
Lagi, lagi Vania tidak dapat mengontrol mulutnya, bibirnya dengan sangat mudah mengatakan sesuatu yang belum pasti kebenarannya, seperti sebelumnya setelah Delino keluar dari ruanganya Vania kembali merasa bersalah, sebenarnya ia tidak ingin melontarkan kata kata menyayat hati itu, namun jika memandamnya juga akan terasa sesak didadanya.
"Akhhhhh, dasar bod*h, mulut apa ini, bisa bisanya aku mengatakan hal seperti itu jika Mama tau pasti mama akan marah besar ke aku, maafin Vania, Ma, Vania!" lirih Vania yang sudah tidak dapat melanjutkan ucapanya karena dadanya sudah terasa sangat sesak karena terlalu banyak menangis.
"Rafa!" lelaki itu memutarkan kepalanya dan mengalihkan pandanganya pada Vania yang duduk disebelahnya dengan menyenderkan kepalanya dibahu lelaki itu. Rafa tidak menjawab panggilan Vania ia hanya membalasnya dengan seuntai senyum manis miliknya.
"Kalau suatu saat nanti kamu dipertemukan dengan wanita yang jauh lebih sempurna dengan aku. Apakah kamu akan tetap memilih aku atau meninggalkan aku?" tanya Vania menatap wajah Rafa.
"Aku tidak bisa menjawab pertanyaan kamu karena kita tidak ada yang tau takdir, perasaan kita bisa berubah sewaktu waktu, tapi sesuatu yang sudah menjadi milik kita tidak akan dapat di ganti, jika suatu saat nanti kamu tidak bisa ku miliki seutuhnya setidaknya aku sudah berusaha untuk menjaga dan melindungi kamu. Pada dasarnya jodoh itu sudah ditentukan sebelum kita terlahir tetapi, jika kita tidak memperjuangkannya maka jodoh itu juga akan tetap diam ditempat, begitu juga sebaliknya mau sekuat apa pun kita memperjuangkan seseorang jika bukan kita yang tertulis dilauful madfuz maka sampai kapan pun dia tidak akan pernah menjadi milik kita!"
Vania dengan seksama mendengar jawaban sekaligus penjelasan dari Rafa, kekasihnya. Ia sedikit kecewa dengan jawaban yang Rafa lontarkan, ia sangat mengharapkan jika Rafa mengatakan kalau ia akan tetap memilih dirinya meskipun beribu yang sempurna menghampirinya, ternyata jawaban Rafa melampaui pola pikirnya, tetapi jawaban Rafa tidak seluruhnya kekecewaan bagi Vania karena apa yang dikatakan Rafa memang benar dan tidak akan mungkin seseorang dapat menentang takdir sekalipun ia orang yang berkuasa di bumi ini.
"Jika disuatu saat hubungan kita bermasalah, apakah kamu akan tetap memperjuangkan aku atau memilih untuk mengakhiri hubungan ini?"
"Aku tidak bisa memastikan tapi yang jelas aku akan berusaha untuk memperjuangkan hubungan kita!" ujar Rafa yang kini menatap Vania seraya mengelus rambut Vania yang menjalar dipundaknya.
Air mata Vania semakin membanjiri wajahnya kala mengingat momen itu, sekarang ia mengerti dengan maksud ucapan Rafa. Kini Nadya datang kedalam hubungannya sebagai orang baru dan Rafa lebih memilih orang baru itu dan mengabaikanya di ranjang rumah sakit. Ingin marah, ingin meluapkan seluruh amarahnya namun, setiap kali ia sudah mengungkapkan seluruh isi hatinya ia terus merasa bersalah, lantas apa yang harus dilakukanya.
__ADS_1
Vania menghapus air mata yang membasahi wajahnya, menetralkan nafasnya dan menarik nafasnya panjang untuk menenangkan dirinya, ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan banyak orang apalagi sekarang Fikri datang menghampirinya.
"Maaf Bu, Saya sudah lancang masuk keruangan Ibu tampa izin terlebih dahulu!" ujar Fikri dengan sopan seraya membungkukan badanya dihadapan Vanua yang sedikit pun tidak menoleh padanya.
"Ada apa kamu masuk kesini?" tanya Vania datar.
"Kantor sedang ada rapat Bu dan saya juga sudah berhasil menemukan Pak Vandir, tugas saya selesai. Apakah saya boleh kembali kekantor untuk menyelesaikan tugas saya yang lain. Tadi saya sudah mencari pak Rafa tapi saya tidak menemukan beliau sepertinya beliau sudah tidak berada dirumah sakit!"
Vania terkejut mendengar penuturan Fikri, ternyata apa yang dikatakan oleh Rafa dan Vandir benar. Rafa tidak hanya memperdulikan Nadya saja, tetapi karena Nadya yang lebih dulu sadar darinya dan memilih untuk menjenguk Nadya yang sedang syok karena tidak mengetahui keberadaan Vandir. Rasa bersalah itu semakin mendalam dalam diri Vania.
"Ibu apakah saya sudah boleh untuk melanjutkan pekerjaan saya yang lain?" tanya Fikri kembali mengulangi pertanyaan yang sama melihat Vania yang tidak memberikan respon apa pun dan malah termenung ditempatnya.
"Maaf Bu perihal gadis itu saya tidak tau dan saya baru saja melihatnya karena saya bekerja dengan Pak Rafa juga belum terlalu lama, jika Ibu ingin menanyakan sesuatu sebaiknya pada Pak Safar saja, beliau adalah kepercayaan Pak Rafa sekaligus karyawan yang paling lama bekerja dengan Pak Rafa!" saran Fikri.
"Yasudah kamu boleh melanjutkan pekerjaan kamu!"
"Aku harus cepat sembuh dan meminta maaf pada Rafa dan Nadya karena telah menuduh mereka yang tidak tidak, terlebih pada Pak Vandir yang sudah ku sakiti hatinya hanya karena rasa cemburu yang membara dalam diri ku!" gumam Vania.
__ADS_1
Vania memejamkan matanya, pikiranya kembali menerawang kejadian beberapa menit yang lalu. Maaf, juga tidak akan mampu untuk mengobati luka atas ucapan yang sudah dilontarkanya.
Gadis itu membuka selang infus yang melekat dipergelangan tangannya, ia tidak ingin memperpanjang rasa bersalahnya. Dimaafkan atau tidak, setidaknya rasa penyesalan itu diungkapkannya namun, ketika ingin beranjak dari ranjangnya, tubuh Vania terasa sakit, ia memegangi pinggangnya yang terasa rapuh.
"Awwwshh sakit sekali!" lirih Vania namun ia tetap memaksakan untuk tetap mencari Rafa dan Nadya hingga ia terjatuh kelantai.
"Arhan!"
Lelaki itu hanya memainkan ponselnya dan tidak menoleh sedikit pun pada Sendro yang sudah berdiri di belakangnya.
"Arhan!"
"Apa sih Pa? Papa mau nyuruh Arhan buat ngelakuin apa yang sudah Safania perintahkan? Pa, kita memang gila uang tapi tidak seperti ini juga, Arhan tidak ingin menyakiti wanita itu, dia tidak ada salah ke Arhan, Pa!" jawab Arhan yang seakan ia sudah mengerti dengan maksud kedatangan Sendro yang menghampirinya di tepi kolam renang.
"Apa kamu tidak ingin mendapat upah? Apa kamu menginginkan usaha kita sia sia belaka tampa mendapat sebesar gaji pun. Safania hanya menyuruh mu untuk menjebaknya bukan untuk melakukan hal yang aneh aneh!"
"Hanya menjebak Pa? Pa, Papa mikir dong dengan aku menjebak wanita itu, ia akan bertengkar dengan suaminya dan dia juga pasti akan di benci oleh keluarga pihak laki laki dan rumah tangga mereka berantakan dan saat itu jagalah aku berhasil membuat sepasang suami istri berpisah hanya karena harta. Arhan ngk bisa Pa, Arhan memang termotivasi untuk kaya tapi Arhan juga ngk bakal ngehalilin semua cara untuk itu kalau Papa mau Papa saja sama Safania, Arhan ngk bisa!"
__ADS_1
"Bisa apa kamu tampa uang, mau seberapa lama kamu bersikap seperti ini, Papa cuma mau lihat seberapa lama kamu bertahan tampa bantuan Papa!" Arhan menghentikan langkahnya mendengar teriakan Papanya yang masih berada di tepi kolam renang sedangkan ia sudah beranjak meninggalkan lelaki itu.
"Dasar anak tidak tau diuntung!" rutukĀ Sendro menatap kepergian Arhan yang mulai menjauh dan menendang sebuah batu yang berada didekatnya.