
"Kak Evandi!" teriak Naila yang langsung memeluk tubuh Evandi dengan erat setelah Evandi membuka pintu kamarnya, Evandi hanya dapat mematung atas apa yang sedang gadis ini perbuat padanya. Ia tidak mengenali Naila sama sekali, tetapi mengapa gadis ini terlihat akrab padanya.
"Kamu siapa?" tanya Evandi melepas pelukanya dan merasa risih atas perlakuan Naila.
"Kak Evandi kok gitu sih? Aneh banget!" kesal Naila.
"Naila!" panggil Tania yang baru saja tiba di tempat mereka dan segera menghampiri dua sejoli itu. Naila yang melihat keberadaan kakak iparnya yang sudah berada di hadapanya ikut berlari menghampiri Tania dan langsung memeluknya dengan hangat.
"Mama kemana Nai?" tanya Tania setelah melepas pelukanya.
"Mama di rumah sakit Kak!"
"Kok bisa, yasudah sekarang kita kerumah sakit, kita jenguk Mama!" ajak Tania yang langsung menarik tangan Naila dan Naila langsung menghentikan hal itu, ia langsung melepas tangan Tania dari pergelangan tanganya dan menatap kedua bola mata Tania dengan mata berkaca kaca.
"Kamu kenapa Nai?" tanya Tania dengan mengelus pipi Naila.
"Kak, Mama Kak Vania sudah tiada!"
Tania terbungkam, tidak ada kata yang keluar dari mulutnya, tubuhnya seketika mematung, wanita yang sejak kecil menjaga, mengurus dan merawatnya, kini ikut meninggalkanya.
"Kak, ayok kita kerumah Kak Vania sebelum mama Kak Vania di makamkan dan kak Vania sangat menginginkan kehadiran Kakak di pemakamanya!"
Tak ada respon dari Tania, ia masih membisu, tubuhnya tiba tiba saja terasa lemas dan melemah. Dengan sigap Evandi segera membopong tubuh Tania yang hampir terjatuh di lantai karena pingsan.
"Kak bawa langsung saja kedalam mobil!" pinta Naila saat Evandi akan meletakkan tubuh Tania di kursi yang tak jauh dari mereka.
"Tapi dia masih pingsan!"
"Kita tunggu Kak Tania sadar di mobil saja, Sekarang kita harus kerumah Kak Vania!"
__ADS_1
"Kemana aku harus mencari Tania?" ujar Lendra mulai frustasi di dalam mobilnya. Sudah banyak jalanan kota di laluinya, namun tetap saja tidak di temukanya sosok istri pertamanya.
Seluruh pandanganya di arahkan pada jalanan sekitar berharap di temukanya wujud Tania di tempat ini, namun sepertinya hal itu tidak akan terwujud.
"Kalau bukan karena Mama tidak mungkin aku mencari Tania, hanya membuang buang waktu ku saja!" ujarnya.
Tania di tidurkan di kursi deretan kedua mobil Evandi dan di pangku oleh Naila. Naila memberikan minyak kayu putih di sekitar hidung Tania agar sekiranya baunya dapat membangunkanya.
"Kak bangun dong!" ucap Naila semakin panik melihat kondisi Tania yang tak kunjung sadarkan diri, ia menepuk pipi kakak iparnya dengan lembut, namun tetap saja ia dalam kondisi pingsannya.
"Kak Evan hubungi Kak Lendra dan kak Rusdi bilang ke mereka kalau Kak Tania sudah bersama kita!" ucap Naila. Evandi menatap wajah Naila dari kaca spion yang berada di depanya.
"Kamu ini sebenarnya siapa sih?" tanya Evandi yang masih merasa bingung dan aneh pada dua gadis yang di bawanya. Ia merasa tidak mengenali kedua gadis ini, tapi mengapa mereka bersikap seperti sudah saling mengenal dan terbilang sepertinya sudah memiliki hubungan yang dekat.
"Kak Evan ngk usah bercanda ya Kak, kondisi lagi genting begini, Kakak masih sempat sempatnya buat lawakan!" bentak Naila yang mulai merasa kesal pada Evandi yang masih bersikap sama seperti sebelumnya, bersikap seolah tak mengenalinya.
"Saya memang tidak mengenali kalian!" tegas Evandi menghentikan laju mobilnya dan menatap Naila dengan intens.
Evandi menghembuskan nafasnya gusar, ia kembali mengarahkan pandanganya kedepan dan menatap jalanan. Ia tidak tau harus mengatakan apa pada gadis ini, dan ia juga tidak tau bagaimana cara menjelaskan pada Naila, jika ia benar benar tidak mengenali keduanya.
"Sekarang Kakak hubungi Kak Lendra dan Kak Rusdi, bilang ke mereka kalau Kak Tania sudah bersama kita dan suruh mereka buat panggil Dokter keluarga agar datang kerumah Kak Vania agar mengecek kondisi kesehatan Kak Tania, karena sebelumnya Kak Tania di culik!" jelas Naila lagi.
"Saya harus mengatakan apa sama kamu, saya tidak mengenali kalian dan saya tidak tau Lendra siapa yang kamu maksud!!"
"Kak Evan jangan bercanda!"
"Ini ya saya kasih tau ke kamu, katanya kemarin saya mengalami kecelakaan dan mereka mengatakan kalau saya sedang mengalami amnesia sementara, jadi saya tidak mengingat siapa kamu dan wanita yang sama kamu itu, saya menemukannya di jalanan, ia menghentikan mobil saya dan meminta saya untuk mengantarnya kerumah kamu dan sekarang kamu memerintahkan saya seenaknya. Saya sama sekali tidak mengingat tentang kamu, mana main peluk lagi tadi!"
Mendengar penjelasan Evandi yang cukup panjang, Naila menatapnya dengan seksama, melihat raut wajah serta memperhatikan ekspresi yang keluar dari lelaki ini dan berusaha untuk mencari celah kebohongan atas ucapan yang sudah di lontarkanya. Namun, Naila tidak dapat menemukan ada ketidakjujuran yang di ucapkan oleh Evandi.
__ADS_1
"Kakak serius lupa ingatan?" tanya Naila dan Evandi hanya mengangguk pelan.
"Maaf Kak Naila ngk tau, tapi kenapa kak Lendra tidak memberitau Naila, biasanya Kak Lendra selalu mengabari Naila, Kak Rusdi juga ngk ada bilang!"
"Rusdi?" ulang Evandi, Naila hanya mengangguk.
"Dia bilang dia adalah sahabat ku dan kalau tidak salah dia juga mengatakan kalau kami tiga bersahabat, tapi aku lupa siapa satu lagi!"
"Satu lagi Kak Lendra, Kakak kandung aku, Kakak dan Kakak Rusdi sudah anggap aku seperti adik kalian, makanya aku punya tiga abang yang sayang sama aku!" ujar Naila yang akhirnya hanya dapat menunduk.
"Jadi, wanita ini pacar Lendra atau Rusdi?" tanya Evandi menunjuk pada Tania yang masih terbaring di paha Naila.
"Kak Tania adalah kakak ipar aku!"
"Sudahlah Kak, Sekarang kita harus segera kerumah Kak Vania, aku akan tunjukan alamatnya dan aku juga yang akan menghubungi Kak Rusdi dan Kak Lendra!"
"Astaga handphone aku ketinggalan di rumah!" keluh Naila dengan menepuk keningnya sendiri setelah menyadari benda yang di caranya tidak ada di dalam sakunya sedangkan ia juga tidak membawa tas, sudah pasti benda itu tertinggal di rumah. Bisa bisanya di kondisi yang seperti jiwa cerobohnya keluar.
"Kenapa?" tanya Evandi tampa menoleh pada Naila karena ia sudah mulai menyetir dan mobilnya sudah melaju di antara keramaian kota yang masih memuncak.
"Handohone aku ketinggalan Kak!"
"Jadi, kita balik lagi kerumah kamu?"
"Kalau kita balik takutnya nanti kelamaan, jenazah Mama Kak Vania harus segera di makamkan, kita ngk punya waktu lama!"
"Maksudnya ini gimana sih?" bingung Evandi.
"Sebelum mama kak Vania meninggal, beliau sangat menginginkan pertemuannya dengan Kak Tania, tapi karena Kak Tania di culik, pertemuan itu tidak pernah terjadi, dan sebelum beliau di makamkan setidaknya permintaan terakhirnya di wujudkan dengan kehadiran Kak Tania!" jelas Naila.
__ADS_1
"Yasudah kamu pakai handhone Kakak saja!" ucap Evandi dengan tangan yang mulai merogoh laci mobilnya untuk mengambil benda itu dan menyerahkanya pada Naila.
Naila menatap wajah Evandi sekilas dan kemudian menerima benda yang lelaki itu berikan padanya. Ia segera membuka ponsel Evandi yang tidak memiliki kunci pengaman.