Madu Dihari Pernikahan

Madu Dihari Pernikahan
Bab 52 - Nadya dalam bahaya


__ADS_3

"Assalamualaikum!" panggil Vandir yang sudah berada di depan pintu rumah Vania, tak ada sahutan Vandir kembali mengetuknya.


"Assalamualaikum!" panggil Vandir lagi. Rafa yang masih duduk di sofa itu, mendengar suara seseorang yang berada di luar rumah Vania, ia segera berjalan menghampiri tempat itu.


"Om!" ucap Rafa yang melihat sosok.lelaki yang lebih tua darinya itu sudah berdiri di depan pintu rumah Vania, Rafa segera menyalam punggung tangan Vandir.


"Nadya mana Om?" tanya Rafa yang sudah menyapu seluruh pandanganya kearah sekitarnya namun, tidak di temukannya sosok gadis yang di carinya itu. Ada sedikit kejanggalan di hatinya, cepat sekali Nadya sampai kerumah, bukankah tadi dia bilang belum masak dan sekarang Vandir sudah berada di depan rumah Vania.


"Seharusnya Om yang nanya, Nadya kemana kok sedari tadi belum ada pulang kerumah, bukankah tadi dia bersama kalian?" tanya Vandir yang juga mulai merasa kebingungan.


"Seharian ini Rafa memang bersama Nadya, Om tapi baru saja Nadya pamit pulang katanya belum masak untuk Om dan Rafa juga tadi nyuruh Nadya buat kesini lagi bareng Om, makanya Rafa nanya Nadya mana Om?" ucap Rafa menjelaskan.


"Tapi seharian ini Nadya belum ada balik kerumah, Om khawatir sama dia, takutnya nanti sesuatu buruk terjadi padanya!" ucap Vandir yang mulai merasakan kecemasan.


"Tapi tadi Nadya sudah izin balik pulang Om!" Rafa.


"Kemana Nadya Ya Allah hamba takut ada hal buruk terjadi pada putri hamba!"


"Kita doain yang terbaik buat Nadya saja ya Om, semoga dia baik baik saja!"


"Om harus mencarinya!" ucap Vandir yang kemudian langsung berjalan meninggalkan Rafa.


"Rafa ikut Om!" teriak Rafa karena Vandir mulai menjauh darinya, dan pergi meninggalkan rumah Vania tampa menguncinya terlebih dahulu dan tidak memberitahukanya pada Vania, seakan ia melupakan janjinya untuk tidak membiarkan Vania seorang diri di rumah.

__ADS_1


"Om, kita cari Nadya pakai mobil Rafa saja!" ucap Rafa yang segera berlari menuju tempat mobilnya terparkir dan melajukannya dengan Vandir yang duduk di sebelahnya.


"Hai gadis cantik!" goda pria bertubuh besar dengan hanya mengunakan kaos tampa lengan di tubuhnya. Ia baru saja tiba di tempat Nadya.


"Siapa kamu?" tanya Nadya mulai ketakutan, dari penampilanya saja pria ini tampak menyeramkan, apalagi ia memakai celana jeans yang di tengahnya terdapat lubang besar, dan ia terus melangkahkan kakinya mendekat denganya.


"Kamu cantik sekali!" godanya lagi yang kali ini dengan lantangnya pria itu mencolok hidung Nadya dan Nadya langsung menyingkirkanya dengan kasar dan menatapnya dengan tatapan penuh kemarahan.


"Berani kamu ya?" marah Preman itu pula karena Nadya sudah berani melakukan perlawanan padanya. Ia semakin mendekatkan tubuhnya dengan Nadya dan Nadya terus berjalan kearah belakangnya.


"Menjauh dari ku!" teriak Nadya yang kini ia mendorong tubuh lelaki yang berada di hadapanya dan segera berlari menjauh dari preman begis itu.


"Mau kemana kamu?" tanya Preman itu dengan santai yang entah dari mana asalnya, Nadya yang sudah berlari menjauh darinya, tiba tiba saja preman itu sudah berada di hadapanya lagi.


"Apa yang kalian inginkan dari ku?" tanya Nadya yang kini hanya bisa terdiam di tempatnya.


"Kami hanya ingin kamu menemani malam kami!" ucap salah satu preman yang berada di belakang Nadya.


"Hal yang mudah bukan?" ucap preman satunya lagi yang berada di sebelah kirinya tampa merasa bersalah sedikit pun.


"Aku tidak mau!" ucap Nadya penuh penekanan dan memantau sekitarnya dengan penuh kewaspadaan agar preman preman itu tidak ada yang menyentuh tubuhnya sedikit pun.


"Mau tidak mau, kamu harus mau!" bentak preman yang ada di sebelah kirinya dan ia malah mendekatkan dirinya dengan Nadya dan menatap Nadya penuh nafsu, Nadya hanya mampu melangkah kecil untuk menghindar dari lelaki bertubuh besar itu.

__ADS_1


"Mau kemana kamu?" ucap preman yang berada di sebelah kanan Nadya karena Nadya hampir saja menabrak tubu lelaki itu.


"Biarkan aku pergi!" ucap Nadya langsung mendorong perut lelaki itu dan berlari cepat untuk meninggalkan preman ini. Lari adalah solusi satu satunya untuk menyelamatkan dirinya dari dunia gelap para preman preman ini.


"Tangkap dia!" teriak Preman yang lebih dulu mendatangi Nadya itu mengarahkan seluruh mereka untuk mengejar Nadya yang memiliki pergerakan yang sangat lambat.


"Sayang, Raf, Rafa, Sayang, Kamu di mana?" teriak Vania yang baru saja turun dari lantai atas dan masih menuruni anak tangga satu persatu dengan pakaian yang sudah berganti dengan pidana tidurnya.


"Sayang!" panggil Vania lagi yang tidak menemukan sosok kekasihnya itu dan ia hanya menemukan ponsel Rafa yang terletak di atas meja yang di depan sofa yang sebelumnya di dudukinya bersama Rafa dan Nadya.


Vania hanya berfikir jika Rafa hanya sedang ketoilet sebentar, tidak mungkin Rafa meninggalkannya, Rafa bukanlah tipe lelaki yang mudah mengingkari janjinya, sebisa mungkin pasti ia berusaha untuk menepati janji, apalagi handphone Rafa yang masih terletak di atas meja.


Vania mulai merasakan kejenuhan dalam dirinya, sudah cukup lama ia menunggu Rafa namun, lelaki itu tetap saja tidak muncul di hadapanya. Vania mengambil ponsel Rafa yang terletak dan memainkannya karena ia mulai merasa bosan menunggu Rafa tidak hadir juga.


Vania tidak ada niat untuk membuka hal hal yang bersifat pribadi pada Rafa, ia hanya memainkan permainan offline yang ada di handphone Rafa. Entah mengapa tiba tiba saja, rasa keinginan tau dalam diri Vania muncul begitu saja. Ia segera melatakan kembali ponsel Rafa, ia tidak ingin menambah beban pikirannya jika melihat kelakuan asli Rafa di sosmednya.


"Tidak boleh membuka hal yang bersifat pribadi pada orang lain!" guman Vania pada dirinya dan memejamkan matanya sesaat agar keinginan tau dirinya terhadap ponsel Rafa segera menghilang.


Vania menutup kedua matanya mengunakan kedua telapak tanganya, dan membalikan layar ponsel Rafa agar keinginan tau dalam dirinya menghilang dan hal itu hanya berlaku selama 15 detik.


Tak tahan rasanya, Vania menghidupkan kembali ponsel Rafa, ia juga membuka aplikasi pesan singkat yang di miliki Rafa. Ia hanya melihat beberapa kontak yang di ponsel lelaki itu, bahkan ia tidak melihat adanya bekas chatan antara Rafa dengan wanita lain. Rafa hanya memberi kabar padanya dan beberapa orang terdekatnya serta sesekali melakukan panggilan pada teman cowoknya.


Hati Vania sedikit merasa tenang dan lega, ternyata kekasihnya itu tidak seburuk yang di pikirkanya. Namun, ada sesuatu hal yang menganjal di pikiran Vania saat melihat sebuah percakapan antara Rafa dengan sahabatnya, Regan.

__ADS_1


"Pacaran mulu, kapan di nikahinya?" balas Regan pada salah satu stori yang beberapa bulan lalu di buat Rafa. Di mana stori itu berisikan foto Vania dan Rafa sedikit mendeskripsikan tentang Vania yang di penuhi dengan kebaikan dan keindahan dalam dirinya.


__ADS_2