
"Pa, Papa sudah makan?" tanya Tania yang kini sudah berada di ruangan Delino dan ia juga menutup setengah dari tubuh lelaki itu dengan selimut karena ia melihat mertuanya lelakinya itu kedinginan.
"Tadi Papa sudah makan kok disiapkan oleh Suster Nak!" jawab Delino.
"Oh iya, Papa mau ganti pakaian dulu atau gimana Pa atau Papa mau dilap tubuhnya mungkin Papa sudah sangat gerah dengan pakaian Papa?" tanya lagi.
Ternyata secara diam diam Lendra sudah sejak tadi menyaksikan Tania yang bersikap sangat hangat pada Papanya didepan pintu ruangan Delino, lelaki itu tersenyum menatap kedekatan yang terjalin antara Tania dengan keluarganya, biar bagaimana pun ia ikut tersenyum melihat Tania yang selalu memperlakukan keluarganya dengan baik.
Lendra memang sangat membenci Tania tapi ia juga tidak munafik untuk mengatakan jika ia ikut merasakan kebahagian yang disalurkan oleh gadis yang sudah berstatus sebagai istrinya itu.
Delino mencolek sedikit bagian pinggang Tania dan menaikan sebelah alisnya pada menantunya untuk memberikan ibarat pada gadis itu agar menatap kearah pintu dan melihat Lendra yang sedang mengintip kearah mereka dan Tania hanya dapat tersenyum malu dengan sikap Lendra yang dinilainya sangat gengsian.
"Gimana keadaan Mama sekarang?" tanya Delino yang berpura-pura pekan tidak memperhatikan Lendra yang terus menatap kearah mereka.
"Mama sudah membaik kok Pa dan Mama juga sudah sadar, Papa cepat sembuh ya biar bisa jenguk Mama juga!"
"Lendra kemarilah Nak, jangan bersembunyi di balik pintu seperti itu!" ujar Delino tampa menoleh kearah pintu.
Tania langsung menatap kearah Lendra yang sedang berjalan menghampiri kearah mereka. Tania menundukan pandanganya kearah bawah agar Lendra tidak mengetahui jika ia sedang menahan tawa karena ulah suaminya ini daj benar saja Lendra langsung menatapnya dengan tajam.
"Papa mau bicara sama kamu dan Tania!"
Kali ini Tania terdiam dan benar benar tertunduk, ia juga tidak tahu apa yang akan dikatakan oleh mertuanya sedangkan Lendra terus menatapnta dengan tajam.
__ADS_1
"Papa ingin bicara apa!"
"Papa ingin kamu menuruti permintaan Papa ini!"
"Iya Papa mau apa dari kita Pa?" ucap Lendra, kini Lendra dan Tania saking menatap satu sama lain.
"Papa ingin mempunyai cucu dari kalian berdua untuk itu Papa mau kalian segera melakukan honeymoon untuk biaya biar Papa yang siapkan semuanya dan untuk lokasi Papa serahkan pada kalian berdua!"
"Pa, Papakan tau Lendra banyak kerjaan di kantor, Lendra ngk sempat buat gitu gituan lebih baik Lendra selesaikan pekerjaan Lendra dulu ya!"
"Kalau menunggu kerjaan kamu selesai sampai Papa tutup usia pun kerjaan kamu tidak bakal selesai selesai, Papa hanya ingin mempunyai cucu, apalagikan kamu anak sulung Papa dan anak bungsu Papa juga belum menikah lalu ke siapa minta cucu kalau bukan ke kamu, tidak lucu rasanya jika Papa meminta pada Naila yang belum menemukan jodohnya!"
"Iya tapi untuk saat ini kerjaan Lendra masih numpuk banget Pa, Lendra belum bisa dalam waktu dekat ini!"
"Kamukan punya karyawan, kamu bisa memerintahkan mereka untuk mengerjakan kerjaan kamu, apalagi orang orang kepercayaan kamu adalah sahabat kamu jadi, tidak mungkinkan mereka berkhiatan, jika hal itu pun terjadi itu hanya kemungkinan kecil karena kamu, Rusdi dan Evandi berteman juga sudah lamaran!"
"Tapi tidak semudah itu Pa!"
"Biar seluruh biaya Papa yang tanggung!"
"Ini bukan masalah biaya atau uang Pa, tapi Lendra juga harus bersikap adil pada istri Lendra, Safania juga istri Lendra dan bagaimana pun dia adalah menantu Papa, mau tidak mau Papa dan Mama juga harus menerima dia sebagai anggota keluarga di rumah ini, jadi jika Lendra dan Tania honeymoon, maka Lendra dan Safania juga harus melakukan hal yang sama, Lendra akan mencoba untuk menjadi suami yang adil!"
Tania hanya dapat menarik nafasnya panjang dan menghembuskanya gusar. Lendra selalu saja memikirkan perasaan Safania, istri keduanya dan bersikap seolah adil pada orang tuanya, padahal selama ini juga ia tidak pernah mendapat perlakuan yang adil, Safania selalu mendapat sikap hangat dan cairnya dari seorang Lendra sedangkan ia harus menangungg sikap dan dingin dan tidak pedulinya suaminya padanya.
__ADS_1
"Papa ngerti maksud kamu dan syukurlah jika dihati kamu masih ada niatan untuk bersikap adil dan Papa juga senang dengar, tapi Papa ingin memperpanjang keturunan Papa dari kamu dan Tania, Papa ingin dalam minggu ini kamu melaksanakan bulan madu dengan Tania dan minggu berikut dengan Safania karena Tania istri pertama kamu, jadi sudah sebaiknya Tania yang lebih dulu, seperti yang kamu bilang harus bersikap adil!"
"Pa, tapi ngk bisa Pa!"
"Lendra ngk cinta dan Lendra juga ngk punya perasaan apa pun dengan Tania jadi, Lendra ngk bisa wujudkan permintaan Papa!"
"Tapi bukankah kamu yang bilang harus bersikap adil?"
"Sudah Pa, tidak apa apa Tania mengerti kok dengan posisi Lendra, iya bagaimana pun kita tidak bisa memaksakan Mas Lendra agar mencintai Tania. Tania yakin dan percaya kok kalau suatu saat nanti Mas Lendra bisa mencintai Tania seperti Mas Lendra mencintai Safania!" ujar Tania tersenyum pada Delino walau sebenarnya ia sendiri sangat sakit mendengar jawaban Lendra, tetapi bagaimana pun Lendra sudah mengatakan hal jujur dan Tania sangat menghargai hal itu.
"Papa tidak mau tau kalian berdua harus melaksanakan haneymoon, Papa ingin cucu dari kalian!"
"Pa, Tolong hargai keputusan Lendra, Lendra ngk bisa Pa!"
"Lendra tolong kamu juga hargai perasaan Tania, Apa kamu tidak memikirkan gimana hancurkan hati Tania kamu mengatakan hal itu dihadapanya!"
"Pa, Lendra mengatakan hal itu agar Tania tidak terlalu berharap pada Lendra, Pa, justru semakin tidak baik jika Lendra bersikap seolah olah Lendra mencintainya sedangkan Lendra tidak memiliki perasaan apa pun padanya, Lendra tau kalau Tania orang baik dan Lendra tidak ingin jika Tania merasakan kekecawaan yang mendalam sama Lendra!"
"Tidak habis pikir dengan kamu, Lendra!"
"Pa!" Delino justru membalikan badanya dan membelakangi Lendra dan Tania. Tania menaikan kedua pundaknya secara bersamaan saat Lendra menatapnya, memberikan jawaban atas tatapan Lendra itu jika ia tidak tau harus berbuat apa.
"Pa, jangan ngambek gitu dong Pa, ngertiin posisi Lendra juga!"
__ADS_1
"Iya setelah Papa dan Mama sembuh, Lendra dan Tania akan honeymoon seperti permintaan Papa!" ujar Lendra pada akhirnya setelah keheningan yang terjadi beberapa menit didalam ruangan ini dan ia sudah berulang kali untuk berbicara pada Delino tapi sepertinya Papanya lebih asyik dalam diamnya dan mengabaikanya dan mendengar penuturan Lendra itu secara spontan Tania juga menatap kearah suaminya yang memasang wajah kesal itu.
"Kamu serius?" tanya Delino yang langsung memutarkan kembali tubuhnya dengan mata yang penuh binaran.