
"Perut sama badan aku memang kurus tapi lambung aku bisa menyimpan dengan kapasitas yang tinggi, tergantung kamunya saja mampu ngk beliin aku?"
"Loh nyepeliin gue?" ucap lelaki itu mendekatkan wajahnya dengan Tania.
"Bukanya nyepeliin tapi lihat aja makanan kok cuma tempe doang yang enak dong, sekalian tuh kalau kamu memang mampu, beliin juga Bodiguard loh makanan, kasihan mereka pasti kecapekan jagain gue sampai terlelap gitu!" ucap Tania lagi sembari memperhatikan sekitarnya. Preman yang membawa dan mengawalnya di sini sudah tertidur di atas meja, mereka terlihat sangat lelah.
Lelaki itu mengikuti arah pandangan Tania, betul saja seluruh bawahanya memang sudah tertidur. Terpaksa ia harus keluar dari dalam ruangan ini dan membelikan makanan untuk Tania agar wanita ini tidak kabur dari tahananya.
Setelah kepergian lelaki itu, Tania memperhatikan sekitarnya memastikan kalau orang yang yang menjaga benar benar sudah terlelap, Tania berusaha melepas ikatan di tangannya dengan mengesek gesekan tangannya di tepi meja, usahanya itu tidak membuahkan hasil karena tali yang di gunakan untuk mengikutinya terlalu tebal. Ia berusaha untuk mengeser kursinya dan membawakan bawah jendela yang di bawah jendela itu terdapat besi tajam yang dapat memutuskan ikatan.
Tania kembali memperhatikan sekitarnya, ia mendekati salah satu Preman yang menjaganya, ia menaruh tangannya di mata lelaki itu, lelaki itu masih tertidur dengan lelah, Tania memperhatikan sekitarnya bagaimana nanti jika ia kaburĀ tetapi preman preman ini tidak menyadari kepergiannya. Matanya menangkap pada sebuah kayu berukuran sedang, ia membawa kayu itu dan meletakanya di atas kursi yang di dudukinya sebelumnya dan menutupi dengan kain yang ada di atas lemari yang tak jauh dari preman itu.
Tania mulai menaiki jendela dan melompat kemarahan bawah, ia sebenarnya merasa takut melihat kekurangan dan ketinggian bangunan ini, tapi yasudahlah ia harus menyelamatkan dirinya karena tidak ada orang yang mencarinya, suaminya saja tidak memperdulikan dirinya.
"Aku harus kabur secepatnya!" ucap Tania yang kini sudah berada di tengah jalanan. Ia mengambil jalan pintas yang berada di belakang bangunan tempatnya di tahan. Jika ia lewat dari depan sama saja ia sedang mengantarkan dirinya pada Preman yang menjaganya di bagian depan bangunan ini.
Gadis itu menghentikan angkot yang melintas di hadapannya, ia memang sedikit ragu memakai kendaraan ini, lajunya sudah tentu tidak seperti yang di harapkannya, namun jika memakai kendaraan lain, ongkosnya tidak akan cukup karena ia hanya mendapat beberapa lembar uang ribuan di dalam sakunya.
"Mama!" ucap Rafa yang sudah berada di daun pintu rumah Vania bersama Nadya, lelaki itu langsung berlari menuju jenazah Tifani yang sudah di tutup oleh kain panjang. Di sebelah jenazah wanita itu terdapat Vania dan Narsi yang terus saja terisak. Air mata Rafa juga ikut menetes melihat tubuh calon mertuanya sudah tak bernyawa. Di pandangnya sejenak wajah kekasihnya terlihat sangat menyimpan beribu kesedihan dan matanya sudah membengkak.
Nadya duduk di sebelah Vania, ia ikut merasakan kesedihan yang di rasakan oleh Vania, karena sebelumnya ia juga sudah pernah mengalami peristiwa seperti ini, bahkan ia juga sudah di tinggal lebih dulu oleh mamanya.
__ADS_1
Sebelum jenazah Tifani di bawa kerumahnya, Narsi menyempatkan diri untuk menghubungi Rafa, Vania sudah tidak akan teringat untuk menghubungi kekasihnya dalam kondisi seperti ini, sedangkan Rusdi membantu menyiapkan pemandian terakhir Tifani, dan Naila membantu mempersiapkan kain kafan untuk Tifani. Setelah pergi dari hadapan kakaknya dan kakaknya tidak sedikit pun mengejarnya, Naila memilih untuk ikut membantu pemakaman Tifani.
"Kamu yang sabar ya Van!" ucap Nadya memandang jenazah Tifani.
"Gimana Tania dia sudah ketemu?" tanya Vania tampa menoleh pada Nadya, Nadya hanya mengeleng.
"Mama akan di makamkan setelah Tania melihat mama!" ucap Vania sedikit keberatan. Vania sebenarnya juga tidak ingin menahan jenazah ibunya, namun sejak menghilangnya Tania, Tifani sangat berharap agar bertemu dengan keponakan itu, dan sebelum Tifani di makamkan, Vania ingin mewujudkan permintaan terakhir Almarhuma mamanya.
"Tapi Tania belum di temukan!" Rafa.
"Aku hanya ingin mewujudkan keinginan terakhir mama!"
"Aku ingin seluruh karyawan ku dan karyawan kamu di satukan untuk mencari keberadaan Tania dan Tania harus di temukan paling lama nanti malam, jika tidak, Aku tidak akan memaafkan tuan Lendra sekeluarga!"
"Vania, pemandian untuk ibu Tifani sudah selesai!" ujar Rusdi yang baru saja memasuki tempat mereka berkumpul bersama kekerasan dan tetangga yang melayani di rumah Vania dengan celana jeansnya yang sedikit terangkat keatas dan sedikit basah.
"Aku ingin kamu menepati janji mu, temukan Tania sebelum mama ku di makamkan!"
"Vania, kamu taukan Tania itu sedang di culik dan kita sudah ketinggalan jejak mereka, mungkin saja penculiknya sudah membawanya ketempat yang lebih jauh, sekarang kita harus selesaikan pemakaman mama kamu dulu!"
"Mama ku selalu bertanya tentang Tania, dan aku mau sebelum mama ku benar benar pergi, ia sempat bertemu dengan Tania!" ucap Vania menatap tajam pada Rusdi yang duduk di sebelahnya.
__ADS_1
"Vania jangan konyol!" Rusdi.
"Konyol katamu? itu keinginan terakhir mama ku dan itu harus terwujud, kamu yang konyol, di saat dan keadaan seperti ini, kamu dan keluarga Lendra Bukanya mencari Tania, kalian malah berpacaran di rumah sakit!" ucap Vania yang langsung berdiri.
"Siapa yang berpacaran di rumah sakit, kamu jangan aneh dan terus menyalahkan keluarga Lendra!" ucap Rusdi yang sepertinya ia juga tersulut emosi mendengar pelontaraan yang keluar dari mulut Vania yang sudah jelas salah dan tidak benar sama sekali.
"Kamu pikir aku tidak tau, aku melihat semuanya Rusdi!" teriak Vania.
"Aku tau Van, Lendra salah sama keluarga kamu tapi bukan berarti kamu menyalahkan seluruh keluarganya!"
Naila yang sejak tadi sudah menyaksikan perdebatan keduanya dari pintu masuk rumah Tania hanya dapat meneteskan air matanya. Sebegitu bencinya Vania terhadap keluarganya, ia juga tidak dapat membantah ucapan Vania karena penderitaan yang muncul di kehidupan Tania dan Tifani karena ulah kakaknya yang tidak bertanggung jawab.
Rusdi menatap bola mata Vania yang sudah memerah, ia juga merasa bersalah atas apa yang sudah di ucapkannya, tidak seharusnya ia berkata demikian di saat kondisi Vania yang sudah seperti ini. Rusdi membuang arah pandangannya dari Vania dan memutarkan tubuhnya membelakangi wanita itu. Tak sengaja Rusdi sudah mendapati Naila yang masih berdiri tegak di depan itu. Wanita itu mulai melangkahkan kakinya mendekat kerah mereka.
"Naila mendengar semuanya!" gumam Rusdi merasa tak enak hati. Naila pasti akan membalas semua ucapnya jelek yang sudah keluar dari mulut Vania, pasti akan ada kemarahan besar dari gadis ini dan tentunya keributan sudah pasti terjadi, pikir Rusdi.
"Sayang, sudah ya, sekarang kondisinya masih berduka!" ujar Rafa menghampiri Vania dan mengelus kedua pundak Vania. Ia juga melihat adanya kemarahan besar yang terpanjar dari aura wajah adik Lendra itu. Ia juga sudah dapat menjamin akan terjadinya kegaduhan antara dua wanita ini dan Vania juga melihat dengan jelas dari cara jalan dan wajah Naila, wanita ini akan meluapkan amarahnya padanya, namun, hal itu tidak membuat Vania takut sedikit, bahkan ia siap untuk melawan kemarahan Naila.
"Nai, kita kerumah sakit ya, kita lihat mama sama papa kamu!" ajak Rusdi yang langsung memegang pergerakan tangan Naila dan siap membawa Naila keluar dari ruangan ini, sebelum keributan itu benar benar terjadi.
"Ngk Kak!" ucap Naila yang langsung menepis tangan Rusdi dan semakin mendekat dengan Vania.
__ADS_1
"Semoga tidak ada keributan yang terjadi!" gumam Rusdi.