Ksatria Lembah Neraka

Ksatria Lembah Neraka
Keributan


__ADS_3

Damar Sena yang merasa kesal pengawalnya dapat dikalahkan dengan mudah memanfaatkan kesempatan itu untuk menjebak pemuda tak dikenal itu.


"Dia yang mulai duluan, prajurit. Tangkap saja anak gunung itu" kata Damar Sena menunjuk Argadana.


Bangsawan lain yang memang sangat tidak menyukai siifat Damar Sena hanya memandang sinis. Meskipun mereka tidak menyukai sifat angkuh Damar Sena tapi untuk menyatakan secara langsung mereka merasa tidak enak sebab hal itu dikhawatirkan akan menyebabkan hubungan kerajaan mereka menjadi renggang.


"Kurang ajar ... Kau anak gunung tidak tahu diri. Beraninya kau membuat onar di sini" kata prajurit itu.


"Tampangmu seperti seorang penjilat, prajurit. Jika hal ini kuberitahu pada rajamu, apa kau pikir kau masih bisa berlaku sesuka hatimu pada rakyat kecil seperti aku?" kata Argadana yang mulai terpancing emosinya.


"Diam kau, anak gunung. Salahkan saja dirimu sendiri, karena tidak punya latar belakang yang kuat. Tangkap dia. . ."


Prajurit tadi berteriak memerintah bawahannya mengepung Argadana.


***


Di dalam istana Kerajaan Sampang Daru


Raja Kurawa tengah bersantai dengan keluarganya. Di ruangan tersebut ada Ratu Malini, Ningrum, Pangeran Danu Kusuma, dan Raja Kurawa sendiri. Mereka sedang menunggu putra bungsu Raja Kurawa, yaitu Pangeran Handra Wiraguna yang beberapa hari yang lalu saling mengangkat saudara dengan Argadana.


"Ayah, ibu, kanda, yunda. . ."


Handra Wiraguna menyapa mereka.


"Hahaha. . . Kemari, putraku. Kau pasti sudah cukup beristirahatnya. Sekarang ceritakan pada ayah, hal - hal apa saja yang kau pelajari dari gurumu dan apa yang kau temui selama dalam perjalanan pulangmu.


Handra Wiraguna lalu menceritakan banyak ilmu - ilmu silat tingkat tinggi yang dipelajarinya dari gurunya, Pendekar Tongkat Bambu. Juga tidak lupa menceritakan tentang pemuda pendiam berambut emas yang kini telah menjadi kakak angkatnya.


Semuanya mendengarkan dengan seksama tanpa memotong pembicaraan Handra Wiraguna. Hanya Ningrum yang wajahnya selalu memerah tiap kali adiknya itu menyebutkan nama Argadana. Hal itu tidak lepas dari pandangan awas Ratu Malini.


"Dan yang paling aneh darinya, ayah. Di setiap tempat yang kami lewati jika ada binatang jenis apa pun melintas di jalur yang sama, binatang - binatang itu akan berhenti dan membentuk barisan seolah sedang menyambut kami. Saya rasa itu adalah kemampuan miliknya, bahkan binatang berbisa seperti kobra pun tunduk tanpa berani mengangkat kepala ketika dia lewat dengan kuda putihnya yang tidak ada tali kekangnya itu. Dan..."


Tok - tok - tok. . .


Cerita Handra Wiraguna terhenti ketika terdengar suara pintu diketuk dengan keras. Handra Wiraguna lalu dengan kesal membuka pintu dan menemukan seorang prajurit segera berlutut di depan mereka semua.

__ADS_1


"Ampun, yang mulia. Ada seorang pemuda membuat kekacauan di halaman. Para prajurit tidak ada yang mampu menangkapnya" kata prajurit tersebut.


"Haiiss. . . Apa lagi ini? Memangnya kemana para perwira lainnya? Sampai kau harus kemari menghadapku?" tanya Raja Kurawa keheranan.


"Mo..mohon ampun, yang mulia. Para perwira juga sedang mengepungnya di halaman istana. Tapi pemuda itu terlalu tangguh. Dua orang perwira kita dibuat pingsan dalam sekali serang" jelas prajurit itu.


Saat itu Ningrum tiba - tiba menatap langit karena merasakan aura seseorang yang familiar.


"Ini..." ucap Ningrum tercekat.


"Ada apa, putriku?"


"Ahh ... Tidak, ayahanda. Prajurit, seperti apa ciri - ciri orang yang kau maksud pengacau itu?"


"Ehh. . . Pemuda itu, dia berkulit putih seperti kapas. Di tengah - tengah dahinya ada rajah gambar pedang merah"


Jantung Ningrum berdebar kencang mendengar pernyataan prajuritnya itu. Bertambah yakinlah dia sekarang bahwa yang berada di halaman saat ini adalah orang yang dikenalnya. Sementara itu Handra Wiraguna juga terkejut dengan informasi yang diberikan prajurit tadi.


"Itu... Ayah, dia orang yang sengaja kuundang kemari. Orang itu adalah saudara angkatku. Dia tidak mungkin membuat onar kalau tidak ada yang mengganggunya. Aku harus kesana"


"Sabar dulu, putraku. Kita tidak tahu pasti seperti apa orang yang ada di depan sana, sebaiknya kita memanggil pasukan bawah tanah untuk berjaga - jaga" kata Raja Kurawa


"Benar kata ayahandamu, putraku. Lagipula kau belum lama mengenal saudara angkatmu itu. Takutnya dia adalah penyusup" Ratu Malini menimpali.


"Itu tidak mungkin" kali ini Ningrum yang membantah pernyataan kedua orang tuanya.


"Apa kau juga mengenal pemuda yang dimaksud prajurit itu, Ningrum" tanya Raja Kurawa mengerutkan dahi.


Ningrum tidak langsung menjawab, melainkan diam beberapa saat sebelum bertanya lagi pada prajurit itu.


"Ada satu lagi yang belum kau perjelas, prajurit. Apakah warna rambutnya berbeda?"


"Ehh ... Benar, tuan putri. Rambut pemuda itu seperti emas"


"Bukan seperti emas. Itu memang rambut emas. Itu artinya memang dia yang datang kemari" kata Ningrum seraya menoleh pada adik bungsunya.

__ADS_1


"Yunda kenal dengannya?"


"Dia datang kemari untukku. Sebaiknya kita segera menemuinya, aku takut istana ini bisa hancur jika dia sampai tersulut kemarahannya. Bahkan kedua guruku tidak sanggup bertahan seratus jurus melawan orang itu" kata Ningrum dengan wajah merah.


Semua orang terkejut dengan penjelasan Ningrum. Sepasang Pendekar Naga yang telah terkenal kehebatannya menjadi pendekar nomor satu di dunia persilatan masih bisa kalah juga di tangan seorang pemuda. Ini merupakan hal yang sangat sulit dipercaya, tapi untuk menyangkalnya pun memang tidak bisa sebab Ningrum terkenal tidak pernah mengatakan suatu kejadian yang tidak disaksikannya sendiri.


"Kalau begitu kita harus segera menghentikan mereka" kata Raja Kurawa yang dibalas dengan anggukan semua orang. Mereka lalu bergegas ke halaman depan istana Kerajaan Sampang Daru.


"Siapa yang telah berbuat bodoh dengan menyinggung orang itu? Jika yang melakukannya adalah orang dalam kerajaan sendiri, aku tidak akan mengampuninya" gerutu Ningrum dengan wajah merah antara marah dan juga jengah.


Raja Kurawa dan Ratu Malini hanya menggeleng karena rasa penasaran mereka tidak terpenuhi sebab Ningrum tidak memberitahu mereka siapa pemuda yang merusuh itu.


Dugg ...


"Ughhh ..."


Dua orang perwira terjengkang setelah tumit Argadana mendarat di tubuh mereka.


"Heiii ... Aku sudah bilang, aku kemari bukan untuk merusuh. Aku datang kemari untuk menemui adik seperguruanku" teriak Argadana berusaha menenangkan suasana. Tetapi dua orang perwira yang tadi terjengkang merasa harga diri mereka telah tercoreng tidak mau menyudahi. Mereka berdua merangsek Argadana dengan senjata pedang tipis yang lentur di tangan masing - masing.


Jurus tanpa bentuk


Kedua perwira itu kembali merangsek berusaha menjatuhkan Argadana. Tapi dengan jurus sembilan langkah ajaib semua serangan dapat dihindari dengan mudah.


Tubuh Argadana sempoyongan seperti orang mabuk, sesekali dia tampak menggelosor tetapi dari gerakan mabuk itu kadang tangan atau kakinya memukul membuat penyerangnya kelabakan menghindar karena arah gerakannya yang sulit untuk diantisipasi.


Kedua perwira itu berpandangan dan saling mengangguk.


Ajian lebah mayat


Argadana mencium bau busuk menyengat dari setiap gerakan yang dilakukan dua orang perwira itu pertanda serangannya mengandung racun ganas.


"Aku sudah berusaha meladeni kalian dengan sabar. Tapi kalian malah ingin membunuhku" sinis Argadana.


Jurus sembilan matahari dikeluarkan Argadana. Seketika cahaya samar - samar berwarna kuning menyelimuti area sejauh dua batang tombak dari tubuh Argadana membuat kesulitan dua perwira mendekatinya. Dengan pengerahan sempurna jurus tanpa bentuk tubuh Argadana bergerak cepat hingga yang terlihat hanya bayangan tubuhnya yang menyambar Perwira Candi hingga terpental sejauh sepuluh batang tombak dan muntah darah. Tidak mau berhenti di situ saja Argadana kembali menyambar Perwira Cindera dan mencekik tenggorokannya. Perwira Cindera megap - megap hampir kehabisan napas. Wajahnya memerah bagai kepiting rebus.

__ADS_1


"Tahan ..."


__ADS_2