
Keesokan paginya Dokter sudah membolehkan Lendra pulang. Tania segera merapikan barang barang suaminya selama di rumah sakit dan memasukanya kedalam tas. Ia sengaja tidak mengabari orang rumah untuk memberikan kejutan pada mereka. Walau pun sudah boleh pulang Lendra masih harus mengomsumsi obat obatan yang sudah di berikan untuknya. Untuk sementara waktu ini juga lelaki itu harus mengunakan kursi roda.
Tidak sedikit mata yang mengarah pada mereka. Pandangan pengunjung rumah sakit banyak mengarah pada istrinya. Lendra merasa risih dengan hal itu, entah itu perasaan cemburu. Ia juga mulai merasa inscure dengan keadaanya sekaranga. Ia sudah tidak berdaya dan tidak layak untuk di pertahankan. Lendra hanya terdiam tampa mengutarakan apa pun, ia yakin Tania pasti sedang menahan malunya karena harus berjalan sembari mendorong kursi roda. Memiliki suami tapi tidak dapat di andalkan.
"Mas, kamu mau tunggu sini atau ikut aku mau bayar administrasi kamu selama di rumah sakit!" ujar Tania menyamakan tinggi tubuhnya dengan kursi roda Lendra. Lendra menolak ajakan Tania, memilih untuk tinggal kasihan Tania harus mendorongnya lagi. Sebelum itu juga Lendra menanyakan dari mana asal uang Tania biaya rumah sakit tidak murah dan ia belum memberikan uang pada istrinya.
"Mama dan Papa kasih aku atm beserta passwordnya, jumlah uangnya juga lumayan jadi, bisalah aku pake buat bayar biaya rumah sakit kamu, Mas!"
"Uang dalam atmnya emang ada berapa?" Lendra mengerutkan keningnya.
"Tujuh ratus lima puluh juta Mas!" jawab Tania. Lendra membulatkan bola matanya secara sempurna. Serasa ia tidak percaya atas apa yang baru di dengarnya. Orang tuanya memberikan jumlah uang yang tidak sedikit pada orang lain sedangkan perusahaan milik anaknya sendiri di tarik. Tidak adil. Dahulu jumlah uang segitu tidak ada apa apanya bagi Lendra namun, sekarang uang dengan jumlah segitu sangat berarti baginya.
"Kamu serius?" Tania hanya mengangguk.
"Mas setelah beberapa hari di rawat di rumah sakit dan sekarang kamu sudah boleh pulang. Aku ingin merayakan momen ini bersama anak anak yatim sekitaran rumah kamu. Aku ngk yakin sih tapi kalau mau ikut kamu kabarin aku. Aku ngk mau salah memanfaatkan uang pemberian mama dan papa, aku akan semaksimal mungkin mempergunakanya dengan baik agar tidak menjadi timbangan bagi ku di akhirat!" Tania.
__ADS_1
"Tania apa yang dokter katakan mengenai kondisi ku ini. Apakah aku akan tetap lumpuh?, apa aku akan menghabiskan sisa hidup ku diatas kursi roda ini?" Tania hanya tersenyum.
"Tania juga tidak tau Mas, Dokter hanya mengatakan kamu lumpuh untuk sementara waktu. Aku berharap dan mendoakan kamu cepat sembuh dan bangkit dari keadaan kamu sekarang. Aku yakin kamu bisa melalui semua ini!" ucap Tania lagi tersenyum dan mengelus pundak suaminya dengan lembut. Ia kemudian meninggalkan Lendra di tempatnya dan melangkahkan kakinya menuju administrasi. Lendra memandangi sekitarnya begitu banyak orang yang duduk di kursi tunggu mungkin merekq juga tengah menunggu orang orang yang mereka sayangi di rawat di rumah sakit ini. Ia juga menatap orang orang cacat yang sendiri. Ia merasa lebih beruntung dari orang itu karena ia masih memiliki Tania yang setia merawatnya.
Seuntai senyum terbit di bibir pria itu. Senyumnya perlahan memudar saat seorang Dokter muda cantik menghampirinya mengunakan kemeja kerjanya. Wanita itu menghampiri Lendra dengan senyum sumringahnya. Lendra justru mengerakan kursi rodanya menjauh Dokter muda itu. Wanita itu mempercepat langkahnya dan menarik kursi roda Lendra dari belakang agar pria itu tidak semakin jauh darinya.
"Kenapa kamu menghindari ku seperti itu Lendra. Aku ini seorang Dokter, tidak mungkin aku mencelakai pasien ku. Jangan konyol!" ujar wanita itu dengan sinis. Lendra tidak sedikit pun menoleh padanya. Untuk menatap wajah wanita itu rasanya Lendra sangat malas. Ia berharap Tania lekas kembali dan menbawanya pergi jauh dari tempat ini.
"Masihkah kamu membenci ku?"
"Lendra aku minta maaf!"
"Jika hanya aku yang kamu sakiti mungkin aku masih dapat memaafkan mu tapi adik kesayangan ku terlibat dalam hal ini. Siapa pun yang sudah menyakiti adik ku maka, tidak akan ada maaf dari ku. Silahkah kamu pergi hadapan ku dan jangan pernah menampakan diri lagi di depan ku. Aku benci kami dan keluarga mu!" ucap Lendra dengan menekan kalimat terakhir yang keluar dari mulutnya.
"Lendra kamu boleh membenci ku tapi, jangan sangkutkan dengan keluarga ku. Kamu benci sama ku karena adik mu terlibat lalu, apa bedanya kamu sama aku?, Lendra jangan egois!"
__ADS_1
"Aku egois kamu bilang?, kamu ingin aku tidak melibatkan keluarga kamu. Heyy sadarlah Dokter Ira, kamu dan keluarga mu adalah penyebab kehancuran adik ku, Kakak mu Deri sudah meninggalkan luka dan trauma yang mendalam pada adik ku. Kamu menguras seluruh harta ku demi kepentingan keluarga ku. Ayah mu sudah memfitnah papa ku dan ibu mu sudah mempermalukan mama ku di hadapan orang banyak lalu, sekarang kamu marah aku benci pada keluarga mu!" ucap Lendra kini menatap wanita itu dengan tatapan tajam penuh dendam.
"Atas nama keluarga ku, aku minta naaf Lendra!"
"Maaf mu tidak akan pernah menyembuhkan luka dan trauma di keluarga ku bahkan adik ku sekarang sangat sulit mempercayai laki laki lain dan ibu ku pernah menjadi perbincangan orang banyak. Aku hanya minta satu Ira, jangan pernah nampakan wajah mu dan keluarga mu di hadapan keluarga ku!"
"Mas Lendra!" panggil Tania ia berjalan menghampiri keduanya dan menatap Dokter Ira dengan tatapan yang sulit di artikan. Ia langsung berdiri di belakang kursi roda suaminya. Lendra spontan mengelus tangan Tania yang berada di atas pegangan kursi rodanya dan kemudian mengecupnya penuh ketulusan. Tania semakin di buat terkejut mendapat perlakuan seperti ini.
"Dia siapa Mas?" tanya Tania mendekatkan wajahnya dengan Lendra. Sebelumnya dari kejauhan Tania sudah memperhatikan perbincangan mereka yang tampak serius dan Tania sudah dapat menduga hal yang mereka bicarakan bukanlah hubungan antara seorang Dokter dengan pasien. Selama di rumah sakit, Dokter ini tidak pernah menangani mertua dan suaminya dan ia juga baru melihatnya hari ini tapi dilihat sepertinya mereka pernah memiliki kedekatan.
"Saya Dokter di rumah sakit ini Bu, tadi saya melihat Bapak ini sendirian jadi saya samperin deh!" bohong Ira. Lendra semakin muak dengan wanita itu.
"Mas?"
"Iya Tan, dia Dokter di sini dan dia tadi mau bantuin aku aja kok!"
__ADS_1
"Bantuin?, emang kamu kenapa Mas?" Tania mulai menaruh curiga. Ia melihat Lendra baik baik saja. Suaminya hanya melemparkan senyum manis padanya dan menyuruh Tania untuk mendorong kursi rodanya dan meninggalkan Dokter Ira tampa berpamitan. Tania memang melaksanakan perintah Lendra tapi matanya tak henti henti menoleh kearah belakang dan Dokter Ira juga masih memperhatikan kearah mereka. Tania semakin curiga. Ada hubungan apa sebelumnya Dokter itu dengan suaminya?.