
Lendra membawa Tania masuk kedalam kamar dan melerang istrinya melanjutkan masaknya. Tania di perintahkan Lendra yntuk duduk di tepi ranjang sedangkan ia duduk di atas kursi rodanya tepat di hadapan Tania. Di pasangnya wajah tegasnya.
"Di rumah ini ada pembantu jadi, kamu ngk perlu repot repot buat masak kalau kamu dalam bahaya seperti tadi bagaimana?, gimana kalau ngk ada mama?"
"Mas!"
"Tan, aku hanya tidak ingin kamu kenapa kenapa!"
"Aku ngkpp Mas tadi itu adalah dampak memasak yang biasa dan tadi ngk bakal terjadi kok kalau aku ngk melamun yang salah bukan memasak Mas tapi, aku!"
"Apa pun alasanya aku larang kamu vuat masak, tugas kamu hanya mengurus aku!"
"Aku ini seorang istri Mas jadi, memasak sudah menjadi tugas aku lagian masak adalah hobi aku. Kamu tidak boleh melarang aku masak, dari kecil aku suka memasak!" kekeh Tania.
"Mama aku juga seorang istri, dua orang anak sudah terlahir dari rahimnya bahkan sekarang anaknya sudah dewasa tapi, aku belum pernah lihat mama masak dan aku juga tidak pernah makan masakan mama kecuali di waktu waktu tertentu karena papa melarangnya dan mama nurut nurut aja tuh!"
"Mas, kamu tidak bisa samakan aku dengan mama, aku hobi masak Mas, dulu aku sering lihat mama aku masak dan papa aku suka banget sama masakan mama aku jadi, aku ingin kamu juga merasakan masakan aku!" tantang Tania yang ingin beranjak dari atas tempat tidur dan kembali ke dapur.
"Tania, Jangan membangkang perintah suami kamu, bagaimana pun aku masih imam kamu, semua yang kamu lakukan harus atas izin ku jika kamu tidak ingin mendapat dosa!" mendengar ucapan Lendra dengan nasa yang lebih tegas dari sebelumnya, Tania benar benar harus menghentikan langkahnya dan kembali keatas tempat tidur.
Dengan memasang muka mesam, Tania terbaring di atas ranjang dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut bulu berwarna biru serta membelakangi Lendra.
"Pa kok Lendra jadi perhatian gitu ya ke Tania, apa jangan jangan Lendra sudah mulai mencintai Tania?"
"Papa kurang tau Ma!"
__ADS_1
Diam diam Delino dan Liora mengintip dan menguping pembicaraan mereka dari balik pintu kamar Lendra.
"Sudah Ma, kita jangan berlama lama lagi di sini takutnya nanti salah satu dari mereka keluar dan kita masih di sini yang ada nanti anak kita bakal gengsi buat kasih perhatian ke menantu kita!" Delino menarik pergelangan tangan Liora.
"Tania, kamu marah sama aku karena aku larang kamu masak?"
"Ngk!" singkat Tania.
"Aku cuma ngk mau hal buruk terjadi sama kamu, Tan!"
"Memasak itu hal biasa Mas tadi juga kejadian biasa, tidak ada yang perlu di khawatirkan, kamunya aja yang lebay!"
"Tania, kamu paham tidak maksud aku pakai ngata ngatain aku lebay lagi. Kamu tau adalah adalah ceo di perusahaan besar dan seumur hidup aku belum pernah ada yang ngatain aku lebay kecuali kamu, Naila dan mama saja tidak pernah mengatakan hal itu, kamu di perhatinn malah begitu!"
"Iya emang kamu lebay Mas ketimbang masak doang di larang!"
Tania semakin malas berdebat, suaminya sudah melibatkan agama, Tania juga tidak ingin menambah dosanya yang sudah segunung. Ia memilih diam walau bertentangan dengan hati kecilnya. Ia memkasa matanya untuk pejam dan tertidur di atas ranjang.
"Tania sudah tidur!" ujar Lendra setelah beberapa menit ia tidak mendengar suara istrinya. Ia mendekatkan kursi rodanya dengan Tania dan memastikan Tania benar benar sudah tertidur mengunakan telapak tanganya di wajah gadis itu.
"Tania cantik banget kalau sedang tidur begini, kulitnya putih banget, wajahnya juga kelihatan tenang dan kalau matanya terpejam gini, ia benar benar terlihat wanita yang sangat tulus pantas saja mama sangat menyayangi Tania memang pilihan seorang ibu tidak pernah salah!" gumam Lendra dengan seuntai senyum di bibirnya. Tanganya mulai meraih wajah Tania, di elusnya wajah Tania yang terasa sangat lembut. Benar benar sensi yang belum pernah di rasakanya sebelumnya.
"Aku beruntung memiliki kamu, Tan tapi sayang aku telat menyadarinya, aku berharap sembari menunggu surat perpisahan kita keluar, kamu berubah pikiran dan kita dapat melanjutkan pernikahaan kita!"
Melihat Tania yang terlihat sangat pulas tertidur, ia juga mulai merasakan kantuk yang berat. Ingin tidur di sebelah istrinya tapi, ia tidak dapat berdiri sendiri. Akhirnya Lendra hanya dapat tertidur di sebelah ranjang. Kepala Lendra menyender di kepala ranjang dan tanganya yang masih melekat di wajah Tania.
__ADS_1
Emmuhhhhhhh
Tania terbangun namun, matanya masih tertutup. Ia merasakan ada sebuah tangan yang menyentuhnya. Perlahan di bukanya matanya. Hal pertama yang di lihatnya wajah suaminya. Di gesernya sedikit tubuhnya dan di rentangkanya otot otot tangannya agar tidak mengenai Lendra dan tidak mengangu tidur suaminya.
"Kasihan banget kamu, Mas pasti kamu ngantuk banget tapi, aku malah tidur duluan seharusnya aku banguin kamu dulu naik keranjang pasti leher kamu sakit tidur kek gitu!" gumam Tania segera turun dari ranjang.
Sekuat tenaganya, ia berusaha mengangat Lendra dari kursi roda, belum berpindah tempat tetapi, lelaki itu sudah terbangun sepertinya Lendra terusik dari tidurnya karena pergerakan dari Tania. Tania yang masih merajuk pada suaminya, ia berpura pura tidak melihat kearah Lendra dan kembali duduk di tepi ranjang.
"Kamu sudah bangun Tan?" Tania hanya mengangguk.
"Kamu masih marah?"
"Ngk biasa saja!"
"Ya sudah kalau kamu marah!" acuh Lendra meninggalkan Tania.
"Iiiiiiiiiiii!" kesal Tania dengan kedua tangan mengepal dan memukul bagian lututnya dan gigi yang berderet sempurna.
"Dasar suami aneh, sudah tau istrinya lagi ngambek malah di tinggalin gitu aja, katanya mau berubah tetap aja tuh, dasar Lendra, Ceo sombong!" kesal Tania.
"Oh iya bukan Ceo lagi!" lanjut Tania lagi yang langsung membungkam mulutnya mengunakan telapak tanganya.
"Tania, kamu jangan lupa mandi!" teriak Lendra dari luar kamar!"
"Iya!"
__ADS_1
Sesuai perintah Lendra, Tania membuka lemari besar yang berada tak jauh dari ranjang. Di dalam lemari tamlak berderet baju terhanger rapi. Tidak ada satu baju wanita pun yang tergantung. Kebanyakan kemeja yang mengisi lemari besar ini. Untungnya Lendra mempunyai banyak baju kaos, Tania mengambil baju kaos berwarna putih dan celana jeans hitam Lendra untuk di pakainya. Ritual mandi pun mulai di laksanakanya.
Selesai berpakaian Tania memperhatikan pantulan dirinya di depan cermin. Ia menyemprotkan parfum di bagian bajunya setelah menyisir rambutnya. Lendra tidak memiliki scincare untuk di pakainya jadi, ia hanya bisa berpenampilan seadanya.