Madu Dihari Pernikahan

Madu Dihari Pernikahan
Bab 12 - Meminta makan


__ADS_3

Tania masih saja terus menelusuri jalanan kota, terik matahari terus merangsang kepalanya dan perutnya mulai merasakan nyeri akibat menahan lapar yang di rasakanya.


Tangannya terus memengangin perutnya yang terasa sakit, matanya menyapu seluruh jalanan kota. Pandanganya terhenti saat melihat sebuah warung makan yang letaknya tak jauh dari tempatnya.


Tak mau fikir panjang lagi, Tania segera menghampiri warung itu namun, tiba tiba saja langkahnya terhenti saat menyadari sesuatu. Ia melihat seorang bapak yang tengah membayar makanannya di meja kasir dan seketika Tania teringat kalau ia tidak memiliki uang untuk membeli makanan di sini.


Namun, perutnya semakin sakit, rasa nyeri tak dapat lagi di tahankanya dalam waktu yang lebih lama. Gadis itu memberanikan diri untuk menemui penjaga kasir.


"Maaf Kak ini meja kasir, sebaiknya Kakak pesen makananya dulu, baru bayar!" ucap sang kasir dengan sangat ramah.


"Hmm i... iya.. Kak ta.. ta... tapi saya tidak memiliki uang untuk membayar makanan di sini!"


Pandangan kasir yang memiliki usia setara denganya itu kini mengarah pada tangan Tania yang terus memegangi perutnya. Ia dapat melihat dengan jelas jika Tania sedang tidak berbohong dan itu juga terlihat dari raut wajah Tania yang mulai pucat.


"Tapi saja juga bukan pemilik warung makan ini Kak!" ucapnya tak enak hati.


"Boleh saya meminta makanan di sini seporsi saja Kak nanti selesai makan saya janji akan membantu Kakak bekerja, saya bisa kok mencuci piring, menyapu, mengepel, saya bisa apa saja Kak!" ucap Tania antusias.


"Hm, baiklah Kak, Kakak makan saja, Kakak tidak perlu bekerja, Kakak makan jarah makan siang saya saja!" ucapnya menawarkan.


"Saya nanti pasti akan membantu Kakak selesai saya makan!" ucapnya.


"Tidak perlu Kak, Kakak makan saja!"


"Saya tidak enak hati jika makan tampa bekerja!" balas Tania.


"Yasudah, Kakak duduk dulu, biar makananya saya siapkan!" ucap sang kasir dan Tania hanya tersenyum.


Kini Safania, Wanita yang sudah berstatus sebagai istri tuan Lendra Mahadi sedang berpose di atas ranjang mewahnya, dengan beberapa gayanya dan sesekali memanyunkan bibirnya.

__ADS_1


"Aku cantik sekali, pantes saja Lendra begitu mencintai ku!" pujinya sembari menatap hasil fotonya itu.


"Bahagia mu tergantung pada pilihan mu!"


Begitulah kira kira kata kata yang Safania tuliskan pada postingan sosmednya. Safania adalah gadis milenial yang selalu menuliskan dan memamerkan kegiatanya di sosmednya dan ia juga memiliki  pengikut yang cukup banyak, gaya dan fashionnya juga selalu mengikuti perkembangan zaman.


"Bahagia banget gue bisa nikah sama Lendra walau pun gue cuma jadi istri kedua, setidaknya hidup gue jadi ngk susah susah bangetlah!" ujarnya sembari merebahkan tubuhnya di atas kasurnya dan merentangkan kedua tanganya. Gadis ini memang tidak merasa berdosa sedikit pun atas apa yang di perbuatnya.


"Akhhhhhh surga dunia!" teriaknya lagi yang kini berdiri di atas kasur dan melompat di atas kasur empuk milik Lendra.


"Tapi semalam kok gue ngk lihat ya semalam orang tuanya Lendra datang ke acara pernikahan gue!" gumam Safania seketika mengingat sesuatu yang menganjal di pikiranya.


"Akkhhhh bodoh amatlah yang penting sekarang gue sudah jadi istri orang kaya dan sekarang gue bisa beli apa pun yang gue suka tampa harus mikir dulu!" ucap Safania penuh kegirangan.


Selesai dengan makanannya, Tania kembali menghampiri gadis yang menjadi penjaga kasir itu. Ia tidak lupa dengan ucapan dan janjinya.


"Kak apa yang bisa saya bantu?" tanya Tania, ia juga melihat gadis sebayanya itu tengah kerepotan dalam melayani pelanggan di warung ini, selain menjadi kasir ia juga harus melayani beberapa pelanggan karena warungnya terbilang cukup ramai akan pembeli.


"Saya yang ngk enak Kak, gimana kalau saya mencuci piring saja di belakang Kak?" usul Tania.


"Baiklah kalau Kakaknya terus memaksa, mari saya antar ke dapur" balasnya.


Setelah kemacetan yang di lewatinya, kini Lendra melewati jalanan yang tampak sepi dan sunyi, karena keadaan yang memungkinkan ia mengendarai mobilnya dengan cukup kencang dan kelajuan yang cepat dengan emosi yang masih memuncak.


Untung tidak ada bahaya yang menimpahnya hingga sampai di pekarangan rumahnya, Belum sempat turun dari dalam mobil ia sudah mendapat notifikasi dari ponselnya.


"Malam nanti Papa akan datang kerumah kamu bersama Mama dan adik mu!"


Setelah membaca pesan singkat yang di kirim oleh papanya, Lendra turun dari dalam mobilnya dan saat akan memasuki rumahnya, ia sempat menarik nafasnya panjang dan menghembuskanya, ia sedikit kecewa, kenapa pintu rumahnya tidak di kunci.

__ADS_1


"Lendra pulang!" gumam Safania yang masih berada di dalam kamar setelah mendengar ketokan yang di bunyikan Lendra di pintu kamarnya.


"Sayang kamu sudah pulang?" tanya Safania dengan semangat dalam menyambut kedatangan suaminya itu.


Lendra tidak menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Safania, ia memilih untuk melewati wanita itu dan membuka jasnya dan di letakanya di atas meja rias Safania serta masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


"Kamu dari mana Sayang?" tanya Safania lagi yang terus mengikuti langkah Lendra dari belakang setelah lelaki itu keluar dari kamar mandi.


"Aku baru saja besuk Evandi!"


"Kita baru nikah loh Yang, kamu sudah ninggali aku tampa izin dulu!" ucap Safania mulai tak suka.


"Tadi aku mau pamit sama kamu tapi kamu masih tidur, aku ngk enak mau banguni makanya aku langsung pergi!" jawab Lendra sembari membuka lemarinya dan mengambil kaos hitam miliknya.


"Iya tapi kamukan ngk harus kesana!"


"Evandi itu sahabat aku!"


"Iya, aku paham!"


"Sayang!" panggil Safania. Lendra kini mengarahkan pandangannya kearah Safania yang terus saja mengikutinya sedangkan ia ingin mengistirahatkan tubuhnya sejenak.


"Mau belanja!" ucap Safania dengan memasang wajah kekanak kanakanya.


"Kita belanjanya besok saja ya Sayang, aku lagi capek banget!" balas Lendra  tersenyum sembari mengelus rambut Safania dengan lembut.


"Janji kamunya?"


"Janji dong!" balas Lendra dengan mengecup kening Safania.

__ADS_1


Rafa dengan lukanya berusaha untuk pulang namun, belum sampai ketujuan ia sudah lebih dulu pingsan dan syukurnya ia di tolong oleh warga sekitar dan langsung di bawa kerumahnya.


Rafa yang hanya tinggal di dalam rumahnya sendiri, tidak mungkin dapat menyembuhkan lukanya sendiri. Pak Vandir adalah orang yang menemukannya tergelatak di jalanan menyuruh putrinya, Nadya untuk merawat Rafa sementara waktu menunggu kondisi pria itu sedikit membaik. Rafa yang kondisinya semakin memburuk tidak dapat menolak tawaran pria paruh bayah yang menawarkanya bantuan.


__ADS_2