Madu Dihari Pernikahan

Madu Dihari Pernikahan
Bab 30 - Kantor


__ADS_3

"Siapa sih itu, centil banget!" ujar Naila dengan mata yang masih menatap kepergian Kiara dan Rusdi melihat dengan jelasnya ada kekesalan di mata gadis kecil itu.


"Dia Sekretaris Kakak kamu!"


"Aku bakal suruh kak Lendra buat pecat dia dari sini, centil banget!"


"Masalah apa yang buat kamu mau suruh kak Lendra buat pecat dia, dia kerjanya bagus kok, kok kamu yang kesal gitu!" bela Rusdi.


"Bagus apaan, tadi aja berkas yang di bawanya berantakan gitu!"


"Iya namanya manusia pasti pernah salah!"


"Belaain aja terus!" kesal Naila yang langsung pergi meninggalkan Rusdi.


"Robby gimana ya keadaanya, apa dia sudah membaik atau makin parah?" cemas Tania yang kini masih berada di dalam kamarnya. Ia meninggalkan Robby di rumah sakit dalam keadaan adiknya itu belum sadarkan diri. Sebenarnya ia ingin menjenguk Robby di rumah sakit, tapi tidak mungkin ia meninggalkan mertuanya di rumahnya, apalagi mertuanya jarang berkunjung kerumah Lendra, tidak sopan rasanya.


Masih terngiang di pikiranya, kejadian beberapa minggu lalu yang menyebabkan Robby harus di rawat di rumah sakit, di mana sebuah mobil besar tampa sengaja menabrak adiknya, dan pergi meninggalkanya tampa meminta maaf dan memberikan pertanggung jawaban dahulu.


Kepala Robby di lumuri oleh darah segar dan kakinya juga mengalami kelumpuhan sementara, sedangkan tubuhnya mengalami luka yang cukup serius. Dengan deraian air mata Tania berteriak sekencang mungkin untuk meminta bantuan orang orang sekitarnya membawa adiknya kerumah sakit.


"Tolong, tolong, tolong!" teriak Tania. Satu persatu warga mulai berdatangan membantunya. Salah satu di antara mereka menghentikan mobil yang sedang melintas untuk membawa Robby kerumah sakit. Dan mobil yang mau di hentikan itu adalah mobil Lendra.


"Tania!" panggil Liora mengetuk pintu kamar yang di kunci oleh menantunya itu. Tania menghentikan lamunanya dan segera membukakan pintu dan menemui mertuanya.


"Ada apa Ma?" tanya Tania.


"Kamu anterin bekal gih untuk Lendra, biar dia ngk makan di luar, makanan dari rumahkan lebih sehat!" ujar Liora sembari memberikan rantang yang sudah berisikan makanan pada Tania.


"Maaf ya Ma, tadi Tania ngk bantui Mama masak!" ujar Tania merasa tak enak hati.

__ADS_1


"Iya ngkpp kok Sayang, lagian Mama tadi lupa bukai kunci kamar kalian!" Tania hanya tersenyum malu mendengar jawaban Liora.


"Kamu juga ingati Naila buat makan ya, soalnya Naila itu susah banget buat makan nasi, jajan mulu dia!" ujar Liora.


"Iya Ma!"


Rusdi meletakan berkas yang di bawanya tadi kemeja Lendra, setelah itu ia kembali menutup ruangan Lendra. Ia mengira jika Lendra mengunci ruanganya takutnya ada hal penting yang sedang Lendra simpan, ia juga meletakan kembali kuncinya di tempat semula.


"Urusan loh sudah selesai?" tanya Lendra yang kini sudah berada di dekatnya saat ia akan meninggalkan tempat ini dan Rusdi hanya mengangguk atas pertamyaan yang Lendra berikan padanya dan kemudian pergi meninggalkan Lendra.


Lagi, lagi Lendra di buat tarik nafas oleh adiknya ini, ada saja ulahnya yang membuat ia harus merasa kesal pada Naila. Ia melihat ruanganya sudah tidak ada Naila, padahal sebelumnya ia sudah mengatakan pada Naila untuk tidak kemana mana dan bahkan ia sudah mengunci ruangan ini tetapi, ada saja jalan adiknya untuk keluar. Dasar bocah liar, umpat Lendra kesal.


Ia mulai mengelilingi kantornya untuk mencari Naila, bahkan lantai paling atas pun sudah di lihat tetapi, tapi tidak di temukanya Naila. Setelah merasa lelah mencari Naila, Lendra mulai merasa bod*h mengapa ia tidak menghubungi adiknya saja dari pada ia harus capek mencari Naila yang tidak tau di mana.


"Kamu di mana?" tanya Lendra setelah sambungan vidio callnya terhubung. Tak menjawab Naila langsung memasang kamera belakangnya dan menunjukan sekitarnya pada Lendra. Naila sedang berada di kantin kantor dan tengah menikmati semangkuk bakso bersama segelas tes es yang menjadi makanan favoritenya. Ia sebenarnya ingin marah pada adiknya itu, namun, melihat jam yang kini sudah memasuki siang, ia mengerti mengapa Naila sudah lebih dulu berada di kantin. Jawabanya pasti adiknya sedang kelaparaan.


Dalam perjalanan ia hanya memandangi jalanan yang tidak begitu ramai, bahkan dapat di bilang cukup sunyi jadi, ia dapat bersantai menikmati pemandangan yang sedang di tatapnya.


Brughhhhh


Tiba tiba saja supir yang mengendarainya menghentikan lajunya secara mendadak, ia menginjakan rem secara tiba tiba. Tania hampir saja tersungkur kedepan dan rantang yang di berikan Liora tercampak hingga ke kursi bagian depan.


Dua orang preman begis menghadap perjalanan mereka dengan membawa sebilah pis*u tajam. Tania menatapmya saja sudah penuh ketakutan. Apa yang akan preman ini lakukan padanya.


"Keluar kalian!" teriak Preman dengan tubuh paling besar di antara mereka dengan memukul kepala taksi. Tania tak berkutik ia hanya terdiam di tempat duduknya dan memejamkan matanya, ia benar benar tidak berani untuk menatap dua orang preman dengan tubuh sanggar itu. Sang Supir juga hanya terdiam di tempatnya tampa berani melawan dua orang bertubuh kekar itu.


"Buka pintunya!" teriak Preman salah satunya yang kini sudah berada di pintu tempat duduk Tania. Karena merasa takut dan tidak berani melakukan perlawanan, ia membukakan pintu dan dengan kasarnya Preman itu langsung menarik paksa tangan Tania agar keluar dari taksi.


Supir yang merasa takut dan tidak ingin menangung resiko lebih dalam lagi, ia segera melajukan mobilnya dan pergi meninggalkan Tania yang masih di gengam kedua Preman itu.

__ADS_1


"Lepasin!" teriak Tania berusaha untuk melepas tangan tangan kasar Preman yang menyentuh tubuhnya itu.


"Loh ikut kita!" ucap Preman itu menarik tangan Tania dan memasukan Tania kedalam mobil mereka.


"Sudah siap makanya?"


Naila langsung mengarahkan penglihatanya pada sumber suara yang berada di belakangnya. Dan ia melihat Lendra yang sudah berdiri dan kini akan menghampirinya.


"Sudah Kak, Naila sudah kenyang!" jawab Naila sembari mengelus perutnya yang kini sudah sedikit membesar karena sudah di isi makanan.


"Kakak ngk makan?" tanya Naila dan Lendra hanya mengeleng.


"Kamu mau ikut Kakak ke cafe ngk?" tanya Lendra yang kini sudah duduk di kursi yang ada di hadapan Naila.


"Makan sini juga enak kali Kak!" ujar Naila yang sudah mengerti maksud kakaknya itu mengajaknya ke cafe.


Seorang tuan Lendra, Ceo di tiga perusahaan besar yang di bangun dan di pimpinnya, tidak pernah sekali pun baginya untuk makan di kantin kantornya sendiri bahkan ia tidak seperti adiknya yang mau makan apa saja, ia terlalu pemilih dan tidak mau makan makanan seperti makanan yang ada di pinggir jalan mau pun makanan yang di anggapnya sebagai makanan kampung.


"Kakak lapar Nai!" ucap Lendra dengan tatapan dinginya pada adiknya itu.


"Di sini makananya juga enak kok Kak, hampir sama tau rasanya sama di restoran restoran langganan Kakak itu!" ucap Naila.


"Kamu mau ikut ngk?" tanya Lendra yang kini sudah berdiri dari duduknya dan langsung berjalan mendahului Naila yang masih duduk santai.


"Mau ikut ngk?" tanya Lendra sekali lagi karena ia tidak melihat adiknya itu mengejarnya atau tanda tandanya saja tidak ada dan ia memilih untuk menghentikan langkahnya sejenak.


"Ngk!" singkat Naila.


Lendra melangkahkan kakinya menuju parkiran mobil yang hanya di khususkan untuk dirinya, Rusdi, dan Evandi. Sebelum ia mengendarai mobilnya dan meninggalkan kantor ia menyempatkan untuk membuka ponselnya dan meminta Rusdi untuk membawa adiknya nanti pulang.

__ADS_1


__ADS_2