
Argadana, Raja Siluman Darah belajar dengan giat belajar bersama Ningrum yang sudah mulai terbiasa dengan Jendral Thalaba. Dia tidak lagi setakut sebelumnya meskipun masih sedikit ngeri jika melihat harimau putih itu memperlihatkan taring - taring tajamnya.
Berhari - hari mereka lalui tanpa ada halangan berarti dalam pelatihan mereka hingga tak terasa setahun sudah mereka mempelajari ilmu pengobatan pada Dewi Obat.
Hari ini adalah hari pengujian yang akan diberikan oleh Dewi Obat atas hasil latihan kedua muridnya selama setahun terakhir. Untuk mengetahui sejauh mana kemampuan muridnya itu dalam bidang pengobatan, Dewi Obat berencana mengirim mereka ke Kerajaan Bima guna mengobati putri ke dua sang Raja Bima bernama Gandari Dwi Puspita yang biasa dipanggil Putri Gandari.
"Kalian telah selesai mempelajari ilmu pengobatan dariku. Semua pengetahuanku dalam bidang pengobatan telah kalian kuasai" kata Kasih Pertiwi.
Wanita berjuluk Dewi Obat itu tengah memegang sebuah gulungan dari kulit domba berisi surat dengan stempel cap Kerajaan Bima.
Di sampingnya juga tengah duduk tenang Anung Pramana tanpa memotong ucapan istrinya itu.
Kasih Pertiwi lalu melanjutkan
"Aku mendapat kabar dari sahabatku, Patih Ashlan. Dia adalah patih Kerajaan Bima, katanya Putri Gandari anak perempuan ke dua dari Raja Suwaka sedang menderita penyakit aneh. Dan dia meminta tolong kepadaku untuk mengobati puti rajanya itu"
Kasih Pertiwi melemparkan gulungan berisi surat tersebut pada Argadana yang langsung ditangkap dengan cekatan.
"Jika kalian dapat menyelesaikan permasalahan penyakit Putri Gandari, maka kalian akan kuanggap lulus dan dapat melanjutkan mempelajari ilmu kanuragan dan ilmu kedigdayaan"
Kasih Pertiwi diam sejenak seperti memberi waktu kepada Argadana dan Ningrum untuk berpikir.
"Kalian sudah siap?" tanyanya lagi.
"Kami siap, guru"
"Kapan kalian akan berangkat"
"Sekarang juga kami siap berangkat, guru"
__ADS_1
"Baik. Kalau begitu kalian bersiaplah, aku akan menulis surat balasan yang akan kalian sampaikan pada Patih Ashlan"
"Baik, guru"
Argadana dan Ningrum lalu membubarkan diri mempersiapkan berbagai kebutuhannya dalam perjalanan. Setelah keduanya pergi barulah Anung Pramana berkata pada istrinya.
"Apakah mereka sudah cukup mampu untuk melakukannya, dinda? Bagaimana jika mereka tidak sanggup?" tanyanya khawatir.
"Kakang, ilmu mereka hanya akan menjadi mentah jika mereka tidak mempunyai pengalaman apapun dalam mengobati orang. Lagi pula aku yakin, mereka pasti mampu menyembuhkan Putri Gandari" kata Kasih Pertiwi yakin.
"Hhhh..... Baiklah, jika kau sudah begitu percaya. Aku hanya bisa berharap agar mereka benar - benar mampu melakukannya. Jika benar, mereka akan mendapatkan manfaat yang besar selain dari bertambahnya pengalaman mereka. Bahkan bisa jadi Kerajaan Bima dan Kerajaan Sampang Daru yang selama ini meskipun tidak bermusuhan tetapi tidak bisa dibilang bersahabat akan dapat bekerja sama, sehingga kemakmuran keduanya akan bertambah. Itu akan menjadi pencapaian yang sangat luar biasa dari seorang Putri Raja Kurawa"
"Itu benar, kakang. Kita tunggu kabar baik dari mereka nanti saja"
***
Kerajaan Bima merupakan kerajaan yang cukup besar dan kuat. Terletak di sebelah barat kerajaan Sampang Daru. Wilayah kerajaan tersebut terbilang makmur karena perekonomian dan pembangunan masyarakatnya berkembang pesat semenjak diangkatnya Raja Suwaka Gandara Putra menjadi Raja Kerajaan Bima.
Saat ini putri bungsu yaitu Putri Gandari menderita penyakit aneh. Setiap malam dia akan mengalami rasa sakit yang teramat sangat, di sekujur tubuhnya terasa dingin menusuk tulang.
Hal itu telah berlangsung selama beberapa bulan hingga kesehatannya terganggu, dia kini tampak pucat pasi dan tubuhnya terlihat lebih kurus. Namun demikian tidak menghilangkan kecantikan yang terpancar dari wajahnya meskipun dia masih berumur delapan tahunan.
Sang raja setiap hari terlihat sedih memikirkan keadaan si bungsu yang tidak kunjung ada perkembangan. Telah banyak tabib - tabib hebat didatangkan tidak ada yang sanggup menyembuhkan. Tabib istana mengatakan bahwa jika hal ini terus berlanjut maka waktu sang puti hanya akan bertahan selama sebulan.
"Paman Patih. Apa sudah ada kabar dari tabib yang paman panggil kemari?" Raja Kerajaan Bima itu bertanya pada seorang lelaki tua yang rambutnya telah memutih seluruhnya. Di pinggangnya tergantung sebatang pedang berwarna hijau. Dia adalah Patih Ashlan, patih Kerajaan Bima.
"Ampun, yang mulia. Jika surat hamba telah sampai di tangannya maka seharusnya dia sudah akan tiba di sini paling tidak besok siang, yang mulia"
"Keadaan Gandari sudah semakin memburuk setiap harinya, paman. Sudah tidak terhitung berapa tabib yang kita datangkan namun tidak mendapatkan hasil apapun. Kali ini andai ada yang bisa menyelamatkan putriku, jika dia perempuan aku akan menjadikannya anak angkatku. Dan jika dia laki - laki aku akan menjadikannya menantu kelak setelah putriku dewasa" ucap Raja Bima tanpa sadar.
__ADS_1
"Hamba memohon menghadap yang mulia...!!!" Tiba - tiba seorang prajurit berlutut menghadap Raja Suwaka Gandara Putra.
"Ada apa, prajurit?"
"Mohon ampun, yang mulia. A..aada... dua orang anak permpuan dan laki - laki membawa surat dari seorang bernama D..dewi Obat..." Sang prajurit berkata dengan nada gugup.
Raja Bima memandangi Patih Ashlan seolah bertabya padanya. Patih Ashlan yang paham maksud tatapan itu lalu menjawab.
"Dewi Obat adalah sahabat yang hamba maksud, yang mulia. Kemungkinan mereka adalah murid - muridnya" jelasnya pada Raja Kerajaan Bima itu.
"Kalau begitu persilakan mereka untuk menemuiku" perinta Raja Suwaka Gandara Putra pada prajurit tersebut.
"Ta...tapi, yang mulia. Me..mmee.." prajurit ktu tergagap membingungkan sang raja dan patih.
"Bicara yang jelas, prajurit. Ada apa sebenarnya?" Raja Bima itu mulai meninggi nada bicaranya membuat prajuritnya semakin ciut nyalinya.
"Aa..anak yang memb..bbawa surat Dewi Obat itu masih kecil, yang mulia. Usianya m.mmungkin hampir sepantaran dengan Tuan Putri Gandari" jelas prajurit tersebut takut - takut.
"Apa???" Kejut Raja Bima itu. Dia lalu menatap lagi kepada Patih Ashlan dengan raut penuh pertanyaan.
"A..ampun, yang mulia. Dalam hal ini hamba tidak dapat memberikan penjelasan. Hanya saja jika mereka memang benar adalah murid Dewi Obat maka kita akan rugi karena tidak mendapat bantuan tabib dari Lembah Neraka itu" kata Patih Ashlan memberikan pendapatnya.
"Apa? Lembah Neraka?"
"Benar, yang mulia. Dewi Obat berasal dari Lembah Neraka, dia tinggal di sana bersama suaminya yang berilmu tinggi. Dan mereka berdua adalah pendekar legendaris yang berjuluk Sepasang Pendekar Naga"
"J..jadi... Maksudmu, wanita dari Sepasang Pendekar Naga itu adalah seorang tabib?"
"I..iya, yang mulia. Sebelum menikah dulu dia memang terkenal sebagai Dewi Obat karena merupakan tabib terbaik di zamannya dulu"
__ADS_1
"Kalau begitu bawa saja kedua bocah itu kemari"