
"Lendra, kamu lihat itu adik kamu!" ucap Delino yang kini sudah ada di hadapan Lendra dan jarinya mengarah pada Naila.
"Kamu lihat adik kamu! dia cantikan? Dia juga gadis yang baik, lalu bagaimana jika suatu saat dia menikah dan mendapat lelaki seperti mu, dia mendapat perlakuan yang sama seperti yang kamu memperlakukan Tania?, Apa kamu akan diam saja?"
"Tidak ada yang boleh menyakiti Naila!"
"Lalu, bagaimana Tania? Apakah saudara lelakinya akan diam saja kamu perlakukan seperti ini?" Lendra hanya terdiam.
"Sekali pun anak itu tidak memiliki saudara lelaki, Apa karma akan diam saja di tempatnya?, ingat Lendra kamu lelaki, harus bisa menjaga wanita bukan menyakiti, kamu terlahir dari rahim seorang wanita dan kamu harus tahu, jika karms seorang pria akan di tanggung oleh tiga wanita, ibumu, saudara perempuan mu dan anak perempuan mu kelak. Apa kamu rela melihat mereka di sakiti karena ulah mu?"
"Sekarang pergi kekamar mu, minta maaflah pada Tania, dia wanita baik sama seperti ibu dan adik mu!"
Entah rasa takut, atau pun kata kata Delino mampu membuka hati pria itu, ia segera melaksanakan perintah papanya untuk menemui Tania.
"Ma sudah jangan nangis!" ucap Naila yang kini sudah berada di sebelah Liora dan menghapus air mata wanita itu.
"Keterlaluan banget sih Lendra sama ibunya itu, tega banget ngusir aku, Lendra lagi bisa bisanya dia lebih belain wanita tua itu dari pada aku pacarnya!"
"Kenapa sih marah marah?" ujar Sendro dengan segelas kopi di tanganya dan duduk di sebelah keponakanya.
Setelah di usir dari rumah Lendra, Safania menenangkan dirinya di rumah omnya.
"Aku di usir Om!"
"Sama siapa?"
"Mamanya Lendra?"
"Loh kenapa, bukanya kamu istrinya Lendra?"
"Iya, tapi mamanya Lendra ngk tau kalau aku itu juga menantunya!"
"Kenapa kamu ngk kasih tau?"
"Belum saatnya Om!"
"Kenapa mamanya Lendra mengusir kamu?"
"Karena wanita tua itu lebih milih istri pertama Lendra!"
"Ok, Om mengerti!"
__ADS_1
"Maksud Om?"
"Om akan menyingkirkan orang itu!"
"Om mau berbuat apa?"
"Kamu tenang saja, Om yang atur semuanya!"
"Om akan berbuat nekat?"
"Apa pun akan Om lakukan buat kamu bahagia!"
"Makasih ya Om!" ujar Safania yang langsung memeluk tubuh Sendro.
"Tania!"
Tania yang berdiri di depan jendela kamarnya sembari menatap jalanan yang di penuhi banyak kendraan. Ia menghapus air matanya dan membalikan pandanganya mengarah pada suaminya itu.
"Iya Mas!"
Lendra menarik nafasnya panjang, berusaha untuk berkata dengan tenang dan tidak mengunakan emosinya. Ia menatap Tania dengan sangat seksama dan memperhatikan adanya kerutan di mata wanita itu. Ia sebenarnya juga merasa iba pada Tania, tapi di sisi lain ia juga tidak memiliki perasaan apa pun pada Tania, ia menikahi Tania hanya keinginan kedua orang tuanya.
"Aku harap kamu juga dapat menutupi rahasia ini dan tidak memberitahu mama dan papa kalau Safania juga istri kedua ku!" ucap tampa berani menatap wajah Tania.
Lendra sedikit terkejut dengan jawaban yang di lontarkan oleh Tania. Bagaimana bisa wanita ini langsung menuruti permintaaanya tampa menanyakan sebabnya. Tapi sudahlah Lendra tidak mau mempermasalahkan hal itu, lagian menurutnya Tania sudah mengerti dengan maksudnya.
"Dan perlu kamu ketahui Tania, aku sangat mencintai Safania dan aku berharap kamu tidak akan menghalangi kisah kami, aku juga akan mengizinkan kamu bermain lelaki di belakang ku!"
"Aku tidak serendah itu!"
"Aku tidak akan menghalangi atau pun melarang mu karena aku sedikit pun tidak mencintai mu!"
"Dan perlu kamu ketahui juga Mas jika bukan karena adik ku, aku juga tidak akan menikah dengan mu, aku bertahan karena Robby bukan karena aku memiliki rasa pada mu!" balas Tania yang menatap lelaki itu dengan tajam.
"Nanti setelah mama pulang, aku akan kembali rumah ku dan menemui adikku, aku hanya akan datang kerumah ini, jika aku membutuhkan administrasi dan aku juga tidak akan mengangu kalian!"
"Baguslah jika begitu!"
Mendengar jawaban Lendra membuat dada Tania terasa sakit, sebenarnya ia juga tidak akan berbuat demikian, ia hanya ingin melihat respon Lendra dan ternyata Lendra tidak sedikit pun menahannya untuk pergi, benar benar tidak ada rasa untuknya.
"Gue akan bawa masalah ke kepolisian kalau ada apa apa sama pacar gue!" ucap Vania.
__ADS_1
"Loh gila ya? Loh mau laporin gue perihal apa? Gue ngk sengajakan nabrak kalian dan gue juga tanggung jawabkan? Gue ngk kabur dari masalah!"
"Sudah, sudah kalian ini berisik sekali, kita doakan saja Rafa tidak terjadi apa apa dan kita juga tidak bisa menuntut Mas ini karena Mas ini juga tidak sengaja!" lerai Nadya.
Vania, Nadya dan Rusdi kini berada di ruang tunggu rumah sakit sedangkan Rafa sedang di tanggani oleh Dokter medis. Nadya dan Vania duduk di kursi yang sudah di sediakan sedangkan Rusdi berdiri di sebelah Nadya karena Vania terus saja memarahinya.
"Bisa telat nih gue kekantor!" ujar Rusdi memperhatikan jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganya. Ia mulai tampak gelisah dan cemas karena satu jam lagi ia harus menghadiri rapat penting, jika tidak, proyek yang sudah lama di rintisnya akan gagal dalam sekejap dan Lendra akan mengalami kerugian yang cukup besar, itu juga akan berdampak pada perusahaan tempatnya bekerja.
"Masnya kenapa?" tanya Nadya melihat Rusdi yang sejak tadi nampak gelisah.
"Saya ada meeting!"
"Meeting penting?"
"Iya, kalau saya tidak ada, maka proyek kami akan gagal dan mengalami kerugian yang cukup besar!"
"Maksud loh, loh mau ninggali kita gitu aja?" teriak Vania yang berdiri di hadapan Rusdi.
"Mbak, Saya bukan tidak mau bertanggung jawab tapi saya ada pekerjaan lain, Saya juga tidak akan ninggali kalian, Saya tau caranya bertanggung jawab!" tegas Rusdi.
"Lalu, pekerjaan Mas bagaimana?"
"Saya akan menghubungi atasan saya untuk mengantikan posisi saya!"
"Bawahan ngatur atasan?" sindir Vania.
Rusdi merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya serta menghubungi Lendra. Tampa menunggu lama Lendra langsung mengangkat panggilan darinya.
"Ada apa?" tanya Lendra setelah sambungan telponya terhubung.
"Gue ngk bisa datang ikut meeting!"
"Terus siapa yang gantiin loh?"
"Perusahaan itu kita tiga yang handle, Evandi sedang lupa ingatan, berarti loh yang harus gantiin posisi gue!"
"Loh emang kenapa?"
"Gue nabrak orang!"
"Terus loh?"
__ADS_1
"Gue ngkpp, gue cuma mau tanggung jawab, Loh handle meeting sekitar satu jaman lagi!" ujar Rusdi yang langsung mematikan sambungan telponya secara sepihak.