
"Mau kemana loh Bro?" tanya Rusdi saat melihat langkah kaki Evandi mulai melangkah jauh dari mereka.
"Mau pulang" singkat Evandi.
"Kenapa tuh anak?" tanya Lendra merasa ada yang aneh dengan Evandi karena biasanya setiap di ajak bercanda seperti itu Evandi tidak pernah sekali pun langsung memasukanya kedalam hati.
"Tau!" singkat Rusdi pula.
"Oh iya Bro, kantor gimana besok?" tanya Rusdi.
"Suruh Evan handle semuanya, gue masih ngambil waktu cuti beberapa hari ini!"
"Loh cuti berapa hari?"
"Lusa gue sudah masuk!"
"Cepat amat loh!"
"Pekerjaan kantor banyak yang belum gue selesaiin!"
"Oh iya Bro, Gue pamit kedepan ya, ngk enak gue jadi nyamuk di antar loh berdua!" izin Rusdi dan hanya di balas senyuman tipis oleh Lendra.
Hari yang sudah semakin sore, para tamu yang berdatangan juga mulai berkurang. Lendra dan Safania mendudukan bokongnya di kursi pelaminan yang memang sudah tersedia.
Safania mengambil ponselnya dan menyempatkan diri untuk memainkannya sejenak.
"Asslamualaikum!" ucap Evandi yang langsung memasuki rumahnya karena memang rumahnya tidak di tutup oleh Sari.
"Aden kenapa cepat sekali pulangnya?" tanya Sari yang masih terduduk di tepiĀ sofa tempat Tania terbaring.
"Sebel Bi lihat istrinya Lendra, sok banget!" ucap Evandi dengan malas.
"Widya belum sadar Bi?" tanya Lendra saat melihat Tania masih menutup matanya dan tubuhnya yang di tutupi oleh selimut tebal.
__ADS_1
"Belum Den!"
"Widya kenapa lama banget ya Bi sadarnya, Apa kita bawa kerumah sakit saja?" tanya Evandi yang mulai merasakan cemas yang semakin mendalam melihat wajah tenang Tania dalam tidurnya.
"Bibi juga ngk tau Den, tapi sebaiknya kita tunggu saja sadarnya, Bibi yakin tidak ada hal buruk pada Non Widya, dia hanya kelelahan saja!" ucap Sari berusaha untuk menenangkan anak muda itu.
"Wid, bangun dong, gue kangen tau, loh masak malah tidur pas jumpa gue!" ucap Evandi dengan sendu sembari mengengam tangan kanan Tania dan kemudian mengecupnya sesaat.
Tak lama setelah itu Tania terbangun dan wajah pertama yang di lihatnya adalah wajah Evandi yang menatapnya dengan tatapan khawatir dan tangan yang masih di gengam oleh pria itu.
Tampa berkata apa pun, Tania berusaha untuk mendudukan tubuhnya sendiri setelah menyesuaikan pencahayaan yang masuk kedalam matanya dan Evandi siap segera membantu sahabatnya itu.
Dengan erat Tania langsung memeluk tubuh Sari yang duduk di hadapanya dan menangis di dekapan wanita paruh baya itu dengan terisak isak. Sari semakin di buat penasaran oleh gadis ini, sebenarnya apa yang sudah terjadi padanya hingga ini seperti ini?. Namun, Sari hanya dapat terdiam dan membalas pelukan Tania dengan hangat.
"Kamu kenapa Nak?" tanya Sari dengan lembut setelah Tania benar benar melepas pelukanya dan tampak dari raut wajah dan mata Tania sedang memikul banyak masalah.
"Widya kabur di acara pernikahan Widya Bi!" ucapnya di sela sela sesegukan tangisannya.
"AAPPAAA?" teriak Evandi seketika dan langsung dari posisinya yang sedang berjongkok dan langsung membuang arah pandanganya dari Tania.
"Sekarang Widya sudah menjadi istri orang!" ucap Tania yang kini hanya dapat menundukan kepalanya karena ia sendiri pun tidak tau apa lagi yang harus di katanya pada wanita yang kini ada di hadapanya.
"Kenapa kamu tidak memberitahu Bibi jika kamu mau menikah?" Tania hanya terdiam dan tidak mungkin baginya untuk memberitahukan alasanya menikah dengan pria yang sama sekali tidak di cintainya.
"Widya minta maaf Bi!" lirih Tania pelan.
"Jadi sekarang ini kamu adalah istri orang?" tanya Evandi yang kini menatapnya dengan penuh kemarahaan dan kedua bola mata melotot mengarah pada Tania serta tangan yang ikut mengepal.
Lamanya berteman dengan Evandi, baru ini Tania melihat kemarahan besar di raut wajah sahabatnya itu, lemah lembutnya seakan hilang dari dirinya, sikap penyabar yang di miliki pria itu seakan sudah tidak ada lagi.
"Kenapa kamu tidak memberitahu ku?" teriak Evandi dengan keras.
"Aku menerima pernikahaan ini secara terpaksa!"
__ADS_1
"Aku tidak peduli dengan alasan mu!"
"Pergi kamu dari rumah ku!"
Betapa terkejutnya Tania mendengar ucapan yang di lontarkan oleh Evandi. Tania bangkit dari duduknya dan berdiri di hadapan pria itu menatapnya dengan penuh seksama berharap adanya belas kasihan pada dirinya dan membiarkan dirinya untuk tinggal di rumahnya sementara waktu namun, tidak sedikit pun Evandi menoleh pada arah wajah Tania.
"Keluar dari rumah ku!" pinta Evandi dengan suara melemah.
"Van, Aku butuh kamu!"
"Tapi aku tidak butuh kamu, aku juga tidak mau di cap sebagai perusak rumah tangga orang!"
"Van, Dengerin aku dulu!"
"Pergilah!" ucap Evandi yang masih pada pendirianya dan menutup pintu kasihan yang sempat terlintas di hatinya pada Tania. Lalu, pergi meninggalkan keduanya menuju kamarnya.
Kini Tania hanya dapat menatap Sari. Sari dia tidak mungkin tega untuk membiarkan gadis itu untuk keluar dari rumah ini dengan kondisinya yang masih rapuh seperti ini. Wanita paruh baya itu segera mendekatkan tubuhnya dengan Tania.
Bi, Widya pamit ya!" ucapnya dengan setetes air mata yang jatuh dari pelupuk matanya dan tangan yang mengengam kedua tangan Sari.
"Jangan Non, tubuhnya masih sangat lemah bahkan tangan Non ini saja masih bergetar,"
"Tapi Evan menyuruh ku untuk pulang Bi!"
"Tuan hanya sedang marah Non, nanti jika Tuan sudah redah pasti Den Evandi izinkan Non kok untuk tetap tinggal di sini, Non inikan sahabatnya!" jelas Sari.
"Tapi Bi, Widya ini sudah bersuami, Widya juga harus mengurus suami Widya," jawab Widya dengan senyum palsunya.
"Bukan karena Evan mengusir Non?"
"Bukan Bi!" jawab Tania yang hanya bisa tersenyum tipis.
"Tania pamit ya Bi!" ucapnya kini sembari menyalam punggung tangan kanan Sari.
__ADS_1
"Non jaga diri baik baik ya!".