Madu Dihari Pernikahan

Madu Dihari Pernikahan
Bab 25 - Hargai istri mu!


__ADS_3

"Melupakan mu bukanlah


Sebuah keinginanku, melainkan


Keharusan yang harus aku lakukan.


Melihat mu bahagia


Bersama wanita pilihan mu,


Menyadarkan ku,


Aku bukan lagi


Siapa siapa dalam hidup mu.


Mungkin, dulu aku memiliki


Peran penting dalam hidup mu,


Tapi, tidak untuk sekarang.


Nadya menghapus buliran bening yang mengalir dari pelupuk matanya. Ia sesekali mencuri pandangan pada Rafa yang tertidur di atas paha Vania. Wajah yang tampak tenang dan seperti tidak ada luka yang sedang di sembunyikan pria ini.


"Kamu kenapa Nad?" tanya Vania yang menyadari jika Nadya sedang menangis. Ia memperhatikan pantulan diri Nadya melalui cermin yang ada di hadapan wanita itu.


"Mata aku kelilipan!" bohong Nadya.


"Lendra!" panggil Liora di ikuti oleh Tania, Naila dan Delino di belakangnya. Lendra yang tengah bersantai di atas sofa bersama Safania, kini mengarahkan pandanganya pada mamanya itu dan menjauhkan tubuhnya dari Safania.


"Apa Ma!"


"Berani kamu ya membiarkan wanita ini berlama lama di rumah ini di hadapan menantu Mama!"


"Safania ini teman kerja Lendra, Ma!"


"Teman kerja? Sampai kamu lebih nengutamakan  dia dari pada istri iamu!"


"Ma, Pernikahaan Lendra terjadi karena permintaan Mama dan Papa bukan kemauan Lendra, jadi tetap biarkan Lendra bahagia dengan dunia Lendra!"


"Selama kamu menjadi anak Mama, apa pernah Mama ngekang kamu, ngelarang kamu ini, itu ngkan? Jadi, Tolong dengeri Mama sekali ini saja!"

__ADS_1


"Ma, Safania orang baik!"


"Mama tidak merasakan itu!"


"Suruh dia pulang sekarang!" ucap Delino dengan nada rendah namun, terdengar tegas. Jika masih Liora yang bicara, Lendra masih berani membantahnya tapi tidak dengan papanya.


"Pa!"


"Suruh dia pergi dari sini!" pinta Lendra lagi dengan jati telunjuk mengarah pada pintu keluar rumah Lendra.


"Kamu pulang dulu ya!" ujar Lendra dengan lembut sembari memegang kedua tangan Safania dan  menatap bola mata wanita itu. Hal itu membuat Liora dan Naila merasa jijik, bisa bisanya putranya itu melakukan perbuatan senorak itu.


"Ta ... ta ... tapi!" mata Safania menatap tak suka pada Tania yang berdiri paling belakang di antara mereka.


"Besok kamu boleh main kesini lagi kok!"


Perbuatan Lendra benar benar sudah keterlaluan, di hadapan orang tua, adik, dan istrinya, ia berani mencium punggung tangan Safania. Dan dengan bangganya pula Safania memasang wajah sombongnya pada Tania yang kini hanya dapat tertunduk menahan rasa sakit yang di perbuat oleh suaminya, bahkan semua mata kini tertuju pada Tania.


"Cepat kamu keluar!" ucap Liora walau pun Tania tertunduk ia masih dapat melihat cairan bening itu mengalir di wajah di wajah menantunya. Dengan kasar Liora melepas gengaman tangan Lendra dan menarik pergelangan tangan Safania keluar dari rumahnya.


"Maa!" teriak Lendra mengikuti Liora.


"Awwwhhh, Sakit Tante!"


"Ma, Mama sudah keterlaluan!" bela Lendra yang kini juga sudah berada di daun pintu masuk rumahnya.


"Mama yang keterlaluan atau kamu yang keterlaluan? Dimana nurani kamu di hadapan istri mu, kamu berani bermesraan dengan wanita mur*h ini?" marah Liora menatap anaknya itu dengan tatapan yang sangat mengerikan.


"Tapi Mama ngk harus kek gini juga!" Lendra kembali menarik Safania masuk kedalam rumahnya.


"Kamu mau dia yang keluar atau Mama yang keluar?" ancam Liora.


"Ma, itu ngk pilihan!"


"Ok, berarti kamu mau Mama yang pergi!" ucap Liora yang langsung kembali memasuki rumah Lendra dengan langkah cepatnya.


"Sayang kamu pulang dulu ya, aku mau selesain masalah aku sama mama dulu, kamu hati hati ya!" ujar Lendra memegang kedua bahu Safania kemudian pergi meninggalkan wanita itu dan menyusul Liora yang sudah menjauh darinya.


"Ma, Mama kenapa?" tanya Naila melihat adanya perubahaan di raut wajah wanita yang mengandungnya itu. Liora tak menjawab pertanyaan putrinya, ia mengambil tas creamnya yang terletak di dekat tv dan kemudian kembali melangkahkan kakinya ke pintu keluar.


"Mama kamu kenapa Nai?" tanya Delino dan Naila hanya mengangkat kedua bahunya secara bersamaan menandakan ia juga tidak tahu apa yang sedang terjadi pada ibunya itu.

__ADS_1


"Ma jangan gitu dong!"


"Lendra ngk maksud gitu!"


Lendra terus mengejar Liora yang semakin menjauh darinya, Delino dan Naila hanya terdiam melihat keduanya. Liora menghentikan langkahnya sejenak dan menatap tajam pada anaknya itu kemudian kembali melanjutkan langkahnya, Lendra terus saja mengejarnya dan kini menarik tangan wanita itu agar tidak semakin menjauh darinya.


"Ma, Lendra ngk maksud gitu!"


"Terus maksud kamu apa?"


"Lendra ngk ada niatan ngusir Mama, Lendra juga ngk ada belain Safania!"


"Apa? Kamu ngusir Mama kamu?" ujar Delino yang kini sudah berada di belakang Lendra bersama Naila dan Tania.


"Pa, Lendra ngk gitu!"


"Terus?"


"Mama ngk nyangka ya, anak yang Mama didik hingga belasaan tahun, sekarang menjadi Ceo perusahaan besar bahkan di anggap sebagai orang yang berwibawa baik di keluarganya mau pun orang sekitarnya, ternyata apa? pengkhiatan terang terangan di hadapan istrinya. Mama kecewa sama kamu Lendra!"


"Ma!" lagi lagi Lendra menarik pergelangan tangan Liora.


"Dari awal pernikahaan aku dan Tania itu perjodohaan Mama dan Papa, bukan keinginan aku, aku ngk cinta sama Tania, Ma, aku cintanya sama Safania!"


Plaaaakkkk


Sebuah tamparan mendapat dengan sempurna di wajah tampan Lendra. Lendra memegangi wajahnya yang terasa perih, rasanya ini pertama kali baginya di tampar oleh ibu kandungnya sendiri.


"Apa Lendra salah Ma mencintai seorang wanita?"


"Kamu tidak salah, tapi kamu jatuh cinta pada waktu yang salah, kamu jatuh cinta di saat kamu sudah menikah, ingat status kamu bukan lagi seorang lajang!" tegas Liora.


"Lendra tidak jatuh cinta pada waktu yang salah Ma, justru Lendra dan Safania sudah memiliki hubungan sejak lama sebelum Lendra dan Tania menikah!"


"Terus kamu bangga dengan semuanya?, kamu bangga telah menyakiti istri mu?" ucap Liora yang kini dengan nada rendah namun, terdengar sinis dan jari telunjuk mengarah pada Tania.


"Lendra cuma mencintai Safania, Ma!"


"Lendra minta maaf!"


"Segitu pentingnya Safania buat kamu Mas?, sampai kamu rela ngelawan mama kamu demi wanita itu dan tidak melihat sedikit adanya aku di sini, lalu apa peran ku Mas?" gumam Tania dengan air mata yang sudah tidak dapat di bendungnya lagi. Ia pergi meninggalkan tempat ini dan berlari menuju kamarnya dengan tangan yang menutup mulutnya.

__ADS_1


"Kak Tania!" Naila hendak mengejar Tania, ia khawatir jika kakak iparnya itu melewati anak tangga sambil menangis seperti itu ia akan jatuh namun, Delino memberikan isyarat agar memberikan waktu Tania untuk sendiri.


__ADS_2