
Kini hanya ada kehenungan di ruangan Lendra. Tania hanya terdiam, begitu pula dengan Lendra. Ia hanya memandangi wajah istrinya yang terlibat sangat lelah. Perasaan bersalah kini muncul dalam dirinya. Ia merasakan perih yang selama ini di rasakan wanita itu. Sekarang ia tengah mengantikan posisi istrinya bahkan kini ia melalui cobaan hidup yang juga terbilamg cukup berat. Orang tuanya menarik aset yang selama ini sudah menjadi miliknya dan wanita yang di cintainya juga meninggalkannya di saat ia terpuruk seperti ini. Parahnya wanita yang mencintainya juga kini akan ikit pergi karena merasa tak pernah di hargai olehnya.
Lendra mengengam tangan Tania. Tania mendongakan kepalanya menatap suaminya. Air matanya menetes begitu saja. Ada perasaan bahagia di hati kecilnya namun, rasa kecewanya lebih dalam. Sifat suaminya membuatnya ragu dengan keputusanya tapi, ia juga tidak ingin mengubah keputusan karena ia yakin, Lendra adalah lelaki pintar dan bijak dalam berbisnis, ia akan kembali sukses dalam waktu dekat dan jika hal itu terjadi maka, Lendra juga akan kembali ke Safania. Tania tidak ingin mengulang luka yang sama dengan orang yang sama.
"Tan, Andai aku bisa ubah waktu, aku tidak akan melakukan perbuatan ke*i itu ke kamu. Kamu gadis yang baik, tidak seharusnya kamu mendapat perlakuan seperti itu!"
"Tapi nyatanya kamu melakukannya Mas. Dari awal pernikahaan kita, aku hanya ingin membantu pemulihaan ibu kamu tapi, ternyata aku tidak sekuat itu. Aku terlalu rapuh buat kamu yang terlalu kokoh. Aku terlalu berharap untuk kamu yang tidak pernah menganggap ku dan sekarang aku sadar ini waktunya aku untuk pergi. Aku jenguk Mama dan papa dulu. Kamu sini dulu ya, nanti aku balik lagi!" ujar Tania mengelus rambut Lendra dengan lembut dan kemudian tersenyum pada pria itu.
Lendra hanya dapat menatap kepergian Tania yang sudah berada di depan pintu ruanganga. Ia tidak menahan air matanya. Buliran bening itu mengalir begitu saja membasahi wajahnya. Ingatanya kembali mengarah pada momen momen yang pernah di laluinya bersama Tania. Ia juga mengingat bagaimana perlakuan kasar dan tidak adilnya pada Tania. Hanya penyesalan yang kini dapat di rasakanya.
"Jika suatu saat kamu kembali dan kamu tidak meninggalkan ku. Aku janji akan menjadikan kamu ratu di kehidupan ku dan tidak akan ku biarkan tangisan menghampiri wajah mu jika, itu bukan tangisan kebahagian!" gumam Lendra pada dirinya.
Tania kini berada di taman rumah sakit. Ia tidak benar benar mengunjungi mertuanya melainkan, memilih untuk menenangkan dirinya dahulu dan menyakinkan kembali keputusanya. Ia tidak yakin jika suaminya akan tulus padanya. Ia lebih baik hidup pas pasan tapi, mendapat cinta suaminya dari pada hidup mewah tapi ia tidak di perlakuan dengan baik. Jika Lendra sudah mendapatkan kehidupanya seperti sedia kala, Tania sangat yakin, Lendra pasti akan meninggalkanya atau mengabaikanya.
__ADS_1
"Aku hanya tidak ingin menambah goresan dalam hati. Sudah cukup duri yang kau tancapkan Mas. Aku harus pergi. Jika memang ini sudah takdirnya aku ikhlas tapi, jika kita memang berpisah aku yakin Tuhan akan memberikan petunjuk atas rumah tangga kita tapi, aku juga tidak akan memberikan celah pada orang lain untuk menyakiti ku. Sudah cukup tangisan ku!" gumam Tania mengusapkan tanaganya di wajahnya.
Tak sengaja mata Tania menangkap sebuah pemandangan yang menampakan seorang anak yang sedang bersama kedua orang tuanya. Anak itu tampak meniupkan sesuatu hingga menghasilkan gelumbung yang cukup banyak. Wanita dan pria dewasa itu tertawa terbahak bahak, akhirnnya jagoan mereka dapat melakukanya juga setelah berulang kali gagal. Mereka terlihat sangat bahagia.
Tania melangkahkan kakinya mendekat dengan mereka. Bibirnya tersenyum tipis menatap kebahagian mereka dengan cara sederhana. Sesimple itu untuk bahagia tapi, hanya untuk tersenyum sulit baginya. Wanita yang bersama anak kecil itu menyadari kehadiran Tania, ia mendekati Tania dan menanyakan maksud Tania menghampiri mereka.
"Saya hanya tidak sengaja melihat kalian dan saya ikut bahagia melihat kehumorisan kalian. Keluarga kecil yang sangat bahagia. Mbaknya beruntung banget punya suami yang sayang keluarga dan di karunia buah hati yang sangat tampan!" jawab Tania tersenyum lebar dan mencolek dagu anak kecil itu dengan gemas.
"Jadi, kalian belum suami istri?" tanya Tania menunjukan jari telunjuknya mengarah pada mereka secara bergantian. Wanita dan lelaki itu mengganggum secara bersamaan.
"Mbaknya sepertinya baru saja menangis?" Tania langsung mengusapkan tanganya kebola matanya dan menghapus sisa sisa air matanya.
"Mbak sedang menunggu kerabat Mbak yang sakit dan Mbak menangis?"
__ADS_1
"Mbak kata Om aku, ngk boleh nangis, kita doain saja keluarga kita yang sakit di berikan kesembuhan oleh Allah biar cepat kumpul lagi di rumah. Jangan sedih nanti sembuhnya makin lama. Gitu kata Om aku. Iyakan Om!" ujar bocah lelaki itu menarik ujung baju lelaki paruh baya itu. Lelaki itu langsung mengangkat tubuh anak kecil yang berada di bawahnya dan mengendongnya.
"Ia Sayang!" jawabnya.
"Oh iya mbak kita luan ya, kita mau jenguk orang tua Roni!" pamit wanita itu dan Tania hanya mengangguk.
"Anak kecil itu hidupnya tidak sempurna, ia hampir saja kehilangan orang tuanya tapi, ia masih bisa tersenyum walau tidak mendapat kasih sayang dari orang tuanya setidaknya, ia tidak kekurangan kasih sagang karena ia masih mendapatkan dari teman orang tuanya lalu, apa bedanya dengan hidup ku. Aku tidak mendapat cinta suami ku tapi, ku mendapat restu yang sangan besar dari keluarga suami ku tapi, bedanya aku dengan anak kecil itu, aku tidak menerima takdir ku dan tidak mensyukuri sesuatu yang sudah menjadi jalan ku!"
Hatinya semakin bimbang. Keputusan yang sudah bulat mulai runtuh.
"Aku sudah mengajunya pada pengadilan agama dan aku juga sudah mengatakan niatku pada mertua ku. Apa yang sudah menjadi ucapan ku maka, akan ku pertanggung jawabkan dan aku akan tetap berpisah suami ku. Aku tidak ingin menyiksa hidup ku lebih lama lagi!" gumam Tania. Gadis usia dua puluh tahun lebih itu memejamkan matanya perlahan.
"Tuhan aku bukanlah hamba mu yang pandai memilih keputusan jika, pernikahaan ku hanya sampai sini permudahlah perpisahan kami tapi, jika ini hanya cobaan dan rumah tangga kami tetap berlanjut maka berilah hamba petunjuk. Jangan biarkan hamba mu yang lemah ini salah dalam mengambil keputusan untuk menentukan hidupnya!" Tania hanya dapat melantunkan doa yang terlintas di benaknya.
__ADS_1