
"Sedangkan di saat aku terbangun aku hanya melihat bawahan kamu yang sedang menunggu ku? Dan sekarang kamu mengatakan kamu menunggu ku? Dasar buaya!" ucap Vania tampa memandang wajah Rafa.
"Kamu boleh kok tanya Suster, Dokter atau aorang yang kamu temui itu, tanya kemereka, siapa.yang sejak tadi menunggu kamu? Dan kamu tau karena aku langsung membawa mu kerumah sakit aku tidak memperdulikan Nadya dan Vandir, Nadya kerumah sakit di bawa oleh Fikri dan Fikri yang tidak mengenal pak Vandir meninggalkan beliau di tempat kejadian dan sekarang pak Vandir tidak diketahui keberadaanya dan aku tadi berada di kamar Nadya hanya untuk menguatkannya saja, dia tadi ngebet keluar rumah sakit untuk mencari keberadaan ayah dan kalau kamu di posisi aku. Apakah kamu tega membiarkan seseorang yang kondisi tubuhnya masih sangat lemah terlantar di jalanan sana!" ujar Rafa panjang lebar.
"Kamu sekarang sudah pandai ya Raf buat alasan sampai ngarang gitu dan bilang lebih ngutamain aku, sebelum kamu suruh aku sudah lebih dulu bertanya pada Suster, ada tidak yang menemani ku di rumah sakit, menunggu hingga aku sadar dan Suster itu bilang ada dan aku menyuruhnya untuk memanggilnya orang itu dan yang hadir bukan kamu. Aku nyangka kamu sudah tertangkap basah masih saja mengelak, ternyata ini sifat asli kamu ya atau memang kamu sering ngelakuin hal ini ke aku cuma akunya saja yang baru sadar!" ucap sekaligus tuduh Vania.
Rafa memijat alisnya, kepalanya terasa berat, pikirannya terlalu menumpuk, sudah berkata jujur tapi masih di tuduh berbohong. Keberuntungan memang tidak berpihak padanya, andai saja gadis ini tau yang sebenarnya. Menjelaskan juga toh percuma, Vania tidak akan mempercayainya yang ada akan memperpanjang masalahnya, solusi satu satunya hanya diam dan membisu.
"Apa yang buat kamu bisa beralih ke Nadya, Raf, apa yang di punya Nadya aku tidak ada? Apa? Nadya lebih cantik?" teriak Vania histeris. Rafa tetap membigu di tempatnya. Hanya mengharapkan ketenangan itu segera menghampiri kekasihnya.
"Aku lebih cantik dari Nadya, aku lebih mampu dari segi keuangan, penampilan ku lebih modis dan fashoin, lekukan tubuh ku juga jauh lebih sempurna, lalu apa yang kamu lihat darinya?" Rafa membalalak matanya secara sempurna pada Vania, ia tidak menyangka jika kekasihnya itu sampai hati bicara seperti itu, bagaimana jika Nadya mendengarnya pasti Nadya akan sakit hati banget.
__ADS_1
"Sejak kapan kamu bisa memandang seorang dengan rendah seperti itu?" tanya Rafa menatap tajam pada Vania. Tatapan maut yang sebelumnya tidak pernah di lakukan Rafa pada Vania. Vania menatapnya tak kalah tajam.
"Kenapa? Apa yang aku katakan benarkah? Benar ya kata orang kalau lelaki selingkuh pasti selingkuhanya di bawah pacarnya!" sindir Vania dengan membentuk sudut di bibirnya.
"Aku baru sadar ya ternyata di balik wajah kamu yang cantik, di balik kekayaan yang sering kamu bagikan keorang lain, ternyata ada jiwa sombong yang tertanam dalam diri kamu!" ujar Rafa tak kalah sinis dan langsung meninggalkan Vania seorang diri di dalam ruanganya.
Vania gadis berkulit putih bersih, wanita yang selama ini di nilai oleh Rafa memiliki sifat yang mulia seperti warna kulitnya ternyata menyimpan kebusukan di dalam hatinya. Walau pun hubunganya dengan Nadya sudah kandas tapi ia juga tidak terima jika mantan kekasihnya itu di hina seperti itu dan untuk menikah dengan wanita yang suka merendahkan orang lain, Rafa harus berfikir dua kali untuk itu.
Aaaaaaaaa
"Maafkan aku Nad, Aku tidak bermaksud seperti itu, tapi aku kecewa sama kamu dana Rafa, Nad, aku tidak nyangka kamu bisa setega itu keaku! Maaf Nad!" teriak Vania membuang selimutnya kelantai.
__ADS_1
"Aku keterlaluan!" ujar Vania lagi yang kini menbentrokan kepalanya dengan dinding rumah sakit. Ia benar benar menyesal atas apa yang sudah di ucapkanya, ia tidak layak untuk mengatakan hal itu. Rafa pasti akan marah besar padanya apalagi Rafa sangat membenci seseorang yang suka memandang rendah pada orang lain.
Vania memeluk lututnya, di tengkupnya kepalanya di atas lututnya itu dan menangis seseguk seguknya untuk menumpahkan seluruh kemarahanya. Tidak ada lagi seorang wanita yang mengelus rambutnya di saat seperti ini, tidak ada lagi yang memeluknya di saat ia hancur seperti ini dan tidak ada yang menguatkan di saat ia ragu seperti ini dan ia juga tidak lagi merasakan pelukan hangat yang menyertainya di kala kesedihanya.
Seakan semua pergi meninggalkanya, biasanya Tifani selalu mengelus rambutnya dan memeluknya dengan sangat erat jika ia sedang menangis hebat seperti ini dan Tania yang selalu memberikan motivasi kepadanya di saat dia kehilangan arah dan selalu ada Rafa yang berhasil membuatnya kembali tertawa setelah kehabisan suara seperti ini. Tapi sekarang satu pun di antara mereka tidak ada yang menghampirinya. Tifani sudah meninggalkanya dan Tania yang sudah sibuk dengan urusan rumah tangganya dan Rafa yang sudah mematahkan hatinya.
Sendiri, gelisah, marah, kecewa beraduk menjadi satu dalam diri Vania. Ia benar benar tidak memiliki siapa siapa untuk menumpahkan keluh kesahnya, jika dahulu ia adalah anak yang paling beruntung karena selalu di keliling tapi sekarang, semuanya menghilang secara sempurna.
Sedangkan Rafa memutuskan untuk kembali menemui Nadya, setidaknya melihat wajah Nadya dapat memberikan ketenangan dalam dirinya. Di dalam ruangan Nadya, Rafa tidak minat seorang pun dalam ruangan ini hanya ada selimut putih yang di julurkan memanjang hingga menutupi seluruh bagian ranjang.
"Nad!" ujar Rafa membuka selimut itu dan nihil, tidak ada orang di temukanya. Rafa membuka gorden ruangan Nadya, tetap tidak ada orang di temukanya.
__ADS_1
"Nadya pasti nekat untuk mencari Om Vandir aku harus mencarinya!" ujar Rafa yang kemudian berlari. Rafa segera masuk kedalam mobilnya dan melajukanya dengan sangat kencang. Sebenarnya Nadya melihat Rafa yang berlari lari seperti orang yang sedang di kejar hutang, namun Nadya memilih untuk bersembunyi di balik tembok agar pria itu tidak melihatnya.
"Aku hanya tidak ingin menjadi perusak hubungan kamu dan Vania. Aku menyayangi dengan sangat tulus, maka melihat mu bahagia adalah bagian dari ketenangan ku. Aku pergi bukan berarti aku berhenti mencintai mu, aku hanya ingin memberi jeda pada diriku agar tidak selalu menyakiti hati ini dan takkan ku biarkan hubungan mu kandas hanya karena aku yang belum bisa melupakan mu. Bahagia terus ya orang baik agar pengorbanan ku tidak sia sia!" gumam Nadya yang kemudian memutarkan tubuhnya dan berjalan kearah pintu keluar dari rumah sakit dan memutuskan untuk pergi dari tempat ini.