
Seperti permintaan Delino dan Liora. Tania dan Lendra kini sudah berada di bandara menuju Bali, Provinsi yang menjadi tujuan keduanya. Kedua mertuanya sudah menawarkan mereka untuk keluar negeri tetapi, Tania lebih memilih untuk melakukan honeymoon di dalam negeri saja karena ia tidak mau terlalu lama jauh dari orang orang terdekatanya dan Lendra juga menyetujui hal itu.
"Mas Lendra!" panggil Tania sembari menyeret koper yang berisikan perlengkapan keduanya, sedangkan Lendra sudah melangkah depan dari pada Tania yang sibuk dengan barang bawaanya dan Lendra yang hanya membawa badan dan handphone saja.
"Cepetan dong Tania!" pinta Lendra kini menghentikan langkahnya dan menunggu kehadiran gadis itu di sebelahnya.
"Mas gantian dong bawa kopernya, tangan aku pegal tau," ucap Tania dengan manja berharap adanya belas kasihan dari suaminya ini dan mau mengantikan posisinya, tetapi Lendra justru semakin melangkah kakinya dari pada ia harus mendengar keluh kesah Tania dan membawa koper yang akan menyusahkanya, hal yang tidak pernah di lakukanya.
"Mas Lendra!" panggil Tania lagi. Lendra tak menghiraukan teriakan Tania itu, ia terus mengerakan kakinya sembari memainkan ponselnya di tengah tengah keramaian seperti ini.
Tania hanya diam di tempat hingga ia melihat jaraknya dengan Lendra yang sudah cukup jauh, ia tidak mungkin untuk terus mengejar Lendra dengan keadaannya yang sudah kelelahaan di tambah ia harus membawa koper yang full dengan barang barang keperluan keduanya.
Tampa rasa malu, Tania mendudukan bokongnya di lantai Bandara dengan kaki melebar dan koper yang di tidurkanya serta kepalanya di letakanya di atas koper itu. Jika rasa lelahnya sudah hilang maka ia akan melanjutkan langkahnya untuk saat ini biarkan ia istirahat sejenak.
Gadis itu kini menjadi tontonan bagi pengunjung lainya. Bisa bisanya seorang gadis cantik sepertinya duduk di tengah jalan seperti ini yang juga menghalangi beberapa pengunjung lain yang hendak lewat. Lendra yang sudah semakin jauh darinya mulai menyadari ketidak beradaan Tania di dekatnya.
Ia mulai merasakan panik, bagaimana jika Tania hilang?, Apakah ia harus mencarinya di tempat ramai seperti ini pasti akan membutuhkan waktu yang lama dan juga akan mengurus tenaga yang banyak. Lendra mulai menyadari kebod*hanya. Ia menepuk jidatnya dan menyimpan ponselnya kedalam sakunya serta mulai untuk mencari Tania sebelum gadis itu hilang semakin jauh.
Ia menyapukan seluruh pandanganya di tempat ini, mulai memperhatikan sedetail mungkin orang orang yang berlalu lalang di sekitarnya, mungkin saja Tania terselip di antara mereka.
Antara marah, kesal, senang bercampur aduk dalam diri pria ini saat melihat Tania dengan tenang masih duduk di tempat ia meninggalkanya. Ingin marah karena kenapa Tania berhenti secara mendadak seperti ini tidak memberitaunya terlebih dahulu. kesal, hampir saja Lendra mengira kalau seharian ini ia akan menghabiskan waktunya jatuh mencari Tania ternyata wanita ini malah dengan santai duduk di tempat ini tampa merasa risih dengan tatapan orang orang yang melihatanya. Senang, tentu saja Lendra merasa senang karena akhirnya ia tidak jadi untuk mencari Tania yang di duanya hampir menghilang.
__ADS_1
"Tania, Kamu ngapain di sini malu maluin tau," ujar Lendra yang langsung menarik ujung telinga Tania dan menatap tak enak pada orang orang yang sedang melintas.
"Awsssh," ringgis Tania.
"Kamu ngapain di sini?" geram Lendra.
"Tania capek Mas!"
"Tapi kamu ngk harus istirahat di sinikan?" tanya Lendra dengan menaikan sebelah alisnya.
"Terus Tania istirahat dimana?"
"Yaudah ayok lanjut!" ajak Lendra yang langsung menarik pergelangan tangan Tania dengan kasar dan Tania juga langsung melepasnya.
"Kamu ngk malu di lihatin orang?" tanya Lendra dengan mata hang mengarah pada sekitarnya. Mereka benar benar menjadi tontonan bagi pengunjung lainya.
"Tania sebentar lagi pesawat yang menuju Bali akan berangkat dan aku ngk mau ya terlambat dan harus menunggu untuk keberangkatan kedua!" ucap Lendra tegas dan kembali menarik pergelangan tangan Tania.
"Tapi Tania capek Mas," Tania memang tidak melepas gengaman tangan Lendra dari tubuhnya tapi, menahan badanya agar tidak bergerak ketika Lendra menariknya mendadak seperti ini.
"Kamu mau ngecewain Mama dan Papa?" Lendra yakin jika mengatakan hal ini Tania tidak akan mungkin menolak ajakanya.
__ADS_1
"Iya tapi kita istirahat dulu Mas sebentar saja," ucap Tania yang kini mulai lulus dengan ucapan Lenra. Bagaimana ia bisa menolak jika menyangkut nama orang tua walau hanya mertuanya.
"Waktu kita sudah tidak banyak Tania, pesawatnya sudah mau berangkat."
"Tapi Tania ngk sanggup Mas," ucap Tania sembari memijat bagian pahanya yang terasa pegal karena terlalu banyak berjalan.
Sebelum menuju Bandara, Tania dan Lendra berangkat mengunakan taksi online yang di pesankan oleh Delino, tetapi tiba tiba saja Supir taksi itu menyuruh Tania dan Lendra turun saat perjalanan masih sangat jauh karena supir taksinya menerima telpon dari seseorang yang mengabarkan jika istrinya sudah melahirkan dan membutuhkan tenaga medisnya secepatnya.
Lendra sudah sempat menolaknya karena hal seperti ini termasuk kedalam pelayanan yang kurang baik. Bisa saja seharusnya supir itu mengantarkan mereka ketempat tujuannya terlebih dahulu, baru menyusul ketempat istrinya yang sedang melahirkan bukanya, malah menyuruhnya turun seperti ini, apalagi dengan perjalanan yang masih jauh dan di tempat sepi seperti ini pasti sangat sulit untuk mencari angkuta yang bisa mengantarkan mereka ke Bandara.
Walau belum pernah merasakan sakitnya melahirkan, sesama wanita Tania mengerti dengan perasaan istri supir taksi itu yang pasti sedang membutuhkan dukungan dari suaminya dan ia langsung mengiyakan ketika supir itu memintanya untuk melanjutkan dengan taksi lain.
"Apaan sih Tan, ke Bandara tuh masih jauh dan disini sulit untuk mencari kendraan," kesal Lendra yang langsung menatap Tania dengan intens.
"Yasudah Pak, Bapak hati hati ya, semoga persalinan istrinya berjalan dengan lancar, kirim salam buat istrinya." ujar Tania seraya menyodorkan beberapa uang lima puluhan pada bapak itu sebelum ia turun dari taksi.
"Tidak usah Mbak, Mbak sudah dapat memakluminya saja saya sudah sangat bersyukur karena saya sangat ingin melihat kelahiran anak pertama saya." balas Supir itu menolak pemberian Tania yang berlebihan.
"Tidak apa apa Pak, pasti Bapak butuh dana untuk biaya persalinan atau setidaknya dapat membantu untuk membeli susu untuk anak Bapak," Tania tetap berniat untuk memberikan uang yang dipegangnya.
"Nanti anak saya minum asi saja Mbak, lebih sehat pastinya," balas Supir itu lagi yang juga tetap menolak pemberian Tania.
__ADS_1
"Tolong terima pemberian dari saya, Pak, saya ikhlas memberi ini ke Bapak,"
"Baiklah kalau Mbak memaksa, saya akan terima, saya berterima kasih banyak sama Mbak karena sudah dapat memaklumi saya dan bahkan memberikan saya uang dengan jumlah yang tidak sedikit." Tania yang mendengarnya hanya membalasnya dengan senyum manisnya dan kemudian menarik pergelangan tangan Lendra agar segera keluar dari dalam taksi dan Bapak itu juga dapat melihat istrinya melahirkan.