Madu Dihari Pernikahan

Madu Dihari Pernikahan
Bab 77 - Hanya Safania


__ADS_3

Lendra melirik jam tangan yang melingkar dipergelangan tanganya, jika ia masih tetap di tempat ini maka, ia akan benar benar tertinggal oleh penumpang lain yang memiliki tujuan sama denganya. Ia menatap tubuh Tania dengan seksama. Tubuh Tania tidak terlalu besar bahkan terbilang kecil, selain pendek Tania juga memiliki badan yang kurus mungkin saja timbangannya tidak melebihi 50 kg.


"Kenapa Mas?" binggung Tania yang langsung memperhatikan seluruh tubuhnya, mungkin ada sesuatu yang menganjal hingga Lendra menatapnya hingga seperti itu.


"Mas!" teriak Tania ketakutan karena Lendra langsung mengendong tubunya dan tangan satunya menarik koper.


"Mas turun Mas, Tania mau turun," teriak Tania menepuk bahu Lendra dengan kuat karena rasa takut yang dirasakanya, tapi Lendra bukanya menurunkan atau memperlambat langkahnya, ia justru semakin mempercepat jalanya. Ia benar benar tidak ingin tertinggal pesawat, selain harus menunggu keberangkatan kedua, jika orang tuanya mengetahui mereka gagal berangkat pasti nanti ia yang akan di ceramahi habis habisan walau semua ini karena Tania.


"Akhirnya!" ucap Lendra tersenyum lebar saat menatap pesawat yang ditumpanginya belum naik keudara.


"Mas turunin," teriak Tania.


***


Di dalam pesawat hanya ada keheningan di antara sepasang suami istri ini. Lendra asik dengan ponselnya sedangkan Tania hanya menatapnya. Tania merasa cemburu dengan handphone Lendra yang selalu di pegang oleh suaminya, sedangkan ia sebagai istrinya dilirik pun tidak oleh Lendra.


"Andai aku adalah sebuah benda dan aku yang menjadi ponsel itu pasti aku akan sangat bahagia, di sentuh setiap saat oleh Mas Lendra, dicariin ketika hilang dan di jaga sepanjang waktu bahkan ia selalu tersenyum saat menatap ku!" guman Tania yang merasa iri walau hanya dengan sebuah benda mati.


Ia benar benar merasa cemburu saat melihat suaminya tersenyum pada ponselnya, bukan karena benda itu tapi, dibalik senyumnya pasti ada seseorang yang menemaninya didalam benda itu, walau hanya virtual yang pasti menandakan orang itu lebih asik darinya hingga Lendra mau berkomunikasi walau hanya lewat internet sedangkan ia yang duduk disebelahnya diabaikan begitu saja, bahkan ketika ia menatap Lendra seperti ini saja, lelaki ini pasti tidak menyadarinya karena terlalu sibuk dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Hai Sayang!" seketika Tania langsung memalingkan wajahnya dari Lendra dan menatap kearah lain. Sungguh pemandangan yang sangat tidak diinginkanya, air matanya menetes begitu saja saat mengetahui Lendra sedang melakukan panggilan vidio call dengan Safania.


"Kamu dimana?" tanya Safania dari layar ponsel Lendra. Lendra segera memasang kamera belakangnya dan menampakan bagian dari dalam pesawat ini tampa memperlihatkan Tania yang duduk disebelahnya.


"Kamu mau kemana?"


"Bali Sayang,"


Tania hanya dapat menelan pahitnya kenyataan yang diterimanya. Dadanya terasa sesak walau Lendra belum bisa menerimanya tapi, ia juga tidak bisa membohongi hatinya jika ia sudah memiliki perasaan lebih pada suaminya.


Seharusnya hal ini tidak boleh terjadi karena ia sendiri sudah mengetahui jika ia bukan satu satunya istri Lendra, ia hanya menjadi salah satu yang tidak di cintai dan tidak akan mungkin di cintai oleh suaminya, jika di hati pria itu masih ada Safania yang berkelana dan ia juga harus mengingat jika pernikahananya hanya didasari oleh keterpaksaan yang mengharuskan Lendra untuk menjadikanua sebagian istri.


"Iya maaf ya, aku ngk ngabari soalnya mendadak disuruh Papa jadi, baru sempat ngabari kamu sekarang."


"Oh iya Sayang sebentar lagi pesawatnya bakal terbang, jadi Vcnya sudah dulu ya aku lanjutin keberangkatan aku, nanti kalau sudah sampai aku kabarin dan nanti kita vc lagi." ucap Lendra tersenyum pada layar handphonenya sebelum mengakhiri panggilanya dengan Safania.


"Kamu kenapa Tan?" tanya Lendra tampa merasa bersalah sedikit pun.


"Kamu lagi sama aku, Mas, aku juga istri kamu, bisa tidak kalau sama aku, kamu fokus keaku jangan kehandphone kamu atau pun Safania, aku juga bakal kasih waktu kok buat kamu dan Safania, tapi tolong banget kalau sama aku, jangan cuma badan kamu saja yang sama aku tapi, fikiran kamu juga di fokuskan keaku." ucap Tania setelah menetral darah  yang mengalir di tubunya san menghapus air mata yang sempat menetes diwajahnya.

__ADS_1


"Tan, kamu ini apa apaan sih? Kamu aneh tau, jangan kamu pikir aku mau nuruti kemauan Mama dan Papa kamu bisa atur aku seperti ini, mau sampe kapan pun aku akan tetap mencintai Safania dan kamu tidak akan bisa menjadi pehalang antara kami. Aku sangat mencintai Safania dan aku juga akan katakan aku tidak dan tidak akan pernah mencintai kamu, aku katakan ini biar kamu ngk terlalu berharap keaku dan pernikahaan kita hanya sebatas keterpaksaan!" tegas Lendra.


"Bisa kamu ngomong seperti itu Mas, Kamu ngk mikirin perasaan aku?, Aku juga istri kamu!"


"Istri jalur terpaksa?" ucap Lendra penuh penekanan.


Ternyata beberapa hari yang dijalaninya menurutnya indah terjalin dengan Lendra hanyalah sebuah kisah yang tidak berarti bagi Lendra. Hanya air mata yang dapat menjelaskan perasaannya saat ini. Seharusnya momen seperti ini akan menjadi kenangan terindah baginya justru menjadi hal paling menyakitkan dalam hidupnya.


Di tempat ini hanya dirinya dan Lendra, jika dirumah masih ada Naila dan mertuanya yang membelanya, disini ia harus menerima semua ucapan menyakitkan dari Lendra sendiri.


Pesawat mulai di terbangkan menuju tempat tujuan hanya ada keheningan diantara mereka. Tania tak ingin melanjutkan ucapanya karena hanya akan memperlelah mulutnya bicara dan menyayat hatinya karena ucapan yang Lendra yang terlalu menyakitkan.


Tak perlu waktu lama, pesawat yang ditumpanginya mendarat. Lendra membawa koper yang mereka bawa dan Tania yang berjalan dengan lambat dibelakangnya. Tania tidak sedikit pun mengeluh dengan keadaan saat ini, ia hanya berharap adanya mujizat dari Tuhan sekiranya dibukan hati Lendra agar sekiranya mencintainya walau hanya sedikit saja.


Sesuai dengan perintah Delino. Tania dan Lendra dijemput oleh supir yang sudah diperintahkan oleh Delino. Didalam mobil juga hanya ada keheningan diantara Lendra dan Tania. Sifat Lendra terlalu dingin pada Tania.


Supir yang membawa mereka juga ikut kedalam suasana sepi dan senyap tampa adanya perbincangan, sebenarnya supir ini sudah lama bekerja dengan keluarga Lendra, ia juga ingin mengucapkan selamat pada Lendra tapi, melihat raut wajah keduanya yang tidak memungkinkan membuatnya tidak berani untuk berkata.


Lendra hanya menatap layar lonselnya sedangkan seksama sedangkan Tania menatap pemandangan yang laluinya. Pemandangan didaerah sini sangat berbeda dengan pemandangan yang berada di kota tempatnya tinggalnya. Di sini udara terasa sangat sejuk apalagi dengan terpaan angin yang masuk kedalam mobil membuat Tania begitu menikmatinya.

__ADS_1


Dilihatnya jalanan yang dilaluinya, tidak begitu banyak sampah di lewatinya, kebersihaanya masih sangat terjaga.


__ADS_2