Madu Dihari Pernikahan

Madu Dihari Pernikahan
Bab 121 - Menjenguk Rusdi


__ADS_3

"Pak ini unsur ketidak sengajaan dan saya tidak ada niat buat mencelakai pak Rusdi dan saya niat untuk membantu penyembuhan pak Rusdi!"


"Lalu bagaimana perusahaan Pak Lendra, apa kamu juga akan mengatakan ketidak sengajaan padahal sudah jelas kamu melakukan secara sengaja? Kamu masih mau ngeles Kiara?" Kiara yang mendengarnya hanya dapat menundukan kepalanya. Hatinya terlalu sakit mendengarnya.


"Maksudnya apa kak Rusdi?" tanya Naila menatap Evandi serius karena ia tak mengerti arah pembicaraan Evandi yang menyangkut nama kakaknya.


"Dia penyebab semua ini!" ucap Evandi menekan setiap kata yang keluar dari mulutnya dan menunjuk kearah wajah Kiara. Spontan Naila menatap Kiara yang memasang wajah tak berdosanya. Ia tak percaya kata yang keluar dari mulut pria itu namun, melihat wajah Kiara, ia juga yakin karena wajah Kiara yang tampak lusuh.


"Saya tidak ingun membenarkan diri saya dan saya juga tidak akan melakukan pembelaaan apa pun lagi terserah pada Bapak mau menilai saya seperti apa tapi, Bapak harus tau saya tidak pernah ada niat buruk sedikit pun pada pak Rusdi mau pun pak Lendra tapi kalau Bapak meminta saya untuk pergi maka akan saya laksanakan. Saya juga sudah tidak ada gunanya di sini!"


"Oh silahkan tidak ada yang melarang!" ujar Evandi menunjuk kearah pintu keluar ruangan.


"Baiklah!" Kiara mulai mengerakan kakinya dengan air mata yang mulai menitih dari bola matanya namun, langkahnya tiba tiba saja terhenti saat sebuah tangan mencengkram dengan kuat pergelangan tanganya. Kiara membalikan tubuhnya dan menatap tangan itu dengan jelas. Dilihatnya tangan Rusdi yang mengengam tanganya dengan erat.

__ADS_1


Kiara langsung menatap mata Evandi seakan ia ingin menyampaikan hal ini pada Evandi melalui tatapanya. Tak terasa air mata Naila menetes begitu saja. Rusdi memperlakukan Kiara begitu spesial. Tak lama selang setelah itu mata Rusdi terbuka dan ia langsung menatap wajah Kiara dengan seksama.


"Jangan pergi!" lirih Rusdi yang semakin menguatkan gengaman tanganya. Naila semakin tidak tahan menyaksikan hal ini, ia langsung berlari meninggalkan ruangan Rusdi dengan air mata yang berlinang. Evandi sebagai lelaki yang sudah mengenal Naila cukup lama ikut berlari dan mengejar adik sahabatnya. Di dapatiya Naila yang duduk di kursi putih yang berada di belakang rumah sakit dengan memeluk tubuhnya sendiri. Evandi langsung duduk di sebelah wanita itu.


"Kamu kenapa Nai?"


"Naila ngkpp Kak!" jawab Naila yang langsung menghapus air matanya dan tersenyum pada lelaki itu walau pun dadanya terasa sangat sesak.


"Kamu suka sama kak Rusdi?"


"Nai kalau kamu suka sama kak Rusdi kamu ungkapkan, jangan di pendam. Kakak yakin kok kalau kak Rusdi bakal suka juga sama kamu. Kamu tuh cantik, baik, sholeh. Banyak lelaki yang ingin bersama mu termasuk kak Rusdi jadi, kamu tidak perlu sedih!" ujar Evandi sembari mengusap pundak Naila dengan lembut.


"Kak Rusdi ngk bakal suka sama Naila, Kak, Kakak lihat tadikan bagaimana respon kak Rusdi ke kak Kiara dan Naila yakin kalau kak Rusdi sukanya sama kak Kiara bahkan tadi kak Rusdi ngk melihat keberadaan Naila, percuma Naila ada di sini!"

__ADS_1


"Tidak ada yang percuma selagi niat kamu tulus pasti ada jalan!"


"Naila ragu!" Evandi hanya membalasnya dengan senyum manis miliknya.


"Kamu sayang sama akukan Kia?" Rusdi menatap bola mata Kiara dan gadis itu hanha mengangguk.


"Aku bisa minta tolong?"


"Kamu mau minta tolong apa Pak?"


"Aku ingin kamu membantu ku untuk mencegah pak Delino untuk pengalihan  nama perusahaan milik pak Lendra!"


"Saya sudah keluar dari perusahaan Pak, saya sudah tidak dapat berbuat lebih. Saya hanya dapat mendukung Bapak dari kejauhan. Saya berdoa apa yang akan Bapak kerjakan selagi itu baik akan berjalan dengan lancar!"

__ADS_1


"Saya butuh bantuan kamu!" kiara mengeleng.


__ADS_2