
Selepas pulang dari rumah Rafa, Nadya memasuki rumahnya dan ia melihat jika ayahnya belum pulang dari tempatnya bekerja, wanita itu langsung memasuki kamarnya.
Sesampainya di dalam kamar, ia langsung duduk di atas kursi dan mengambil sebuah buku dan pena. Huruf demi huruf di rangkainya menjadi sebuah kata dan kata kata itu di gabungnya menjadi kalimat yang mewakili hatinya saat ini.
"Dulu aku mengejar mu dengan bismillah
Hingga ku adahkan tanganku kelangit
Agar tercapai keinginan ku
Untuk memiliki mu...
Ku lebarkan sajadah,
Terduduk aku di atasnya.
Dengan tangisan menderai
Di hadapan sang pencipta
Untuk di persatukan aku dengan mu.
Kini bismillah ku,
Ku akhiri dengan alhamdulilah
Cukup sampai sini perkenalan kita
Ku tutup semua hal tentang mu
Termasuk candaan kecil yang dulu
Pernah membuat ku tertawa.
Sebelum itu ku lakukan,
Aku pernah mengemis pada mu
Untuk tetap stay bersama ku
Hingga akhirnya kau tetap
Memutuskan untuk pergi
Tampa mempertanyakan persetujuan ku.
Namun, kepergian mu tetap ku langitkan
Agar kiranya Tuhan kembali
Membalikan hati mu
__ADS_1
Agar kembali bersama ku.
Ribuan do'a sudah ku lantunkan,
Terisak isak sudah aku di atas sajadah
Mungkin saja pun malaikat
Sudah menertawakan ku
Karena ribuan kali aku meminta
Orang yang sudah tidak mengharapkan ku
Agar tetap kembali.
Tetapi, bukan kembali mu yang ku terima,
Kabar mu yang kini sudah bersama
Wanita lain terlihat sudah di pandangan ku
Bukan, berhenti mendoakan
Aku justru semakin melangitkan nama mu.
Kini aku tersadar
Sudah waktunya, aku untuk menyadari
Dunia ku.
Sudah waktunya aku terbangun
Dari mimpi ku dan menghapus
Semua jejak tentang mu.
Begitulah rangkaian kalimat yang Nadya tuliskan pada diari yang menjadi tempat curhatanya setiap hari. Tampa terasa air matanya kini membasahi wajahnya, rasanya kenangan kemarin ingin kembali di ulangnya.
Di pejamkanya matanya dan fikirannya kembali di ingatan pada kejadian lima tahun lalu, kejadian yang benar benar menyayat hati.
"Nadya, Dengeri aku ya Sayang!"
Nadya tersenyum mendengar ucapan itu, Rafa yang mengengam tanganya di sebuah lapangan marathon. Saat itu keduanya tengah selesai melakukan marathon bersama seperti biasa dan anehnya kali ini Rafa memintanya untuk bicara berdua.
"Aku sayang sama kamu!" ucap Rafa sembari mengelus rambut.
"Kamu mau bicara apa?" tanya Nadya.
"Aku ingin hubungan kita selesai!" ucap Rafa tampa berani menatap wajah Nadya.
__ADS_1
Nadya langsung melepas gengaman tangan Rafa dan memalingkan wajahnya dari pria itu, tampa aba aba air matanya mengalir begitu saja, jantungnya berdetak lebih kencang, ia sudah tidak dapat mengatakan apa pun lagi. Ucapan pria ini benar benar menyakiti hatinya.
"Aku minta maaf!" ujar Rafa berusaha untuk meraih kembali tangan Nadya yang terlepas dari gengaman tanganya namun, Nadya justru semakin menjauhkanya.
"Aku tau ini nyakiti banget buat kamu, Aku sayang sama kamu tapi aku juga ngk bisa berbuat apa apa, Aku hanya ingin buat kamu bahagia!" ujar Rafa yang kini ikut menagis.
"Bahagia? Hahaha!" tangis sekaligus tawa Nadya pecah secara bersamaan.
"Aku tanya sama kamu, apakah setelah kamu kehilangan orang yang kamu sayang, kamu akan bahagia setelah ini?" tanya Nadya yang kini menatap wajah Rafa dengan tajam.
"Aku ngk mau kamu tersakiti terus oleh keluarga aku!"
"Aku ngk pernah mempermasalahkan itu Raf, Aku sayang sama kamu itu tulus, apa pun resikonya aku terima, termasuk cacian orang tua kamu ke aku!" jelas Nadya yang kini mengengam kedua tangan Rafa.
"Aku yang tidak tega Nad!" ucap Rafa melepaskan gengaman tangan Nadya dan pergi meninggalkan wanita itu.
"Akkkkhhhhhhhhhh!" teriak Nadya dengan kencang di bawah awan hitam yang kini menyelimutinya.
Sejak hari itu, Nadya tak pernah lagi membuka hatinya untuk mencintai pria lain dan ia pun sudah tidak pernah memiliki hubungan dengan siapa pun. Hatinya masih nama Rafa dan ia belum mampu untuk menerima orang baru walau banyak yang ingin mengantikan posisi Rafa.
"Kamu sudah mendapat penganti ku sedangkan aku masih menunggu kembali kehadiran kamu!" gumam Nadya.
Kepala yang tadinya tegak, kini tergelatak di atas kertas yang baru di tulisnya, perasaan yang bertahun tahun sudah di lupakanya, kini kembali hadir di hadapanya.
"Aku sadar aku belum bisa negelupain kamu sepenuhnyan Raf!" gumamnya lagi.
"Dok, bagaimana kondisi teman saya?" tanya Rusdi pada dokter yang baru saja keluar dari ruangan Evandi di rawat.
"Dok, bagaimana kondisi majikan saya?" tanya Sari yang ikut khawatir dan berdiri di sebelah Rusdi.
"Kondisi pasien baik baik saja!"
"Baik baik saja gimana Dok? Tadi teman saya ngringis kesakitan gitu loh!" sewot Rusdi.
"Pasien mengalami lupa ingatan sementara dan untuk saat ini beliau tidak bisa di ajak untuk mengingat masa lalunya yang akan berefek pada kepalanya jadi biarkan beliau mengingatnya secara perlahan!" jelas Dokter itu.
"Lupa ingatan?" ujar Rusdi.
"Iya Pak, tapi ini hanya untuk sementara waktu kok dan pasien masih dapat sembuh dalam beberapa waktu!" jelasnya lagi.
"Kalau begitu saya tinggal dulu Pak!"
"Evandi kehilangan ingatanya Bi!"
"Berarti dia tidak akan ingat dengan saya Bi!" ucap Rusdi yang sudah tidak dapat lagi berkata kata.
"Tidak hanya Den, tapi semua orang yang di lupakanya termasuk Bibi!" ujar Sari dengan sendu.
"Sekarang aku harus kemana?" gumam Tania yang kini duduk di tepi jalan.
"Sampai kapan aku harus begini?" ujarnya lagi.
__ADS_1