Madu Dihari Pernikahan

Madu Dihari Pernikahan
Bab 87 - Dikroyok


__ADS_3

Kepala terasa masih sangat pusing. Obat yang diberikan Zanuar semakin merangsang ketubuhnya. Ia berjalan kearah tidak jelas dengan langkah seperti orang mabuk. Zanuar memberikan obat kantuk di minuman  Lendra. Lelaki itu tidak mengingat hal apa yang terakhir terjadi padanya.


"Kamu pasti karena kurang minum!" ujar Aleta seraya memberikan segelas air berwarna putih kekeruhaan kesulitan Lendra dan pria itu segera meneguknya hingga habis tampa ragu karena kesadaranya saja belum seimbang.


Tiba tiba saja gairah dalam tubuh Lendra keluar. Ia langsung merabah pakaian Aleta dengan sempurna, namun saat akan memegang bagian paling sensitif wanita, tanganya berhenti seketika dan kakinya berjalan keluar.


"Pak Lendra!" panggil Aleta mencegah langkah Lendra yang akan meninggalkanya. Padahal wanita sadis ini sudah memberikan minuman memajukan pada Lendra tetapi, ia masih saja terpikir untuk keluar dari ruangan ini. Apa ia tidak tergoda sedikit pun dengan lekukan tubuh yang di milikinya.


Lendra hanya menoleh sekilas dan kembali melanjutkan langkahnya. Aleta tidak berdiam diri, misinya belum tercapai ia harus tetap mempertahankan Lendra untuk mendapatkan apa yang di inginkanya. Ia berlari menuju Lendra dan menarik tubuh lelaki dan melemparkan tubuh Lendra keatas ranjang.


Awalnya Lendra menikmati sensi di bawah tub*h Aleta, keempukan yang tidak pernah di rasakanya sebelumnya. Aleta terus mencembuinya hingga memerah namun, saat ia akan mencium bagian le*her Lendra, lelaki itu dengan sekuat tenaganya menyingkirkan tubuh aleta yang berisi dari atas tubuhnya.


Lagi lagi Aleta terjatuh. Lendra tetap memberusahakan diri agar segera keluar dari ruangan ini. Ia benar benar tidak nyaman berada di tempat ini, wanita yang saat ini bersamanya terlalu memaksakan hal yang tidak ingin di lakukan.


"Pak Lendra!"

__ADS_1


Dengan berjalan sempoyongan, Lendra tidak menghiraukan panggilan dari Aleta, ia terus melangkahkan kakinya menjauh dari wanita gata* ini. Saat keluar dari ruangan itu, Lendra menemukan kedamaian yang sangat riuh di sebuah ruangan yang terdapat banyak lampu bergemerlapan dengan indah. Banyak pula orang yang bergoyang goyang tidaknjelas dengan lawan jenisnya.


Masih berada dalam pengaruh alkohol yang di berikan Aleta. Lendra mengikuti alunan musik yang bergema dengan sangat keras. Ia juga mengambil beberapa gelas minuman yang di sediakan pihak club di atas meja dan meminumnya hingga tak tersisa hanya ia yang berjoget tampa pasangan. Banyak wanita yang datang menghampirinya namun, ia memilih untuk menikmati malam ini dengan kesendirianya tampa di temani oleh siapa pun.


Merasa puas sudah meminum banyak. Lendra kembali melanjutkan langkahnya untuk segera meninggalkan tempat malam ini namun, tiba tiba saja ada seseorang yang dengan keras menarik tanganya.


"Pak jika sudah meminum minuman di sini maka Bapak harus membayarnya, jangan asal main tinggal gitu aja dong!" bentak seorang lelaki yang usianya tidak terpaut jauh dari Lendra. Lendra memutarkan bola matanya malas, ia mengabaikan lelaki itu dan kembali melanjutkan langkahnya.


Plakkkkkkk


Emosi karena Lendra tak membayar minuman yang sudah di minumnya lelaki itu segera mengampar wajah Lendra dengan sangat keras hingga memar. Dalam keadaan seperti ini luka itu tidak lagi di rasakan Lendra. Ia memandangi sekitarnya begitu banyak orang di sini dan lelaki ini dengan beraninya menamparnya, sama saja ia sedang di permalukan seperti ini. Tak hanya diam Lendra juga membalasnya dengan memukul bagian perut lelaki itu.


Brughhhhh, tubuh Lendra terjatuh hingga tersungkur kelantai. Ia langsung berjalan meninggalkan pria itu namun, tak terima dengan perbuatan Lendra, ia menyerang Lendra dari belakang tampa memberikan isarat atau kode pada Lendra. Lendra kalah tampa bertarung apalagi dengan kondisi tubuhnya yang belum stabil.


Keningnya menyentuh lantai bahkan datang yang mengalir dari kepalanya lebih banyak dari pria itu. Dari arah depan juga tangan Lendra tertindas oleh kaki yang menggunakan sepatu kulit hingga kemerahaan. Semakin tak berdaya tubuhnya, ternyata lelaki ini mempunyai kawanan yang siap menyerangnya.

__ADS_1


Lendra meringis kesakitan, kawanan pria itu menginjak kakinya mengunajan sepatunya yang keras dan mengoreskanya kelantai. Untuk pertama kalinya ia mendapat perlakuan seperti ini. Air mengalir dari keningnya membasahi bagian kepalanya yang ikut cedera, keringat membasahi tubuhnya. Ekspresinya sangat mewakili rasa sakit yang di rasakannya. Ia mengerutkan wajahnya untuk menutupi lukanya, tidak mungkin ia menagis di tempat ramai seperti ini.


Begitu banyak pengunjung di tempat ini namun, tak ada satu pun yang berani menolong Lendra atau setidaknya menjauhkan Lendra yang sudah tidak berdaya dari dua lelaki kejam itu, semuanya hanya mematung di tempatnya dan berharap agar Lendra dapat menyelamatkan dirinya sendiri.


Selain Lendra juga yang bersalah, pengunjung tak ada yang berani memberikan bantuan pada Lendra karena mereka berdua memiliki tubuh yang besar dan kekar, takut amuk mereka malah beralih kepada mereka yang tidak bersalah.


Aleta menyapukan seluruh pandanganya pada ruang disk*tik mencari keberadaan lelaki muda yang menjadi incaranya. Sebenarnya ia sudah mendapat bayaran yang mahal dari Zanuar dan ini bukan merupakan tugasnya tapi, apa salahnya satu kali mendayung, dua atau tiga pulau terlampau, begitulah kira kira yang di pikirkan oleh Aleta.


Matanya berhenti di sebuah keramaian yang membentuk lingkaran. Pasti ada kegaduhaan di sana, gumam Aleta yang sudah sangat mengerti tentang tempat ini, selain mencari nafkah di sini, ia juga sudah bekerja di sini cukup lama jadi, ia sudah paham betul tentang dunia mal*am.


Dengan berlari kecil Aleta segera menghampiri keramaian itu dan ia langsung menarik tubuh Lendra dari dua lelaki beg*s yang sudah mencelakai korbannya. Semua mata kini tertuju pada Aleta, seorang wanita yang berani menarik Lendra dari dia lelaki yang sangat di takuti. Dua lelaki itu juga menatap tajam kearah  Aleta yang langsung membantu Lendra untuk berdiri kembali.


"Kenapa kau menolongnya?" tanya lelaki yang menginjak tangan Lendra.


"Apa kalian tidak mengenal siapa pria ini?" ucap Aleta sedikit membentak orang itu setelah membersihkan kotoran bekas injakan lelaki itu dari tangan Lendra. Dua orang itu langsung menatap Lendra dengan seksama dan kemudian menundukan kepalanya.

__ADS_1


Pertama kali mereka bertemu dengan orang sekaya Lendra dan mereka langsung mengkroyoknya seperti ini. Bagaimana jika Lendra mengadukan  hal ini kepihak berwajib apalagi tubuh Lendra yang sudah berdaya karena ulah mereka, ini bisa menjadi bukti pengaduan Lendra.


Pertama kali bagi mereka bertemu dengan Lendra namun, mereka sudah mengenal Lendra sejak lama dari stasiun televisi. Wajah Lendra sudah sangat familiar di penglihatan mereka.


__ADS_2