Madu Dihari Pernikahan

Madu Dihari Pernikahan
Bab 90 - Jangan bahas hal ini


__ADS_3

  Dengan segala usahanya, Tania mendekatkan dirinya dengan meja dan mengambil benda berukuran sedang itu. Diambilnya handphone miliknya dan segera di dekatnya dengan telinganya.


"Assalamualaikum Naila, ada apa dek?" tanya Tania menahan rasa sakit yang di rasakanya namun, tetap saja suara itu tetap terdengar pada Naila dari seberang.


"Kak Tania maafin kak Lendra ya, Kakak yang sabar ya Kak!" ucap Naila menyemangati Tania. Seakan mengetahui semuanya, Tania terkejut mendengar ucapan Naila. Apa Naila sudah mengetahui hal ini. Ia sudah tidak dapat menutupi kesedihanya hatinya benar benar hancur apalagi Naila membahas permasalahannya seperti ini, menambah luka hatinya.


Tampa aba aba, air mata itu mengalir begitu saja dan membasahi wajahnya. Pedih hatinya. Ingin meninggalkan Lendra tapi, ia juga tidak tega pada keluarga Lendra yang sudah menganggapnya seperti anaknya sendiri. Mengingat luka yang diberikan Lendra, hatinya semakin lara, ingin mempertahankan tapi, Lendra juga tidak memberikannya tanda untuk sama sama berjuang.


Tidak akan sanggup rasanya jika hanya ia sendiri yang berjuang, pada dasarnya hubungan di bangun oleh dua insan bukan seorang diri. Lalu apalah artinya rumah tangganya yang tidak memiliki makna pada Lendra sedangkan suaminya saja bersikap sesukanya pada rumah tangga mereka.


Berat tapi, harus di lakukannya, mendapat restu dari mertua memang penting dan sangat di butuhkan tapi, tetap saja ia membutuhkan dukungan seorang suami, jika ia tidak dapat itu, apakah dengan mertua saja ia akan merasa bahagia dengan menyaksikan suaminya bersama wanita lain dan tidak menganggap keberadaanya.


Letih sudah, fisiknya memang tidak pernah di luka Lendra tapi, perasaaan dna hatinya. Cukup sudah ia bertahan selagi ia belum mempunyai keturunan, hubungannya dengan Lendra harus segera di akhirinya sebelum kehancuran dalam dirinya semakin menjadi, meski pun ia harus di benci oleh keluarga Lendra. Ia sudah siap dengan semua resiko itu. Keputusannya untuk berpisah dengan Lendra sudah bulat dan sangat sulit untuk di ubah sekali pun Naila yang memintanya.


"Kakak ngkpp kok Nai, kamu kenapa kok sedih gitu?" tanya Tania bersikap seolah olah tidak mengetahui dan tidak terjadi apa apa. Keputusannya untuk mengakhiri pernikahannya dengan Lendra memang sudah pasti tapi, untuk mengatakan sekarang pada keluarga Lendra, ia masih harus berfikir karena mertuanya yang baru saja keluar dari rumah sakit. Ia juga harus memikirkan kesehatan Liora dan Delino. Mereka memang orang tua Lendra tapi, mereka juga tidak pernah menyakiti hatinya maka, ia juga haru menjaganya.

__ADS_1


"Kak Tania hebat banget ya bohong, sudah seperti ini masih saja bilang tidak apa apa. Naila sudah tau semuanya Kak, papa dan mama juga sudah tau. Kita semua tau Kak dan kita juga tau bagaimana perasaan Kakak saat ini. Maafin Kak Lendra Kak!" mohon Naila dengan isak tangis yang semakin mengeras dan Liora yang mengelus bahu Naila dengan lembut agar menenangkan putri bungsunya itu.


Tania juga ikut menangis di buat Naila. Ia semakin tidak tega untuk mengatakan keputusannya tapi, ia juga sudah tahan dengan semuanya. Lendra bukan suami yang baik untuknya. Lendra tidak pernah memperdulikanya bahkan untuk sekedar menanyakan isi hatinya saja Lendra tidak pernah. Lendra adalah luka terdapat yang pernah di rasakanya.


"Nai, jangan nangis ya Dek!" Kak Lendra disini baik-baik saja dan sekarang kak Lendra sedang tertidur, kasihan nanti terbangun. Kakak juga baru bangun, nih mau mandi. Kamu sudah mandi? Gimana mama dan papa sudah membaik? Kalian sudah sarapan? Sarapan apa tadi?" elak Tania agar Naila tidak terus terusan membahas hal itu yang akan memancing air matanya untuk terus mengalir.


Vania yang mendengar respon sepupunya ikut menitihkan air mata. Entah terbuat dari apa kesabaran Tania hingga ia masih bisa bersikap tegar seperti ini. Andai saja apa yang terjadi pada Tania terjadi padanya, ia tidak akan sekuat dan setelah Tania seperti saat ini atau bahkan ja sudah tidak akan menghubungi lagi keluarga Lendra yang sudah jelas menyakiti hatinya.


"Kak Tan, andai saja kita sedang berdekatan, Naila sudah memeluk Kakak untuk menguatkan hati dan bahu Kakak. Kakak Lendra sangat beruntung memiliki Kakak tapi, hanya saja ia tidak bersyukur hingga Kakak tersakiti seperti ini. Semoga ini cepat berlalu ya Kak dan Kakak segera mendapat cinta kak Lendra dan Kakak dapat menjalin rumah tangga yang sesungguhnya." ucapan, harapan serta doa dilantunkan Naial secara serempak.


"Mama mana Nai?" tanya Tania yang tetap saja mengalihkan pembicaraan. Ia benar benar tidak ingin membahas hal ini. Keputusan sudah sulit untuk di ubah walau belum di ungkapkannya.


"Tania Sayang!" ucap Liora yang kini handphone Naila sudah di gengam olehnya.


"Kamu gimana kabarnya? Kamu sehatkan Nak? Kamu pasti capek ya? Mama sangat mengerti dengan perasaan kamu tapi, kamu jangan nyerah ya Sayang nanti, jika kalian sudah kembali kerumah ini Mama akan meminta Lendra untuk mengubah semua sifat buruknya. Mama tidak ingin kalian berpisah. Mama hanya ingin kamu uang menjadi menantu Mama!" ujar Liora.

__ADS_1


"Tania baik Ma, Ma maafkan Tania ya!, Tania juga ngk bisa janji sama Mama buat terus pertahani rumah tangga Tania. Tania capek Ma, Tania tidak kuat dengan semuanya. Tania tidak sedewasa yang Mama harapkan. Hati Tania hancur Ma!" ucap Tania pada akhirnya yang sudah tidak membendung kesedihanya lagi.


Ungkapan yang seharusnya tidak keluar dari mulutnya akhirnya, terdengar pula oleh mertuanya. Jangankan Liora dan Delino yang mendengarnya, dia saja yang mengucapkannya terasa berat dan sangat sakit. Apalagi ketika ia membayangkan harus menjadi jan*a di usianya yang terbilang masih sangat muda.


Vania yang memiliki kebencian pada Lendra. Ikut merasakan sesak di dadanya mendengar penuturan Tania.


"Mama sangat berharap Tan, Kamu bisa bertahan lebih lama lagi, berikan Lendra waktu lagi untuk membuka hatinya dan mencintai kamu. Mama yakin suatu saat nanti ia juga akan memiliki rasa ke kamu tapi, kamu jangan mengakhiri rumah tangga kamu ya, Nak!" ujar Liora.


"Ma, Mas Lendra sudah bangun, Tania mandi dulu ya mau siapkan makanan untuk mas Lendra. Mama jaga kesehatan ya, jangan lupa makan obatnya, makan nasinya jangan terlambat. Tania sangat ingin mendengar kabar kalau mama dan papa sudah sehat!" ucap Tania.


Selesai melakukan panggilan dengan mertuanya. Tania menatap kearah lendra yang masih tertidur dengan lelap. Ia mendekatkan diri dengan suaminya dan melepas sepatu Lendra yang masih melekat di kakinya.


Ia berjalan kekamar mandi dengan kakinya yang merengang dan langkah yang sangat lambat karena bagian sen*itifnya masih terasa sangat perih. Selesai dengan ritual mandinya, Tania melihat Lendra yang masih tertidur dengan pulas.


Diambilnya kembali ponselnya dan ia segera memesan beberapa jenis makanan untuk sarapanya bersama Lendra jika, membeli makanan dari luar, kakinya masih belum cukup kuat untuk melangkah jauh dan ia juga tidak mengetahui betul daerah sini. Ingin memasak tapi, ia juga tidak memiliki bahan masakan.

__ADS_1


__ADS_2