Madu Dihari Pernikahan

Madu Dihari Pernikahan
Bab 42 - Terkunci di kamar


__ADS_3

"Sudah selesai make upnya Ibu Kiara terhormat?" tanya Rusdi yang kini menatap Kiara yang masih tertunduk malu. Kiara hanya dapat menganggukan kepalanya pelan, sedangkan karyawan lain hanya dapat tersenyum tipis karena menahan tawa mereka.


"Baiklah, Saya akan mulai pembahasan kita dan alasan saya memerintahkan kalian untuk berkumpul di tempat ini!" ucap Rusdi setelah Tarakan nafas pertamanya.


"Kantor kita tutup hari ini dan kita akan melakukan pencariaan atas istri tuan Lendra terhormat!" ucap Rusdi. Semua mata kini tertuju pada lelaki itu. Mereka mengira jika istri pemilik perusahaan mereka bekerja adalah Naila, gadis yang sebelumnya di bawa oleh Lendra ketempat ini. Gadis yang terbilang cukup manja.


"Maaf Pak, Bukanya Pak Lendra masih lajang?" tanya Kiara berusaha memberanikan diri setelah rasa malu yang di tahanya.


"Atau Perempuan yang kemarin di bawa Pak Lendra adalah istrinya?" tanya salah satu Office Boy.


"Bukan, gadis yang kemarin di bawa Pak Lendra bukan istri beliau, melainkan adik kandung beliau dan adiknya itu termasuk anak yang manja pada kakaknya, makanya ia kemarin bersikap seperti anak kecil dan kalian juga harus menghormati beliau!" jelas Rusdi.


Kini pertanyaan yang kemarin yang menjadi teka teki di kantor ini tentang Naila, akhirnya terungkap dan tidak akan ada lagi kesalah pahaman di antara mereka.


"Kalian perhatikan foto ini!" ucap Rusdi dengan menunjukan layar ponselnya kehadapan seluruh karyawan yang menampakan foto Tania seorang diri menggunakan kebaya yang di pakai gadis itu saat akan melangsungkan akad. Foto itu sempat di ambil oleh tata rias yang memake upi Tania.


"Temukan wanita ini!" ucap Rusdi.


"Bapak kirimkan saja fotonya kesaya, nanti akan saya sebar kepada yang lain!" ujar Kiara.


"Catet nomor kamu dan langsung kirim foto ini ke kontak kamu!" ucap Rusdi sembari menyerahkan ponselnya kepada Kiara dan Kiara langsung menerima ponsel Rusdi dan segera melaksanakan perintah Rusdi. Akhirnya ia memiliki nomor lelaki yang di sukainya, girang Kiara dalam hati.


Setelah Kiara kembali menyerahkan ponselnya kepadanya, Rusdi langsung meninggalkan tempat ini dan melangkahkan kakinya menuju parkiran mobilnya.


Naila segera turun dari dalam mobilnya dan langsung berlari kedalam rumahnya dan memasuki kamar pribadi milik yang di khususkan untuknya jika ia berkunjung kerumah kakaknya. Ia langsung membuka laptopnya dan mencetak browser browser untuk mencari kakak iparnya. Alat print yang sudah lama tidak di pakainya, kembali di gunakanya.


"Semoga dengan ini kak Tania dapat di temukan!" gumam Naila menatap layar laptopnya dan jari jemarinya mulai di sibuk menekan setiap keyboard laptopnya.

__ADS_1


"Stoppp!" teriak Tania. Secara mendadak pula Evandi menghentikan laju mobilnya di depan sebuah rumah mewah dan bangunan megah serta dengan pekarangan yang sangat luas.


Evandi menatap rumah besar itu dengan seksama, sepertinya rumah ini sudah tidak asing baginya, bahkan ia terlintas di pikiranya jika ia sering berkunjung ketempat ini. Tapi, ia juga tidak dapat mengingat kapan ia datang kesini. Tampa basa basi Tania segera berlari kedalam rumahnya dan meninggalkan Evandi yang masih berada di dalam mobil.


Dari pada berdiam diri hanya di dalam mobil, Evandi memasukan mobilnya kedalam parkiran yang berada di halaman rumah ini dan menanyakannya pada Security yang menjaga gerbang rumah ini.


"Ma!" panggil Tania sembari menekan bel rumahnya. Tak mendapat jawaban, Tania mendorong pintu masuk rumah Lendra dan untungnya pintu rumahnya tidak di kunci oleh Naila. Di dapetin seluruh ruangan rumah ini dalam keadaan sepi dan hening, sepertinya tidak ada orang, pikirnya.


"Ma!" panggil Tania lagi.


"Pak, Parkiran mobil di sini di mana ya?" tanya Evandi yang sudah turun dari dalam mobilnya dan menghampiri pos Satpam yang ada di pekarangan rumah Lendra. Satpam itu memperhatikan seluruh penampilan Evandi dari atas hingga bawah, bahkan ia mengelilingi tubuh lelaki itu untuk memperjelas penglihatanya.


"Tuan Evandi makin lucu aja ya ngelawaknya!" ucap Security itu dengan tawa lepasnya sembari memukul pundak kanan Evandi. Evandi menatap tangan Security itu. Lelaki ini sepertinya sudah memiliki keakraban dengannya.


"Biasanya juga langsung parkir!" balas Security itu lagi setelah tawanya selesai.


"Ya jelas saya kenal dong Den, Tuan Evandi inikan temannya Tuan Lendra, masak saya tidak kenal dengan teman majikan saya, apalagi Den dulukan sering main kesini!"


"Tapi kenapa ya Den akhir akhir ini Den jarang banget main kesini?"


"Bapak kenal saya? Tapi saya kok ngk ya?" ucap Evandi sembari memberikan kunci mobilnya pada penjaga gerbang rumah Lendra itu, lalu pergi meninggalkanya dan berjalan menuju rumah Lendra.


Senyum lebar yang tadinya terukir jelas di wajah lelaki yang memiliki usia tidak terpaut jauh darinya itu, kini memudar sempurna. Kata kata yang keluar dari mulut Evandi sedikit menyakitkan namun, hal ini sudah biasa terjadi karena keduanya memang sudah memiliki ikatan pertemanan.


"Evan, Evan, belagu luh, biasanya juga ngajak main bareng!" teriak Security itu karena Evandi sudah mulai menjauh darinya. Ia segera menghampiri mobil Evandi dan memarkirkanya di tempat parkiraan mobil.


"Mama!" panggil Tania lagi yang kini ia mulai menaiki lantai atas rumah Lendra.

__ADS_1


"Besar juga rumah gadis ini!" gumam Evandi menatap sudut sudut rumah Lendra dan kemudian memilih untuk duduk di sofa yang berada di ruang utama rumah besar ini sembari menunggu Tania turun dari lantai atas.


"Mama, Papa!" panggil Tania.


"Kemana sih mereka?" ujar Tania yang kini ia sudah berada di depan pintu kamar Naila dan ia melihat jika kamar adik iparnya itu tidak terkunci. Ia menatap kedalam arah ruangan ini dari kejauhan, tidak ada orang di temukanya. Tania menutupnya dan menguncinya mengunakan kunci cadangan yang ada di dalam laci meja yang berada di depan kamar ini.


"Pake jatuh segala lagi!" keluh Naila mengambil lembaran browser yang terjatuh di bawah meja dan mengumpulkannya bersama lembaran lembaran lainnya.


Ia mulai mengumpulkan browser browser itu menjadi satu dan siap di bawanya kejalanan untuk di sebarkan. Naila kembali mencoba membuka pintu kamarnya, namun tetap saja tidak bisa. Pasti ada orang yang sengaja mengurungnya, tetapi siapa, diakan hanya seorang diri di rumah ini, pikir Naila.


"Mama!" panggil Tania yang masih berkeliling di sekitar tempat ini untuk mencari keberadaan mertuanya, ia juga melihat kamar Liora, namun hanya kekosongan yang di dapatnya.


"Siapa pun yang berada di luar tolong buka pintunya!" teriak Naila dari dalam kamarnya dan mengetuk pintunya dengan sekuat tenaganya.


Lama menunggu Tania yang tidak segera turun dari lantai atas, Evandi memutuskan untuk mengikuti Tania sekalian untuk berkeliling di bangunan megah ini karena ia merasa sangat tidak asing dengan rumah ini.


"Tolong bukain pintunya!" teriak Naila.


"Ada orang di dalam?" gumam Evandi yang sudah berada di lantai atas dan mendengar adanya suara teriakan seorang wanita dari balik pintu. Evandi yang tidak mengetahui dari mana arah suara itu segera berlari mencari sumber suara.


"Siapa pun yang berada di luar, tolong bukain pintunya!" teriak Naila lagi dengan suara yang lebih kerasa dan mengetuk pintunya. Namun, karena suaranya terhalang oleh dinding kamar, Evandi hanya dapat mendengarnya secara samar samar.


"Mungkin gue salah lihat saja kali yak!" gumam Evandi setelah mengelilingi sekitarnya namun, tak di temukanya sumber suara itu.


"Mungkin aku hanya salah dengar saja!" gumam Evandi yang kini sudah berada tepat di depan pintu kamar Naila.


"Bukain pintunya!"

__ADS_1


Evandi sontak terkejut, tiba tiba saja suara besar dari belakangnya memenuhi indra pendengaraanya, ia segera menjauhkan tubuhnya dari pintu itu dan menatapnya dengan seksama, setelah berfikir agak panjang, akhirnya Evandi memutuskan untuk mendobrak pintu kamar Naila.


__ADS_2