Madu Dihari Pernikahan

Madu Dihari Pernikahan
Bab 27 - Sejuta kenangan


__ADS_3

Tania hanya menatap Lendra yang sedang membuka lemari dan mengambil jas hitam dari dalamnya. Pria itu segera bergegas dan merapikan penampilaanya mengunakan dasi yang senada dengan pakaianya, tak lupa ia juga memakai jam tangan untuk memperindah penampilaanya.


"Dasi kamu miring Mas!" ujar Tania yang sejak tadi memperhatikan Lendra. Lendra hanya mengesernya, justru itu membuat dasinya semakin berantakan. Tania mendekati suaminya dan membenarkanya.


"Ginikan rapi!" ucap Tania tersenyum, tampa di sadari, Lendra menatap Tania yang sedang membenahi dasinya, bahkan wanita itu juga merapikan jas Lendra yang sedikit terlipat.


"Ihh apaan sih gue!" gumam Lendra membuang pandanganya dari Tania setelah beberapa lama menatap Tania dan menjauhkan tubuhnya dari wanita itu.


"Mas tas kamu ketinggalan!" teriak Tania. Setelah Lendra meninggalkanya, Tania menatap punggung Lendra yang mulai menjauh darinya, hingga tubuh Lendra benar benar sudah tidak terlihat olehnya. Matanya tak sengaja melihat tas kerja Lendra yang terletak di atas meja yang ada di dekat ranjangnya.


Karena Lendra tidak mendengar suaranya, Tania mengejar Lendra yang kini sudah sampai di ruang keluarga. Di ruangan itu sudah terdapat Delino, Liora, dan Naila.


"Mas tas kamu ketinggalan!"


Lendra menghentikan langkahnya dan menolehkan pandanganya pada Tania.


"Ini!" ujar Tania sembari memberikan tas itu pada Lendra. Liora dan Delino tersenyum melihat anak dan menantunya itu, mereka berfikir, jika Lendra sudah meminta maaf pada Tania dan sekarang sudah berbaikan. Naila justru masih binggung menatap kakaknya itu, dari segi penampilaanya ia terlihat akan berangkat bekerja, tapikan mereka baru menikah, apa tidak bisa Lendra mengambil waktu cuti beberapa hari saja.


"Mereka sudah baikan Pa!" bisik Liora tersenyum bahagia dan sedikit menyenggol tubuh suaminya.


"Semoga terus begini ya Ma!" balas Delino.


"Kakak mau kemana?" tanya Naila. Seketika Lendra dan Tania menghentikan tatapanya dan mengalihkannya ke lain arah. Sebenarnya Tania merasa biasa saja sedangkan Lendra berusaha untuk tidak memperlihatkan jika ia sedang menatap Tania. Sifat gengsinya masih terlalu besar.


"Kakak mau kekantor!"


"Tapi Kakak baru menikah masak mau kerja langsung kerja aja!"


"Kakak ada meeting, harusnya ini tugas Rusdi tapi Rusdi lagi ada sedikit masalah jadi, Kakak harus gantiin!"


"Naila ikut ya!"

__ADS_1


"Kamu di rumah saja!" ucap Lendra yang kembali melanjutkan langkahnya.


"Naila mau ikut Kak, Naila mau lihat perusahaan Kakak, biar nanti kalau Naila sudah tamat, Naila juga mau buat perusahaan kayak Kakak!" cerocos Naila panjang dan terus mengikuti langkah Lendra.


"Naila, Sayang, kamu di rumah saja, temani mama dan papa, Kakak mau kekantor!" ucap Lendra dengan lembut sembari mengusap kepala adiknya itu.


"Naila tetap mau ikut!" kekeh Naila menyingkirkan tangan Lendra dari kepalanya.


"Kamu bawa saja Lendra, adik kamu nanti bisa ngambek nanti kalau tidak di turuti kemauanya!" Delino.


"Tuh Papa aja bolehi!" balas Naila memanyunkan bibirnya.


"Yasudah kamu ikut, tapi jangan bikin rusuh!"


"Siap Bos!" ucap Naila dengan riang dan tangan di kepala menghormati Lendra, bak seseorang yang sedang menghormati bendera merah putih.


Vandir menghubungi salah satu temanya yang bekerja sebagai montir untuk menanggani mobil Rafa. Setelah menunggu tiga puluh menitan, akhirnya orang yang di hubungi Vandir pun datang. Karena mengalami kerusakan yang cukup parah, mobil Rafa harus di bawa ke bengkel tempatnya bekerja.


Vandir kini hanya memainkan ponselnya sembari menunggu mobil Rafa selesai dalam masa perbaikan. Tak sengaja ia melihat adanya foto Nadya dan Rafa di dalam ponselnya yang sudah lama di simpanya. Dimana foto itu Nadya masih mengunakan seragam putih abu abu dan Rafa mengenakan jaket jeans berwarna hitam. Dengan rambut yang di kepang membuat wajah Nadya terlihat masih labil.


"Terlihat dari wajah kalian berdua, di sini kalian sangat bahagia, tapi sayangnya kalian tidak berjodoh!" gumam Vandir.


Dari banyaknya foto Rafa dan Nadya, Vandir hanya menyisahkan dua foto di galerinya. Foto berseragam putih abu abu dan foto ketika keduanya sedang melakukan wisuda Sma, di mana foto itu Nadya mengunakan baju kebaya berwarna milo dan Rafa mengunakan kemeja berwarna cream.


Vandir sengaja menyimpanya karena ia sendiri masih mengharapkan jika Rafa dan Nadya suatu saat akan berjodoh namun, harapan itu sudah pupus saat ia melihat Vania dan saat Rafa mengakui jika Vania adalah calonya. Dan ia sendirilah yang mengajari Nadya untuk tidak mengangu hubungan orang lain walau pun ia sangat mencintai orang lain karena bahagia di atas menderita orang lain adalah perbuataan yang sangat keji, menurutnya.


"Ayah do'ain semoga kamu dapat jodoh yang lebih baik dari Rafa ya Nak!" gumam Vandir dan mematikan ponselnya.


"Gimana bos loh bisa gantiin posisi loh?" tanya Vania setelah melihat Rusdi memasukan kembali ponselnya kedalam saku celananya.


"Bisa!" ketus Rusdi menatap tajam pada Vania yang melotot padanya.

__ADS_1


"Kalau gue sih yang jadi bos loh, mana mau gue di atur sama bawahan gue, ngk sudi!" sombong Vania melipat kedua tanganya di dada dan membuang pandanganya dari Rusdi.


"Makanya sampai sekaramg loh ngk jadi bos!"


"Loh kok jadi nyolot sih?"


"Ya memang loh ramah ke gue?" sewot Rusdi.


"Capek gue ngomong sama loh!" pasrah Vania kini kembali mendudukan bokongnya di kursinya.


"Sudah, Mas yang sabar!" bisik Nadya dan memberikam isyarat pada Rusdi untuk tidak melanjutkan perdebatanya.


"Temen loh tuh rada kurang waras!" celetuk Rusdi, memandang kearah lain.


"Mungkin Vania lagi khawatir saja karena pacarnya sedang sakit!"


"Ngk gitu juga kali!"


"Kak, pasti perusahaan Kakak besar ya!"


"Bangunanya elit dan lantainya pasti banyak!"


"Wah, aku sudah tidak sabar untuk melihatnya!"


Lendra hanya terdiam tampa menjawab celetukan adiknya yang menurutnya terlalu panjang. Ini memang pertama kali bagi Naila berkunjung kekantor Lendra karena selama ini ia terlalu sibuk menyelesaikan pendidikanya hingga tidak mengetahui perusahaan baru Lendra.


"Kak, Naila tidak perlu kuliah ya, Naila bantu Kakak di kantor saja!"


"Memang kamu sudah bisa apa tampa kuliah?, kamu sudah bisa presentasi dengan baik?, Kamu sudah bisa membuat laporan sendiri?, Kamu sudah dapatĀ  mengaplikasikan laptop dengan benar dan Apakah kamu sudah mampu berbicara di hadapan orang penting dan berwibawa untuk menyampaikan hasil pemikiran kamu? Atau kamu sudah ....!"


"Naila belum bisa!" ucap Naila yang yang langsung memotong pembicaraan Lendra yang belum selesai karena ia sudah dapat menebak kemana arah pembicaraan Lendra yang justru akan menyudutkanya.

__ADS_1


"Terus kenapa kamu mau yang aneh aneh, kamu hancuri perusahaan Kakak, mau buat perusahaan Kakak bangkrut?"


"Iya ngk gitu Kak!"


__ADS_2