
"Issshhh apaan sih!" ketus Safania yang kini sudah berada di depan pintu dan melepaskan tangan Lendra yang melingkar di pergelangan tanganya. Lendra tidak terlalu mempermasalahkan ucapan Safania, matanya terus menoleh pada arah rumahnya agar tidak ada yang melihatnya bersama Safania.
"Kamu pulang dulu ya, mama dan papa masih di sini, jadi mau ngk mau kamu belum bisa tinggal di sini!" Lendra.
"Kamu gila ya? Aku ini istri kamu loh!"
"Tapi kamu hanya istri sirih aku dan mama dan papa taunya aku menikah dengan Tania, aku bisa nikahi kamu karena kemarin mereka tidak bisa hadir kepernikahan aku, mereka baru bisa hadir karena baru pulang dari Amerika, pengobatan Papa!" bisik Lendra tetapi dengan nada tegasnya agar suaranya tidak sampai kedalam rumah dan tidak terdengar oleh orang tua serta adiknya.
"Ini sama saja kamu tidak bersikap adil sama aku!" bantah Safania.
"Ini hanya untuk beberapa waktu Sayang sampai mama dan papa restui hubungan kita dan kamu juga harus tau aku nikahi Tania biar dapat restu dari mama dan papa untuk hubungan kita!"
"Tapi ini ngk adil buat aku!" bantahnya lagi. Lendra kali ini tidak dapat menjelaskan lebih panjang lagi dan ia langsung mendorong tubuh Safania keluar dan segera menutup pintunya kembali, takutnya jika ia terlalu lama mengantar Safania keluar, mamanya akan menaruh curiga padanya dan mengikutinya dari belakang, bahaya jika Liora mendengar pembicaraannya dengan Safania.
"Lendra benar benar keterlaluan!" desis Safania menatap pintu yang sudah tertutup.
"Kamu sudah menyuruhnya pulang?" tanya Liora dan Lendra hanya tersenyum tipis.
"Kamu sekarang bukan lagi seorang lajang yang bebas memasukan perempuan kedalam rumah ini, kamu juga harus menjaga perasaan Tania, istri kamu!" nasihat Delino dengan mata yang ikut menatap pada tayangan televisi yang di putar oleh Naila.
"Entah kenapa, mama tidak suka pada wanita itu, mama menaruh kecurigaan padanya!" Liora.
"Mama jangan berfikir buruk akhh, Mama saja baru bertemu dengan wanita itu pertama kali!" ucap Naila tampa melepas pandanganya dari televisi.
"Tapi feeling seorang ibu itu jarang salah Nai!"
__ADS_1
"Positif aja Ma!" lanjut Naila.
"Tau nih Mama kamu selalu berfikir buruk tentang orang lain!" timbal Delino.
"Ma, Pa ini minumnya!" ucap Tania sembari meletakan minuman yang di bawakanya di atas meja dan memberikan kepada mereka satu persatu.
"Naila jadi ngerepoti Kak!" cengir Naila seraya meneguk minuman yang di berikan Tania.
"Tania kamu ganti baju gih, baju kamu kotor tuh!" pinta Liora setelah meneguk minumanya.
"Iya Ma!" balas Tania tersenyum.
Selepas menyimpan kembali nampan yang di pakainya untuk mengangkat minumannya. Tania masuk kedalam kamarnya. Sebelum menikah dengan Lendra Tania sempat serumah dengan Lendra atas perintah orang tua Lendra dan memberikan Tania kamar sendiri.
Lendra ternyata mengikutinya dari belakang dan ketika Tania membuka lemarinya untuk mengambil pakaian, Lendra muncul di hadapanya.
"Tadi aku ngk sengaja ketemu di jalan Mas!" jawabnya berusaha melepaskan gengaman tangan Lendra.
"Dan kamu mengadukan semua?" tanyanya lagi yang kini kedua bola mata lelaki itu melotot padanya dan semakin mendekatkan tubuhnya dengan Tania, Tania sedikit merasa takut dan sakit akibat dari cengkraman tangan Lendra yang begitu kuat.
"Aku tidak mengatakan apa pun!" jawabnya dengan meringis kesakitan dan kini tangan kirinya ikut membantu untuk melepaskan cengkaraman tangan Lendra.
"Jangan berbohong pada ku!"
"Aku tidak berbohong Mas!" jawab Tania dengan nada yang sedikit tinggi dan langkah kakinya yang terus melangkah kebelakang karena tubuh Lendra terus saja mendekat denganya.
__ADS_1
"Katakan pada ku apa saja yang sudah kamu ucapkan pada mama dan papa!" langkah Lendra terus saja semakin mendekat dengan Tania, kini jarak antara wajahnya dengan Lendra sudah tidak ada, rasa ketakutan Tania semakin membesar.
"Aku sudah bilang, Aku tidak mengatakan apa pun!" ucap Tania.
"Jangan bohong padaku!"
"Lepasi Mas, Sakit!"
Kini tubuh Tania sudah berbentur dengan kasurnya, kakinya sudah tidak dapat melangkahkan kebelakang tetapi tubuh Lendra terus saja mendekatinya. Ia hanya dapat memejamkan matanya untuk menghilangkan rasa takut itu.
Lendra terus saja menatapnya, Tania yang tidak pernah di perlakukan seperti ini, tidak tau harus berbuat apa, kecuali terdiam di bentrokan kasurnya. Tubuh kekar Lendra semakin mendekat dengannya, bahkan kini Lendra mendorong tubuh Tania hingga tertidur di atas kasur.
Tania menghela nafasnya, apa yang akan pria ini lakukan padanya, akankah kesucianya terrenggut malam ini?, ia sempat menatap pada langit langit kamar sebelum kembali memejamkan matanya dan menerima apa pun yang akan Lendra lakukan padanya.
"Tuhan tolonglah hamba mu ini jika pria yang ada di hadapan hamba berniat buruk pada hamba!" gumam Tania dengan pejamanya.
Gusaran nafas Lendra kini terdengar olehnya, sudah tidak ada jarak di antara keduanya, hidungnya kini sudah saling bersentuhan dan malu rasanya jika Lendra mendengar detak jantungnya yang berdetak lebih cepat.
"Aku sudah siap Mas!" ucap Tania pada akhirnya.
Ucapan itu menyadarkan Lendra, ia tersadar dengan apa yang baru saja di lakukanya. Ia langsung bangkit dari posisinya dan memalingkan wajahnya dari Tania. Ia sebenarnya merasa malu pada Tania telah bersikap seperti itu, apalagi jika sampai Tania berfikir jika ia adalah lelaki yang mesum.
Tampa berkata kata, Lendra langsung meninggalkan Tania yang masih tertidur di atas kasur dan kembali menghampiri orang tuanya.
Tak perlu waktu lama, Tania langsung bangkit dari posisinya dan berdiri di depan cermin yang ada di dalam kamarnya dan memperhatikan seluruh postur tubuhnya.
__ADS_1
"Mana mungkin Mas Lendra mau berhubungan dengan ku!" lirihnya menatap pantulan dirinya yang tampak lusu dan kotor apalagi dengan tubuhnya yang kurus, tidak seperti Safania yang memiliki tubuh berisi yang menjadi incaran setiap pria, rasa inscure itu tentu ada padanya.