa yang paling banyak menghajar orang - orang sesat itu"


"Siapa takut???"


***


Di tempat lain...


Dua orang laki - laki, satu berpakaian serba putih dan yang lainnya berpakaian serba hitam tengah mengudara dengan menunggangi dua ekor naga yang juga berwarna putih dan berwarna hitam. Wajah keduanya terlihat mirip satu sama lain. Jika keduanya berjalan bersamaan, maka tidak ada yang akan mengetahui mana kakak dan mana adik, kecuali hanya melihat dari warna pakaian yang mereka kenakan.


Kedua pemuda itu berasal dari Pulau Andalas. Orang - orang dunia persilatan di sana menggelari mereka Si Naga Kembar. Keduanya juga merupakan pemilik Pusaka Naga. Yang berpakaian serba putih bernama Sura Laya, sedangkan yang berpakaian serba hitam bernama Munding Laya. Adapun senjata yang mereka pegang adalah Tombak Naga Cahaya, dan Seruling Naga Bayangan.


"Kakang, apakah orang - orang yang akan kita hadapi nanti itu semuanya adalah pendekar kuat?" tanya Sura Laya yang berpakaian serba hitam.

__ADS_1


"Hehe... Aku juga berharap begitu. Kata Naga Putih, kekuatan cahaya milikku akan semakin bertambah seiring banyaknya aura - aura jahat para pendekar aliran hitam yang kutaklukkan.." Munding Laya tersenyum penuh arti.


__ADS_2