
Rusdi mengantar Kiara kembali kekantor. Hanya sampai depan pagar lelaki itu kembali melajukan mobilnya. Kiara hanya mampunya menatapnya dengan penuh kekecewaan, wajah yang tampak lesu dan sangat lelah. Jauh dari ekpetasinya Rusdi tetap saja mengabaikanya dan tidak pernah memberikan sedikit perhatian padanya. Sifat cen*il yang selam ini di tunjukanya pada lelaki itu sebenarnya bukan sifat asli, ia melakukan itu hanya pada Rusdi hanya karena satu alasan mencintai pria itu.
"Kapan sih Pak, Bapak buka hati buat saya?, Saya sudah segala hal buat narik perhatian Bapak, saya juga sudah menjadi wanita paling gat*l yang Bapak temui tapi, tetap saja Bapak tidak pernah menoleh pada saya. Wanita seperti apa yang menjadi idaman Bapak?, bahkan saya rela menjadi seperti itu jika, itu dapat meluluhkan hati Bapak tapi, sepertinya saya juga sudah kehabisan cara untuk mengambil hati saya!" gumam Kiara denagn sebulir air mata yang menetes dari pelupuk matanya.
"Bertahun tahun sudah saya bekerja di perusahaan Bapak Lendra, sudah lama saya mengejar Bapak tapi, sampai detik ini saya juga belum tau siapa sebenarnya gadis yang sudah memikat hati Bapak agar saya tau saya harus mundur atau maju!" ujarnya lagi dengan suara yang sangat lemah.
"Silahkah masuk!" ucap Rusdi memutarkan kutsi yang di dudukinya dan menoleh matanya menatap seorang wankta yang kini sudah duduk di hadapanya dan ia segera meletakan ponselnya di atas meja. Wanita itu mengunakan kemeja putih dan rok selutut berwarna hitam. Wajahnya terlihat sangat natural. Balutan make upnya sangat tipis dan bahkan hampir tidak terlihat namun, wajahnya yang putih bersih masih memancarkan kecerahaanya.
Wanita itu tampak tertunduk malu. Rusdi menatapnya dengan intensnya. Penampilanya sangat rapi. Ia sudah dapat menduga tujuan wanita ini masuk kedalam ruangan bos besar, ruangan milik Lendra. Namun, sayangnya wanita ini masuk pada waktu yang tidak tepat, pemilik perusahan sedang tidak berada di kantor dan ia di minta untuk mengantikan dan mengerjakan pekerjaannya untuk sesaat.
"Apa tujuan kamu datang kesini?" tanya Rusdi dengan wajah datarnya dan seakan akan tidak mengetahui maksud wanita ini.
"Saya ingin melamar pekerjaan Pak!" jawabnya tertunduk sembari menyerahkan map berwarna biru pada Rusdi. Dengan sekali tarikan nafas Rusdi membukanya dan melihat biodata wanita yang ada di hadapanya.
__ADS_1
"Kiara? Nama kamu Kiara?" tanya Rusdi dengan mata yang masih fokus pada kertas putih itu dan gadis itu hanya mengangguk.
"Kamu mempunyai organisasi yang cukup banyak dan baik, prestasi kamu juga banyak tapi, sayangnya kamu belum memiliki pengalaman kerja jadi, dapat saya simpulkan kemampuan kerja kamu juga masih sangat minim!" ucap Rusdi menutup kembali map yang di berikan Kiara.
"Tapi saya mempunyai prestasi yang cukup banyak seperti yang Bapak ucapkan berarti saya mempunyai kemampuan ot*k yang terbilang cukup pintar. Apakah Bapak masih meragukan saya untuk bekerja di perusahaan Bapak dan saya juga pernah magang di perusahaan yang tak kalah besar dari perusahaan Bapak dan saya juga memiliki jiwa displin yang tinggi, saya terbilang patuh terhadap tata tertib. Jika hanya pengalaman, saya bisa mengembangkan kemampuan dan bakat saya di kantor Bapak melalui saran, arahan dan bantuan dari Bapak mau pun staf lainya!" jawab Kiara percaya diri.
"Dari semua ucapan kamu. Apa yang akan kamu lakukan atau kamu berikan untuk menyakinkan saya kalau yang semua kamu ucapkan adalah sebuah kebenaran?"
Rusdi sebenarnya dari awal melihatnya sudah menaruh ketertarikan pada wanita ini. Dari penampilanya ia tidak meragukan sedikit pun. Apalagi dengan jawaban yang di ungkapakanya ia tampak sangat yakin dan percaya diri. Orang orang seperti inilah yang sedang mereka cari tapi, ia juga tidak dapat memutuskan dan mencari orang asal asalan. Ia hanya ia melihat cara gadis ini menjawab atas pertanyaan yang di berikanya.
"Saya suka cara kamu, kamu percaya dengan diri kamu tapi, saya mohon maaf karena saya belum dapat memutuskan sekarang. Saya di sini juga masih bawahan dan pemilik perusahaan sedang berada di luar negeri dan kami perlu mempertimbangkan anda dahulu karena posisi yang ingin kamu pegang bukanya posisi yang rendah dengan pengalaman kerja kamu yang masih kosong. Saya khawatir bos kami menolak anda karena beliau adalah orang yang profesional dan sangat menyukai orang yang kreatif dalam bekerja!" ucap rusdi dengan seuntai senyum miliknya.
Kejadian beberapa tahun silam kembali terkenang di pikiranya. Rusdi masih sama cuek padanya. Fast respon pernah di lakukan pria itu padanya karena itulah Kiara menaruh hati pada Rusdi namun, hal itu di lakukan Rusdi hanya semata mata untuk pekerjaan dan atas perintah Lendra yang memintanya untuk mengajarkan banyak hal tentang perusahaan pada sekretaris barunya.
__ADS_1
"Andai waktu tidak berjalan. Saya ingin waktu kita tetap berada pada saat kita baru berkenalan Pak. Bapak yang selalu mengajarkan saya hingga sampai saat ini saya masih bertahan dengan posisi saya dan sering mendapat pujian dari pak Lendra namun, sayangnya waktu itu sudah berjalan dan tidak akan mungkin untuk kembali ke masa itu."
Kiara tersentak dari lamunanya yang cukup panjang. Ketika sebuah tangan menyentuh bahunya dan ia segera memutar tubuhnya untuk melihat orang yang kini berada di belakangnya. Denagn cepat pula ia langsung menghapus air matanya agar tak seorang pun yang mengetahui jika ia baru saja menangis.
"Pak Rusdi kemana?" tanya Evandi datar yang ternyata ia sejak tadi sudah memperhatikan Kiara dari kejauhan dan untung saja pria ini tidak melihatnya yang tengah menangis. Kiara menagnggkat kedua bahunya secara bersamaan menandakan ia tidak tau dan melangkahkan kakinya menjauh dari pria ini dan meninggalkan Evandi yang masih mematung di tempatnya.
"Beda banget sifatnya sama gue dan Rusdi. Cuek banget sama gue kayak gue ada salah aja. Dari kelakuanya sepertinya dia suka sama Rusdi!" gumam Evandi pada dirinya.
"Akhhh bodoh amatlah!" ujar Rusdi yang tak ingin ikut campur urusan perasaan orang lain dan ia juga melangkakan kakinya masuk kembali kedalam kantor.
Di dalam kantor Evandi dapat melihat dengan jelas wajah Kiara yang tampak sedih. Ia duduk di meja kerjanya dan tengah menulis sesuatu di buku sepertinya ia sedang mencatat hal hal penting tentang perusahaan.
Evandi merasa tak enak hati pada wanita itu. Dari kejauhan ia masih dapat melihat Kiara yang sedang menghapus air matanya. Kesedihan seperti apa yang di rasakan wanita ini hingga saat bekerja ia tidak dapat menepis semua permasalahaanya. Evandi ingin menghampirinya dan menanyakannya langsung namun, ia juga tidak boleh ikut campur urusan pribadi orang lain, sekali pun orang itu memiliki jabatan di bawahanya.
__ADS_1