Madu Dihari Pernikahan

Madu Dihari Pernikahan
Bab 18 - Evandi kehilangan ingatanya


__ADS_3

"Lendra sudah keterlaluan dia tega mengusir aku dari rumahnya!" marah Safania yang kini sudah di tepi jalan rumah Lendra, menunggu taksi lewat di hadapanya.


"Kamu kenapa Sayang?" tanya Tifani yang sudah berada di dalam kamar Vania yang sedang menangis dengan memeluk gulingnya.


"Mama!" Vania langsung memeluk tubuh Tifani dan terisak.


"Kamu kenapa Sayang?" tanya Tifani sembari mengelus rambut Vania dengan lembut. Sebenarnya Tifani ingin menanyakan perkembangan kabar Tania tetapi, melihat kondisi anaknya yang tidak memungkinkan ia mengurungkan niatnya.


"Ma, Rafa, Ma, Rafa!"


"Kenapa Rafa Sayang?"


"Tadi aku lihat Rafa berduaan sama cewek lain!"


"Kamu sudah tanya siapa wanita itu?"


"Dia bilang, wanita itu yang menolong Rafa!"


"Rafa kenapa Sayang?"


"Aku ngk tau Ma, tadi aku lihat semua tubuh Rafa babak belur!"


"Terus kamu marah ke dia dalam kondisi dia yang seperti itu?, mungkin sajakan yang Rafa bilang itu benar, wanita itu yang menolong Rafa!"


"Jadi sikap Vania salah Ma?" ujar Vania dengan tangisan yang mulai mereda.


"Ya jelas salah dong Sayang, di saat dia seperti itu kamu malah marah ke dia apalagi dia babak belur karena mencari sepupu kamu!" jelas Tifani.


"Mama ngk bela Vania, Vania cemburu Ma, Rafa dekat dekat sama cewek lain Ma!"


"Mama paham Sayang, tapi kamu juga harus tau penyebabnya, syukur loh wanita itu mau bantui Rafa, di zaman milenial seperti ini apa masih ada yang menolong orang lain?"


"Saran Mama, kamu minta maaf Rafa dan ngucapi makasih sama cewek yang sudah membantu Rafa!" lanjut Vania.

__ADS_1


"Van, loh ingat guekan?"


Rusdi dan Sari kini berada di dalam ruangan Evandi, Sari tengah menyuap Evandi dan Rusdi yang sejak tadi mengajak Evandi berbicara.


"Loh siapa ya?" tanya Evandi kembali, dengan menaikan sebelah alisnya.


"Gue sahabat loh!"


"Tapi maaf saya tidak mengenal kamu!"


Sari paham perasaan Rusdi sekarang, tapi ia juga mengerti dengan keadaan Evandi seperti kata dokter, jika Evandi terus di paksakan mengingat yang ada justru akan menyakiti Evandi sendiri dan Sari memberikan isarat pada Rusdi agar tidak terus memaksa ingatan Evandi sekarang.


"Kalian ini siapa?" tanya Evandi yang justru malah menaruh rasa curiga pada Rusdi dan Sari karena keduanya saling pandang dan memberikan kode, ia khawatir jika keduanya berniat jahat padanya dan memanfaat kesempatan di saat ia sedang sakit seperti ini.


"Ini Bi Sari, Den, Pembantunya Den, sedangkan tuan ini adalah Den Rusdi, sahabat sekaligus rekan kerja Den!"


Evandi tidak membalas ucapan Sari, ia malah menatap Sari dengan tatapan yang sulit di artikan, lama mengenal Evandi, Sari tau betul arti tatapan itu, jika Evandi sudah bersikap seperti itu maka ia sedang menaruh curiga pada orang.


"Den ini sedang mengalami lupa ingatan makanya Den tidak mengenali kami, jika nanti Den sudah pulih, nanti pasti Den ingat kok sama kita berdua!" lanjut Sari.


"Saya saja tidak mengenal kamu apalagi Lendra!" Evandi.


"Ma, nanti Naila mau tidur sama kak Tania!" ucap Naila dengan manja sembari memeluk tubuh Liora.


"Ngk boleh gitu dong Sayang, kak Taniakan tidur sama Kak Lendra, kamu jangan gangu dong apalagi mereka baru nikah!" balas Liora mengelus kepala Naila.


"Naila sendiri lagi tidurnya Ma?" tanyanya dengan memanyunkan bibirnya.


"Makanya kamu cari jodoh biar ngk tidur sendiri lagi!" goda Delino.


"Ihhhh Papa, aku mau nikah kalau lelakinya tampan!" balas Naila.


"Jangan tampan saja Sayang, harus pintar agama juga, apalagi kamu manja gini!" Liora.

__ADS_1


"Bukan mandang materi, tapi harus pekerja keras karena hidup bukan hanya tentang cinta!" sambung Delino.


"Iya Papa aku yang tampan!" balas Naila.


"Mau kemana kamu Lendra?" tanya Delino yang sempat melihat kearah Lendra yang memegang kunci mobil dan memakai jaket hitam, siap untuk keluar dari rumah.


"Lendra mau cari angin Pa!"


"Ngapain cari angin, ada ac!"


"Lendra bosan di rumah!"


"Kamu ini baru nikah loh, kamu mau ninggali istri kamu?, kalau kamu mau keluar kamu juga harus bawa istri kamu!" Liora.


"Aku cuma mau kedepan doang, masak harus bawa Tania, cuma nongkrong bentar doang!"


"Kamu sudah berstatus sebagai suami, tidak layak lagi kamu untuk bergabung dengan anak anak muda di luaran sana karena mereka masih bisa untuk keluar kapan pun dan nginap di mana saja, sedangkan kamu harus ada izin dulu dari istri kamu!" Delino.


"Kenapa sih Pa, Apa apa harus izin? Aku ini bukan anak kecil!"


"Yang bilang kamu anak kecil siapa tapi kamu harus izin dulu!" Liora.


"Ya sudah Lendra tidak jadi pergi!" kesal Lendra membuka jaketnya.


Lendra melangkahkan kakinya ke kamar tidurnya, Lendra tidak ada niat untuk meninggalkan orang tuanya tapi, karena ia merasa malu jika bertemu Tania karena kejadian tadi.


"Ma, Pa ngobrolnya lanjut besok pagi saja, sekarang sebaiknya kita istrihat karena sudah larut malam!" ujar Tania yang baru saja keluar dari kamarnya mengenakan piyama berwarna dusti.


"Iya Menantu Mama, perhatian banget sih sama mertuanya!" goda Liora.


"Kamu juga istrirahat pasti tadi capek banget!" Delino.


"Iya Pa!"

__ADS_1


"Kamu tidur di kamar Lendra, jangan di kamar kamu!" Tania hanya membalasnya dengan senyuman.


__ADS_2