
"Kamu pelit banget sih jadi istri!"
Tania tercenggang mendengar kalimat yang keluar dari mulut Lendra. Seakan bermimpi di siang hari tampa harus tertidur dahulu, ia mendengar jika lelaki yang berada di sebelahnya ini mengakuinya sebagai istrinya. Apakah ini tanda tanda kalau hubungannya dengan Lendra dapat di pertahankan dan Lendra sudah mulai membukakan pintu agar ia dapat masuk kedalam hati pria ini.
"Yeah dapat!" ucap Lendra yang dengan mudah mengambil ayam yang berada di piring Tania karena wanita ini malah melamun di tempatnya. Dengan cepat Lendra melahapnya sebelum Tania menyadarinya.
"Ihhh ngk boleh gitu, itu punya aku!" ucap Tania yang langsung merampas kembali ayam yang di pegang oleh Lendra, tetapi Lendra sedikit pun tidak mengalah, dengan sekuat tenaga ia mempertahankan makanan yang bukan miliknya.
"Mas itu punya aku!" ucap Tania yang hendak mengigit pergelangan Lendra agar lelaki itu kesakitan dan melepasnya, namun hal itu tidak membuahkan hasil, Lendra justru menoyor jidat Tania. Dalam kondisi seperti itu keduanya sempat saling pandang dalam waktu yang cukup lama karena posisi keduanya sangat dekat bahkan hembusan nafas Tania dapat didengar oleh Lendra.
"Yasudah buat kamu saja!" ucap Lendra yang sepertinya sudah sadar dengan apa yang apa di lakukanya. Ia langsung mengalihkan pandanganya dari Tania dan seolah tidak terjadi apa apa.
"Anak muda zaman sekarang memang beda dengan zaman saya dulu, kalau dulu mau dapetin cewek harus benar benar berjuang, lah sekarang sudah dapat malah di ajak makan di pinggir jalan dan cuma pesan satu lagi sampai berebutan gitu!" sindir penjual yang sejak tadi ternyata memperhatikan tingkah keduanya.
Lendra menatap dengan tajam pedagang yang berkata dengan santai itu. Tania yang mendengarnya hanya dapat menahan tawanya takut jika suaminya ini malah marah padanya. Jangankan untuk membeli semua porsi yang disediakan oleh bapak ini, bahkan untuk membeli semua lahan yang ada di tempat ini pun suaminya mampu untuk melakukan hal itu.
"Bapak menjual apa saja?" tanya Lendra yang kembali dengan nada dinginnya.
"Kamukan bisa lihat saya menjual apa saja!"
"Saya mau bungkus semuanya untuk saya bawa pulang!"
__ADS_1
"Jangan mengadah adah kamu, membeli dua porsi saja kamu kesusahan apalagi untuk membeli semua dagangan saya!" ucap pedagang itu disertai dengan tawa renyah di bibirnya membuat Lendra semakin jengkel padanya karena ia merasa dihina oleh Bapak ini.
"Sebaiknya Bapak siapkan saja seluruh pesanan suami saya, Pak!" ucap Tania dengan sopan dan memutarkan kepala Lendra agar kembali menatap kearah depan, sebelum lelaki ini benar benar meluapkan kemarahaanya.
"Kamu suka makananya?" Tania berusaha untuk membuka perbincangan diantara keduanya karena sejak tadi Lendra hanya terdiam saja.
"Biasa saja!" jawab Lendra yang masih terlalu gengsi untuk mengakuinya, jika ia benar benar menyukai makanan yang dijual oleh Bapak ini walau ia kurang menyukai sikap penjualnya.
"Terus kenapa kamu malah pesan sebanyak itu?"
"Bukan urusan kamu!"
Tania hanya dapat menelan ludahnya, ia sudah tidak ingin melanjutkan perbincanganya karena jika ia terus melanjutkan sama saja ia sedang mencari penyakit, pasti Lendra akan melontarkan kata kata menyakitkan hati hatinya.
"Semuanya berapa Pak?"
"Semuanya 1.250.000,00!"
"Sini aku bantu!" ucap Lendra mengambil dua kantong plastik itu dari tangan Tania setelah membayar keseluruhan dan memasukan kembali dompetnya kedalam sakunya.
"Mas kita mau kemana?" tanya Tania pada Lendra yang sudah berada di depanya tetapi, pria ini tidak melangkahkan kakinya menuju mobilnya.
__ADS_1
"Kamu ikut saja!" singkat Lendra.
Kaki Tania tiba tiba saja terhenti, ia benar benar terpukau dengan pemandangan yang ada di hadapanya, ia benar benar tidak menyangka jika seorang Lendra bisa melakukan perbuatan seperti ini. Ia sangat terharu melihat suaminya memberikan makanan makanan yang dibawanya pada anak anak serta orang tua yang dilewatinya.
"Terima kasih ya Nak, semoga rezeki kamu lancar dan berkah selalu!" ucap seorang nenek tua pada Lendra bersama tongkat kayu yang dipegangnya.
"Sama sama Nek, jangan lupa di makan ya, oh iya ini saya ada sedikit rezeki bisa Nenek pakai buat beli tongkat yang baru!" ujar Lendra seraya memberikan beberapa lembaran uang ratusan pada nenek itu ketika ia melihat tongkat sinenek yang sudah tidak layak pakai.
Tania semakin di buat haru oleh Lendra, ternyata di balik sikapnya selama ini yang selalu terkesan kasar, di balik itu semua Lendra menyimpan seribu kebaikan di dalam dirinya yang baru di ketahui oleh Tania sejak ia menjadi istri lelaki ini.
"Kita bakal bagiin semua makanan ini Mas?" tanya Tania memastikan.
"Iya ngk dong!" jawab Lendra cepat.
Senyum Tania seketika memudar, baru saja ia memuji lelaki ini ternyata sikap jengkelnya kembali keluar dan mungkin saja yang baru dilihatnya hanyalah sebuah pencitraan semata untuk menaikan namanya sebagai seorang pengusaha muda yang memiliki jiwa mulia, gumam yang sudah memiliki pikiran buruk pada Lendra.
"Sisain dua bungkus buat kita baru selebihnya kita bagiin!" ucap lendra yang kembali melanjutkan langkahnya untuk membagikan seluruh makanan yang sudah di belinya. Tania lagi lagi di buat tersenyum, ia malu pada dirinya sendiri karena telah menuduh Lendra yang aneh aneh walau tidak sempat diutarakanya.
Selesai membagikan seluruh makananya, Lendra dan Tania kembali masuk kedalam mobil dengan membawa dua bungkus makanan yang sengaja di sisakan.
"Berarti sekarang kita berangkat kerumah Vania?" tanya Lendra dengan tangan yang mulai sibuk menghidupkan mesin mobilnya tanpa melihat kearah Tania.
__ADS_1
"Iya Mas!" singkatnya.