
"Non dari mana?" tanya Narsi yang membuka pintu masuk pada Vania. Vania tak menjawab pertanyaan Narsi ia langsung menyelinap masuk dengan menunduk, Narsi masih dapat mengetahui jika anak majikanya itu menangis walau pun wajahnya di tutupi oleh tisu yang di pegangnya.
"Non Vania kenapa?" gumam Narsi masih menatap punggung Vania yang mulai menjauh darinya.
"Vania kenapa Bi?" tanya Tifani yang baru saja keluar dari kamarnya dan melihat Vania berlari menuju arah kamarnya.
"Saya juga tidak tau Nyonya, Non masuk dalam keadaan menangis!"
"Ada apa dengan anak itu?" keluh Tifani menghembuskan nafasnya dan mengikuti langkah Vania dari belakang.
Dreeetttttt
Rafa mengambil benda berdering yang letaknya di atas meja yang tak jauh darinya. Ia melihat nama kontak yang tertera di layar ponselnya.
"Kenapa kamu tidak datang ke taman?" tegas Rafa.
"Maaf Pak saya sedang di kampung saya, maaf Pak saya tidak mengabari Bapak lebih dulu karena istri saya mendadak melahirkan sebelum waktunya!" jelas Safar melalui sambungan telponya.
"Kamu telah mengecewakan saya!" ucap Rafa langsung mematikan sambungan telponya secara sepihak.
"Asslamualaikum!" sapa Vandir yang sudah memasuki rumahnya, karena pintunya tidak di kunci oleh Nadya. Nadya yang mendengar suara ayahnya langsung menghapus air matanya dan keluar dari dalam kamarnya.
"Ayah sudah pulang?" sambutnya sembari menyalam punggung tangan Vandir.
"Gimana keadaan Rafa?" tanya Vandir menduduki sofa yang ada di dalam ruang keluarganya.
__ADS_1
"Rafa sudah sadar Yah, tapi sepertinya pacarnya Rafa salah paham sama Nadya!" ucap Nadya tertunduk.
"Yang penting kamu tidak ada niat buruk pada mereka, jadi biarkan mereka beranggapan buruk tentang kita ya!" balas Vandir dengan mengusap pundak Nadya dengan lembut.
"Ayah tau perasaan kamu, Nak. Kamu masih sangat sayangkan pada Rafa tapi kamu menutupi semuanya dan Ayah sangat bangga sama kamu walau pun kamu masih ada rasa tapi kamu tidak pernah menganggu hubungan Rafa!" gumam Vandir menatap iba pada raut wajah anaknya yang tampak termenung dan Nadya yang kini sudah bersandar di pundak ayahnya.
"Andai Ayah tau, Nadya masih cinta sama Rafa, Yah, tapi Nadya juga sangat yakin kalau Ayah akan menentang perasaan Nadya, maafi Nadya sudah mengecewakan Ayah, Nadya gagal menjadi anak yang baik!" gumam Nadya pula.
Malam kini menyelimuti suasana rumah Lendra dan juga kota ini. Lendra dan Safania sudah sejak tadi berdiam diri di ruang tamu, rumahnya. Berbagai polesan make up sudah di tambahkan Safania di wajahnya tetapi mertuanya juga tidak kunjung datang, berbagai jenis makanan juga sudah mereka hidangkan di meja makan namun, kedatangan Papa Lendra belum juga tampak, kabar darinya pun tidak ada.
"Sayang, Papa kamu kok belum datang juga?" ujar Safania mulai jenuh menunggu, matanya mulai mengantuk dan kini tubuhnya sudah bersandar di bahu kekar Lendra.
"Aku juga tidak tahu!" balas Lendra yang sejak tadi melihat notifikasi dari ponselnya, berharap adanya kepastian dari orang tuanya.
"Asslamualaikum!"
"Itu seperti suara Papa!" ucap Lendra seraya melepaskan tangan Safania dari tubuhnya dan melangkahkan kakinya menuju pintu masuk rumahnya.
"Papa!" sambut Lendra yang kini sudah berada di depan pintu dan langsung memeluk tubuh pria itu kemudian menyalam wanita yang ada di sebelah lelaki paruh baya yang berstatus sebagai orang tuanya.
"Kakak!" ucap Naila dengan senyumannya dan kemudian menyalam tangan Lendra dan Lendra langsung memeluknya dengan gemes.
"Adik aku!" geram Lendra sembari mengelus kepala wanita yang lebih muda darinya itu.
"Ihhh rusak nih hijab aku!" keluh dengan memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
"Yaelah gitu doang!" goda Lendra mencolek hidung Naila dan semakin mengacak acak hijab adiknya.
"Papa, lihat Kakak!" aduh Naila dengan wajah imutnya dan menujuk Lendra dengan kesal.
"Lendra siapa wanita ini?" tanya Delino menunjuk pada Safania yang sedari tadi hanya terdiam tampa ikut menyalamnya.
"Hmmmm, in ... ini ... ini ... ini teman aku Pa!" balas Lendra di akhiri dengan senyuman dan melepas pelukanya dari Naila, Lendra langsung di hadiahi tatapan tajam dari Safania.
"Tidak baik membawa wanita lain kedalam rumah apalagi istri kamu sedang di luar!" ucap Liora, mama Lendra. Dan kini tatapan tajam Safania tertuju pada Liora, apa maksud wanita itu bicara seperti itu di hadapamua?. Tidak anak, tidak ibu semuanya sama saja, pikir Safania.
"Ma, ini dompet Mama yang tadi tertinggal!"
Tiba tiba saja Tania muncul di hadapan kelimanya dengan membawa benda kecil dan di sodorkanya pada Liora. Lendra dan Safania terkejut bukan kepalang. Kenapa bisa Tania bersama keluarganya, pikir Lendra. Tania masih merasa jika dia bukan siapa siapa bagi Lendra, hatinya tentu sakit menyaksikan Lendra berdua bersama madunya sedangkan ia tidak tentu arah di jalanan, kini hanya dapat terdiam menahan cemburu yang bergelora di hatinya.
"Kenapa Tania bisa bersama Papa dan Mama?" tanya Lendra binggung bercampur rasa takut yang menyatu. Pasti Tania sudah memberitahu papanya jika ia menikahi dua wanita dalam hari yang sama. Dan ucapanya barusan yang mengatakan jika Safania adalah temannya sudah pasti dapat di ketahui oleh orang tuanya jika ia sedang berbohong, habislah riwayatnya dan ia harus siap menerima amuk, keduanya.
"kami tadi berjumpa dengan Tania di tepi jalan dan dia bilang tengah menunggu taksi, makanya sekalian kami bawa kesini!" jelas Delino yang langsung memasuki area rumah Lendra, di ikuti oleh Liora, Naila dan Tania yang berjalan paling akhir dengan tertunduk karena Lendra dan Safania terus menatapnya dengan tajam.
Delino, Liora dan Naila langsung mendudukan bokongnya di sofa yang letaknya berhadapan dengan televisi sedangkan Tania pergi kedapur untuk menyiapkan minuman pada mertuanya.
"Kak remote tivi Kakak mana?" tanya Naila dan Lendra menunjuk pada benda yang di maksud oleh adiknya itu.
Naila yang sifatnya masih kekanak kanakan, memilih untuk menonton televisi dan tidak ikut dalam pembicaraan orang tuanya.
"Ini sudah larut malam, sebaik kamu pulang saja, tidak enak di lihat tetangga!" ucap Liora pada Safania yang sejak tadiĀ berdiri di belakang Lendra dan itu menggangu pandangan Liora.
__ADS_1
"Ta ... tapi saya!"
"Iya Ma, ini Safania juga mau pulang kok!" balas Lendra dengan senyum gugupnya dan segera menarik tangan Safania agar segera keluar dari rumahnya.