Madu Dihari Pernikahan

Madu Dihari Pernikahan
Bab 9 - Rafa dalam bahaya


__ADS_3

Buugghhhhhh


"Arrggggghhhhh"


Secara dadakan Rafa mendapat pukulan dari arah belakangnya, kini kepalanya terkena pohon besar yang ada di hadapanya, keningnya di lumurin darah segar hingga mengenai bagian matanya.


"Masih mau melawan loh?" tanya kawanan preman itu yang kini sudah mengepungnya, Rafa menatap mereka satu persatu, andai saja ia mengetahui kedatangan kawanan itu mungkin saja akan lebih hati hati dan menjaga strateginya dalam menghadapi satu preman si*lan ini. Mereka benar benar licik, mereka menjadikan satu kawannya sebagai umpan ketika lawan lengah di saat itu kawanan itu datang menyerangnya secara tiba tiba.


Di tengah tubuhnya yang terasa sulit untuk di gerakan, ia terus memaksakan untuk berdiri dan kembali menghadapi preman preman baj*nganĀ  ini. Tubuhnya belum lagi tegak untuk berdiri ia langsung menerima tendangan dari kawanan itu, membuatnya kembali tersungkur dan semakin banyaknya darah yang mengalir di tubuhnya.


"Akhhhhhhh, sakit sekali!" ringgis Rafa sembari mengusap darah yang mengalir di keningnya.


"Masih kuat anak muda?" tanya preman itu menghampiri Rafa yang sudah terlempar jauh dari mereka dan menarik kera baju Rafa dengan kuat, menambah rasa sakit di lehernya.


"Andai saja kalian tidak main keroyokan, aku tidak akan kalah seperti ini!" gumam Rafa dengan kedua tangan mengepal dan mengengam pasir di tanganya.


"Siasat licik!" lirihnya lagi.


"Kenapa sudah tidakk mampu?" lagi lagi preman baj*ngan itu menendang tangan Rafa yang mengepal mengunakan sepatunya hingga berdarahnya dan lelaki itu hanya dapat menahan perih yang di rasakannya, untuk melawan ia sudah kehabisan banyak energinya.


"Kenapa aku terus memikirkan Rafa seperti ini, tidak seperti biasanya!" gumam Vania yang kini sudah berada di dapur rumahnya. Dengan memegang segelas air putih di tanganya.


"Akhhh sudahlah Rafa baik baik saja!" ucapnya berusaha untuk melepas pikiran kotor yang sempat terlintas di benaknya tentang kekasihnya itu. Entah mendapat insting dari mana perasaan cemas Vania terus tertuju pada Rafa.


Dengan membawa segelas air putih, Vania berjalan keruang utama rumahnya untuk memberikan Tifani minum.

__ADS_1


"Ma, kok aku kepikiran Rafa terus ya?" aduh Vania setelah Tifani meminum air yang di seguhkan olehnya dan Tifani hanya membalasnya dengan seuntai senyum miliknya.


"Ma, Aku takut Rafa kenapa napa!" keluh Vania lagi karena ia merasa belum puas atas respon yang di berikan ibunya padanya.


"Kamu banyakin doa ya Sayang!" ucap Tifani dengan mengelus pundak kanan Vania dan Vania hanya mengangguk paham. Ia tahu betul jika ibunya sedang kepikiran seperti ini pasti ibunya akan sangat irit untuk bicara.


"Mama mau kemana?" tanya Vania yang melihat Tifani sudah beranjak dari sofa yang di dudukinya.


"Mama mau istirahat di kamar!" balas Tifani kembali melanjutkan langkahnya.


Vania yang tidak dapat menahan rasa cemasnya dan menghilangkan pikiran itu dari benaknya segera mengambil ponselnya dari dalam sakunya untuk menghubungi Rafa.


"Nomor yang anda tuju sedang tidak dapat di hubungin!"


Berkali kali Vania menghubungi nomor Rafa tetapi tetap jawaban sama yang di terimanya, membuat rasa khawatirnya semakin menambahnya dan rasa cemas kini melandanya.


"Safar? Iya aku harus menghubungi Safar!" untung saja tadi Rafa mengatakan ia mencari Tania bersama Safar.


"Hallo!, Ada yang bisa di bantu?" tanya suara seorang wanita yang di hubungi oleh Vania. Vania yang tidak memiliki nomor Safar memilih untuk menghubungi pihak kantor Rafa untuk meminta nomor pria itu dari sana.


"Saya Vania!" balas Vania.


"Iya Ibu, Ada yang bisa saya bantu?" tanya lagi.


"Kantor ada kontak Safarkan?" tanya Vania.

__ADS_1


"Ada Bu!"


"Kirim ke saya!"


"Nomor yang anda tuju sedang tidak dapat di hubungin!"


"Kenapa sih mereka pada ngk bisa di hubungin? Rafa kamu kenapa sih Yang!" cemas Viona.


"Non, kenapa Non?" tanya Narsi yang kini menghampiri Viona.


"Rafa ngk bisa di hubungin Bi, Dia apa ngk tau aku khawatir begini?" ucap Viona dengan cepat.


"Non jangan berburuk sangka dulu karena kitakan ngk ada yang tau apa yang terjadi dengan Den Rafa!" ucap Narsi berusaha menenangkan anak majikanya itu.


"Itu yang saya khawatirkan Bi!" ucapnya.


"Ambil semua barang yang dia punya!" pinta preman bertubuh paling besar di antara mereka, sesuai perintah, preman preman itu segera mengambil paksa barang yang di pakai oleh Rafa termasuk jam tangan pemberian Viona.


Tubuhnya yang sangat lemah sudah tidak mampu lagi untuk melawan, namun sebisa mungkin Rafa berusaha mempertahankan jam tangan itu, apa pun boleh di ambil darinya termasuk ponsel yang merupakan medianya dalam bekerja dan termasuk salah kunci suksesnya perusahaanya tapi tidak dengan arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Jangan ambil jam tangan ku!" ucap Rafa terputus putus dan suara yang di sertai batuk.


"Enak aja loh!" ucap salah satu preman itu sembari menendang tubuh Rafa karena sempat melakukan perlawanan kecil.


Setelah mengambil semua barang berended yang di pakai Rafa, preman preman itu pergi meninggalkanya.

__ADS_1


Dalam keadaan tubuh yang masih sempoyongan, Rafa memaksakan tubuhnya untuk terus bergerak dan melangkah.


"Akhhhhh tubuhku rasanya sakit sekali!" gumamnya dengan terus menyeret tubuhnya agar menjauh dari tempat ini.


__ADS_2