Madu Dihari Pernikahan

Madu Dihari Pernikahan
Bab 132 - Naila galau parah


__ADS_3

"Kak Lendra!"


Lelaki itu langsung menolehkan oandanganya kearah belakang dan melihat adik kesayanganya sudah berada belakang. Naila merentangkan kedua tanganya dan langsung memeluk Lendra yang sedang menonton televisi.


"Naila senang banget kakak sudah pulang!" ucapnya melepaskan pelukanya.


"Kakak pulang sama siapa?"


"Kak Tania!" jawab Lendra sembari mengelus kepala adiknya dengan lembut.


"Naila, kamu sudah pulang Dek?" tanya Tania yang baru saja keluar dari dapur dengan tangan kanan membawa nampan berisi minuman hangat dan tangan kirinya membawa beberapa makanan ringan dan gorengan yang sengaja di buatnya.


"Sudah Kak!" jawab Naila mengambil nampan dari tangan Tania dan meletakanya di atas meja. Ia juga menumpakahkan minuman yang berada di teko ke gelas yang juga di sediakan Tania.


"Enak banget ya Kak punya istri apa apa di siapkan!" Naila menyeruput minumanya.


"Iya dong makanya nikah!" ledek Lendra.


"Terus kuliah Naila gimana?"


"Tau deh!"


"Gimana keadaan Kak Rusdi?" Naila mengangkat kedua bahunya bersamaan dan memiringkan bibirnya kearah samping.


"Kok bisa ngk tau sih kan kamu baru jenguk kak Rusdi!"


"Naila cuma datang doang yang ngurus kak Rusdi tuh sekretaris kepercayaan Kakak yang genit itu sama kak Rusdi!"


"Kiara?" Naila mengangguk.


"Kenapa ngk kamu saja?"


"Kayaknya kak Rusdi suka deh sama tuh orang!"


"Rusdi tuh ngk pernah suka sama dia buktinya aja kak Rusdi selalu menghindar dari Kiara padahal Kiara selalu mencoba mendekatinya"

__ADS_1


"Malu kali ada Kakak tadi aja kak Rusdi yang manja ke kakak itu bukan sekretaris Kakak!"


"Salah lihat kamu kali!"


"Apaan sih Kak orang yang Naila lihat jelas gitu."


"Terus kamu kok nampaknya kesel kek gitu, jangan bilang kamu suka sama teman Kakak!"


"Apaan sih Kak, Naila itu lagi cape, badmood juga, Jangan gangu!" kesal Naila mengambil tasnya yang berada di sebelah Lendra dan langsung melangkahkan kakinya menuju kamarnya yang berada di lantai atas.


"Naila kenapa Mas?"


"Tau tuh!"


"Jangan, jangan Naila suka sama pak Rusdi, mas?"


"Jangan ngaco kamu, Tan. Aku, Rusdi dan Evandi itu sudah berteman sejak lama, mereka juga sering banget main kerumah bahkan hubungan kita itu sudah seperti saudara jadi, ngk heran kalau mereka juga memiliki kedekatan dengan Naila dan mereka berdua juga sudah menganggap Naila sebagai adik angkat mereka. Tidak mungkin Naila melibatkan perasaanya, aku juga tidak yakin Rusdi menyukai adik ku. Rusdi itu sifatnya dewasa sedangkan Naila sifatnya masih ke kanak kanakan, kamu lihat tuh tadi, mudah banget ngambek. Naila bukan tipe Rusdi!" ujar Lendra panjang lebar.


Lendra bicara tampa memperhatikan sekitarnya. Naila yang masuh berada di tangga keempat masih mendengar semua ucapan kakaknya. Air matanya mengalir begitu saja.


"Kak Lendra jahat banget sih!"


Setelah membuka pintu kamarnya, Naila melemparkan tasnya ke sembarang arah dan memeluk guling yang berada di atas ranjang. Di pandangnya dari kejauhanya foto yang menampakan gambar dirinya bersama Lendra, Evandi dan Rusdi.


"Kenapa harus sedih sih bukan kah dari awal kak Rusdi memang sudah anggap aku adiknya terus apa yang aku galaukan. Sadar Nai, sadar kak Rusdi bukan punya kamu. Kak Rusdi sudah berumur, kak Lendra temanya saja sudah menikah jadi, tidak mungkin kak Rusdi bakal nungguin kamu selesai kuliah. Hayoolah buka logika kamu, kak Rusdi ngk bakal suka sama kamu, kakak kamu saja mengakui itu!"


"Tapi aku suka sama kak Rusdi!" teriaknya kencang.


"Hayolaah Nai gunakan logika kamu!"


"Sudah di depan mata kamu saksikan masak kamu ngk bisa tutup hati kamu. Jangan terlalu menuruti kata hati nanti kami sakit sendiri!"


"Ngk, aku ngk boleh suka sama kak Rusdi kalau aku perlihatkanya ketertarikan ku pasti kak Rusdi bakal risih dan menjauh dari ku. Aku lebih ngk sanggup seperti itu, kak Rusdi ngk boleh tau kalau aku menyukainya.


Gadis kecil berusia belasan tahun itu semakin berkecamuk dengan pikiranya. Entah hati atau logika yang akan di gunakanya. Logikanya benar tapi ja juga tidak dapat menghalangi perasaanya. Hatinya terus saja menyebut Rusdi.

__ADS_1


"Tapi aku suka kak Rusdi!"


"Tapi aku juga ngk mau sakit hati kalau tau kak Rusdi ngk suka aku balik!"


"Tapi aku mau kak Rusdi!"


"Mau kak Rusdi!"


Tisu yang di gunakan Naila untuk menghapus air matanya sudah berantakan hampir memenuhi seluruh kamarnya. Sprei yang menutup penampakan spring bednya juga sudah berantakan. Bantal bantal yang berada di atas ranjangnya sudah berjatuhan di lantai.


"Sakit banget sih jadi dewasa tau gitu jawab mana perhatian lagi sama aku buat repot perasaan aja kalau sudah gini kan jadi aku sendiri yang nanggung perihnya mana kak Rusdi di sana lagi senang senang tuh sama sekretaris centil kak Lendra itu!" oceh Naila yang tidak berhenti.


"Ini tuh salah kak Lendra. Kenapa dia punya teman yang cakep banget, cerdas, pekerja keras, baik kalau saja kak Lendra tidak membawa kak Rusdi dan memperkenalkanya ke aku pasti aku ngk akan segalau ini tapi, ngk mungkin juga akan bilang sama kak Lendra kalau aku suka sama temanya yang ada nanti aku bakal di ledekin dan di bilang ngk laku!"


"Kak Lendra ngk boleh tau tentang perasaan aku ini!"


"Aku ngk sanggup nanti kalau harus terus terusan lihat kak Rusdi berdua sama wanita itu, aku ngk sekuat kak Tania!"


"Akhhhh kak Rusdi kenapa sih kamu buat repot perasaan saja mana wajah selalu terbayang lagi apalagi senyumanya manis banget!"


Naila menarik selimutnya dan menutup tubuhnya dengan benda itu. Bolak balik di buka tutupnya wajah tetap saja bayangan Rusdi tidak terlepas dari benaknya.


Aaaaaaaaaaa


"Akankah aku akan gila begini karena kak Rusdi?, tidak boleh, aku harus segera menyingkirkan perasaan ini atau diri ku saja yang ku singkirkan?" gumamnya.


"Naila bukan tipe Rusdi!" bayangan saat Lendra mengucapkan kalimat itu kembali terlintas di kepala Naila.


"Selera kak Rusdi seperti apa ya?" Naila kini terduduk di atas ranjangnya. Jari telunjuknya menempel di dagunya. Ia mulai membayangkan gambaran wanita idaman lelaki itu.


Pertama yang terlintas di pikiranya, Naila membayangkan wanita itu memilki tubuh yang berisi memakai pakaian yang cukup ketat tampa mengunakan hijab.


"Ngk, ngk mungkin kak Rusdi suka dengan wanita seperti itu.


Bayangan kedua yang muncul di pikiranya Rusdi menyukai wanita wanita sholeh yang mengunakan gamis sebagai keseharianya dan hijab panjang yang menutup bagian dirinya.

__ADS_1


Menghilangnya bayangan itu dari kepalanya Naila langsung melihat kearah dirinya yang mengunakan jilbab masih di lilit lilit di leher.


__ADS_2