
"Mama bantu Tania!" gumam Tania ketakutan. Tania kini berada di dalam sebuah bangunan tua dengan nuasa gelap, ia di dudukan di kursi besi dan kedua tanganya di ikat oleh dua Preman bengis itu. Tania tidak dapat berkutik dan berkata apa pun, ia sangat ketakutan apalagi salah satu dari preman itu memegang senjata tajam yang baru saja di asahnya.
"Tuhan, tolong Tania!" gumam Tania memejamkan matanya karena Preman itu mengarahkan runcing tajam yang di pegangnya pada Tania.
"Mama bantu Tania, Tante Fani, Tania dalam bahaya tolong Tania!"
"Bu, Bu Fani, Bu Fani!" panggil Narsi menyentuh tubuh Tifani.
Narsi hendak mengantarkan bubur pada Tifani yang baru saja selesai sholat, namun ia menemukan Tifani yang sudah tergeletak tak berdaya, mungkin saja karena wanita tidak mendapat asupan sama sekali, setiap kali Narsi ingin mengantar makanan, ia selalu saja menolak dan tidak mau makan.
Buru buru Narsi mengambil handphone Tifani dan menghubungi kontak Vania.
"Ada apa Ma?"
"Ini Bibi, Non!"
"Ada apa Bi?"
"Non, Ibu pingsan di kamar!"
"Bibi serius?"
"Ngk mungkin Bibi bercanda Non!"
"Vania segera pulang Bi!"
"Ada apa Van?" tanya Nadya yang melihat Vania tampak cemas selesai mengangkat telpon.
"Mama, Raf, Mama, Mama!" ucap Vania.
__ADS_1
"Mama kenapa Sayang?" tanya Rafa menatap kearah Vania sedangkan Nadya menatap Rafa yang memanggil Vania dengan sebutan sayang, tetap saja hatinya tergores karena bagaimana pun ia masih mencintai Rafa.
"Mama pingsan!"
"Kita harus lihat mama dulu!"
"Ngk, Tania juga harus di cari!"
"Mama juga penting, siapa yang akan mengurus mama nanti?"
"Aku yang akan urus Mama dan kalian berdua, tetap lanjutkan pencarian Tania!"
"Yasudah kalau itu mau kamu, kita antar kamu pulang dulu!"
"Aku naik taksi saja, tapi aku minta tolong banget sama kalian buat cariin Tania dan bawa dia pulang biar mama tenang dan ngk sakit sakitan!"
Rusdi dan Naila kini sudah berada di dalam rumah sakit, Delino dan Liora sedang di tangani oleh Dokter, mereka di satukan dalam satu ruangan vip yang di khususkan untuk kalangan mampu seperti mereka.
Rusdi dan Naila menunggu di ruang tunggu dan Naila yang terus saja menangis di kursi yang di dudukinya. Rusdi memfotokan gambar orang tua Lendra yang sedang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit melalui kaca pembatas antara ruang tunggu dan ruangan Delino di rawat serta mengirim foto itu pada Lendra.
Rusdi merasa iba dan sangat kasihan pada Naila, wanita itu sejak tadi tidak henti hentinya menangis, Rusdi duduk di sebelah Naila dan tampa berkata apa pun ia meletakan kepala Naila di bahunya dan mengelus kepala Naila dengan lembut.
"Kak, Mama sama papa gimana? Mereka pasti sembuhkan?" tanya Naila.
"Mereka pasti sembuh kok, merekakan kuat!"
"Kak Lendra jahat ya Kak!" mendengar ucapan Naila, Rusdi hanya dapat tersenyum. Ia tidak ingin menjelek jelekan sahabatnya di depan adiknya sendiri, ia juga tidak ingin di anggap munafik dan sok suci, ia berusaha untuk tidak membuka aib Lendra pada Naila.
"Andai kak Lendra ngk berbuat seperti ini, pasti mama dan papa sekarang ngk berada di ruangan ini. Nadya benci kak Lendra!"
__ADS_1
"Kamu ngk boleh ngomong gitu kak Lendra tetap kakak kamu dan sampai kapan pun akan tetap menjadi kakak kamu!"
"Lendra, usia mama sudah ngk lama, mama mau kamu menikah dengan wanita yang tepat!" ucap Liora dengan mengunakan baju rumah sakit dan tubuhnya terbaring di atas kasur yang tidak pernah di inginkan oleh orang lain.
"Mama mau apa pun, pasti Lendra turuti asalkan Mama sembuh dan kembali sehat seperti hari hari kemarin!" ucap Lendra yang duduk di kursi yang berada di sebelah ranjang Liora dan tanganya mengengam tangan Liora serta air mata yang mengalir di wajahnya mendengar ucapan wanita yang telah melahirkanya itu.
"Mama mau kamu menikah dengan Tania!" ucap Liora menatap pada Tania yang menunduk dan berdiri di sebelah kiri Tifani dan sebelah kanan Tifani, Vania, di sebelah Vania ada Rafa. Vania membulatkan matanya sempurna mendengar ucapan wanita paruh baya itu, jelas ia tidak akan pernah menyetujui hal ini, Tania dan Lendra tidak saling mengenal dan yang Vania tau Lendra adalah lelaki yang tidak baik.
"Ma, Mama boleh minta apa pun dari Lendra tapi jangan itu!" ucap Lendra dengan memasang wajah memelasnya agar wanita itu menganti permintaanya dan Liora hanya mengelengkan kepalanya, menandakan ia tetap pada permintaanya.
Naila dan Delino menatap pada Lendra yang memeluk tubuh Liora, keduanya berharap agar Lendra menuruti kemauan Liora. Perlahan raut wajah Liora semakin melemas, ia tidak dapat berkata apa pun lagi, dadanya terasa sesak dan kepalamya mulai terasa pusing, mungkin saja usianya tidak akan lama lagi.
"Ibu tidak boleh berkata seperti itu, hidup dan mati itu Tuhan yang tentukan!" ucap Tania yang sudah berdiri di sebelah Lendra, Lendra menatap sekilas pada Tania yang sedang tersenyum.
"Saya sudah merasa jika usia saya tidak akan lama lagi dan saya hanya mau yang terbaik untuk Lendra!" ucap Liora menatap Tania.
"Lendra bukan lelaki baik untuk Tania!" ucap Vania dengan tegas. Liora masih belum mengetahui seluk beluk dan asal usul keluarga Tania, ia juga tidak mengetahui ada hubungan apa antara Vania dengan Tania yang ia lihat adalah Tania adalah anak yang baik. Sebelum Liora berada di rumah sakit, Ia sempat berteriak kesakitan di tengah jalan dan yang menolongnya adalah Tania dan segera membawanya kerumah sakit, bahkan Tania juga mendonorkan darahnyan untuk Liora.
"Ibu tidak perlu menyuruh anak ibu untuk menikah dengan saya karena saya akan tetap memberikan darah saya pada ibu, kapan pun Ibu membutuhkanya!" ujar Tania tersenyum pada Liora.
"Saya tau, kamu yang terbaik untuk anak saya!" ucap Liora mengenggam tangan Tania berharap agar gadis itu mau memenuhi keinginanya. Tania semakin di buat binggung oleh keluarga ini, Liora memintanya untuk memenuhi keinginanya sedangkan saat menatap Lendra, lelaki itu memberikan isarat pada Tania agar membantah perintah mamanya.
"Kak Naila minta tolong banget turuti kemauan Mama, penyakit Mama sudah parah Kakak!" mohon Naila mengandeng Tania dengan isak tangis yang menderai. Lagi, lagi Tania menatap wajah Lendra, lelaki itu masih saja memberikan kode agar ia menolaknya, tapi melihat kondisi Liora yang semakin memburuk dan sepertinya wanita ini berharap banyak dari, ia jadi tidak enak hati untuk menolaknya.
"Tania bersedia Bu!" ucap Tania dengan memejamkan matanya dan berdoa agar keputusanya ini tidak menjerumuskanya kedalam kepedihaan hidupnya yang lebih dalam lagi. Vania membulatkan matanya sempurna, ia tidak habis fikir, apa yang sedang Tania pikirkan sampai ia mengiyakan untuk memenuhi permintaan Liora, sedangkan ia saja baru saja mengenal wanita itu.
"Tania, kamu salah ngucapkan?" tanya Vania memastikan apa yang baru saja sepupunya itu ucapkan dan Tania hanya mengeleng. Lendra tidak dapat berkutik lagi untuk membantah permintaan Liora, Tania saja mengiyakanya. Lendra merasa geram pada wanita yang ada di sebelahnya ini, kenapa dengan mudahnya ia mau menikah dengan lelaki yang baru saja di kenalnya. Apa dia tidak merasa takut, pikir Lendra.
Buliran bening kembali mengalir dengan derasnya membasahi wajah Naila mengingat peristiwa sebelum terlaksananya pernikahaan Lendra.
__ADS_1