Madu Dihari Pernikahan

Madu Dihari Pernikahan
Bab 55 - Menangkap Preman


__ADS_3

"Biarkan saja Tania yang mendonorkan ginjalnya, Kamu tidak perlu!" ucap Safania yang kini menghampiri mereka.


"Aku harus lakuin ini demi Mama!"


"Tapi bukan ini caranya Lendra!"


"Saatnya aku membalas budi baik Mama!"


"Aku ngk bakal izini kamu Lendra!"


"Ini keinginan aku dan tidak akan kubiarkan seorang pun menghalangi ku!"


"Lendra!"


"Kamu harus dukung keputusan aku Safania!"


"Tapi tidak dengan hal ini!"


Sesampainya Vania di lokasi yang di kirim oleh Rafa, ia menatap dari kejauhan Rafa yang sedang membopong tubuh Nadya yang tampak lemah sembari melawan beberapa preman bersama Vandir, Vania tak mau salah jalan, ia segera menghubungi beberapa pihak kepolisian untuk membantunya menolong Rafa.


Jika hanya seorang diri datang ke lokasi itu sama saja Vania sedang mengantar nyawa untuk mereka, Vania harus benar benar masuk di waktu yang pas, jika ia lengah yang ada preman itu malah menangkapnya dan menjadikanya sebagai bahan ancaman.


Vania hanya dapat berdiam diri di dalam mobilnya sembari menunggu kehadiran Fikri bersama rekanya yang lain, Vania juga merekam aksi para preman itu, takutnya nanti setelah kehadiran polisi preman preman itu malah membalikan fakta.

__ADS_1


"Om Vandir!" teriak Rafa yang ingin memberitau jika adalah satu preman ada yang berada di belakangnya sudah memegang kayu berukuran besar dan hendak memukul Vandir dengan benda itu. Vandir yang masih menoleh pada arah Rafa tidak dapat mengelak, preman itu sudah keburu memukulnya hingga terjatuh di atas tanah.


Rafa sebenarnya ingin membantu Vandir namun, karena Nadya yang berada dalam gendonganya, ia tidak dapat bergerak secara leluasa dan ia juga harus menghadapi empat orang preman seorang diri. Rafa semakin menguatkan gendonganya agar Nadya tidak terjatuh.


"Nad, Kamu pegangan yang kuat!" ucap Rafa. Lelaki itu memulai strategi barunya, Ia mengengam tangan Nadya yang menempel di bahunya dengan kuat. Di saat itu preman itu kembali menghampiri Rafa dan siap menyerang Rafa, sebelum preman itu melakukan aksinya Rafa lebih dulu menendang bagian preman itu dan matanya yang tetap terfokus pada preman preman orang lain.


"Rafa!" teriak Vania yang langsung keluar dari dalam mobilnya dan langsung berdiri di belakang tubuh Rafa.


Brughhhhh, Vania mengorbankan tubuhnya, alhasil ia yang di pukul kayu besar yang di pegang preman itu. Hampir saja preman itu melakukan hal yang sama seperti mereka memperlakukan Vandir, namun, karena Vania sudah menyaksikannya dari dalam motornya ia segera berlari dan menghampiri Rafa.


"Vania!" teriak Rafa yang langsung berlari menuju Vania yang sudah tergelatak di tanah. Ia tidak lagi memfokuskan pandanganya pada preman preman itu dan kesempatan itu tentunya di manfaatkan oleh mereka, mereka menendang tubuh Rafa dari belakang secara bergantian.


Rasa sakit sudah tidak di rasakan Rafa melihat tubuh kekasihnya sudah terbaring lemah di atas tanah, emosinya semakin memuncak, tiga orang sekaligus menjadi korban mereka, termasuk kekasihnya.


Karena kurangnya strategi yang tajam, Rafa mendapat pukulan di bagian perutnya secara mendadak dan keningnya yang sudah di gampar oleh mereka hingga mengeluarkan darah segar, namun karena jiwanya yang sudah di penuhi kemarahan dan seluruh iblis yang kini memenuhi kepalanya rasa sakit itu sudah tidak di rasakanya.


Tangan Rafa mengepal saat menyadari sudut bibirnya sudah mulai mengeluarkan cairan berwarna merah segar. Rafa menatap darah itu dengan tajam. Plaaakkkkk, satu pukulan keras mendarat dengan sempurna di punggung preman itu hingga preman itu juga merasakan hal yang sama seperti Vandir, tergeletak di jalanan. Melihat salah satu kawananya di tak berdaya, ketiga dari mereka melakukan serangan secara bersama pada Rafa, satu di belakang, satu di depan dan satunya menjadi di sebelah kiri.


"Aku tidak takut pada kalian!" ucap Rafa dengan penuh kedendaman dengan mata tajam yang mengarah pada mereka secara bergantian. Preman yang berdiri di depan Rafa mulai melakukan serangan di kepala Rafa untungnya Rafa dapat mengelekan tangisan itu dan Rafa justru memukul balik bagian kepala lelaki tua itu.


"Kalau berani satu lawan satu!" teriak Fikri yang sudah berada di belakang mereka dengan membawa tiga kawanannya yang sudah mahir dalam hal bela diri dan Vandir berdiri paling di depan di antara mereka.


"Ohh, Kalian membawa pasukan!" ucap Bos mereka yang kini sudah berdiri paling depan dan sudah berdiri tepat di hadapan Fikri dan jarak mereka hanya terhitung cm.

__ADS_1


"Kenapa? Bukankah kalian juga melakukan pengeroyokan? Kalau kalian memang lelaki harusnya kalian tidak melakukan serangan secara bersamaan!" ucap Fikri tampa rasa takut di dirinya.


"Banyak bac*t!" ucap Preman itu yang hendak memukul perut Fikri namun, Fikri masih dalam mengelak, ia malah menangkap tangan preman itu dan memutarkannya kebelakang dan kemudian melemparkannya ketanah.


"Polisi!" teriak preman yang berada paling belakang dan segera berlari meninggalkan tempat ini, di ikuti oleh preman lainya dan meninggalkan preman yang masih tergelatak di atas tanah.


Rafa segera berlari menuju kekasihnya, ia segera membopong tubuh Vania dan memasukanya kedalam mobilnya. Sedangkan Fikri mengendong tubuh Nadya dan membawanya masuk kedalam mobilnya, ia tau betul bagaimana karakter bosnya itu, jika sesuatu buruk terjadi pada Vania, maka Rafa akan selalu mengutamakan Vania dan tidak menghiraukan yang lain, ia hanya mementingkan Vania.


Fikri berjongkok di hadapan tubuh Nadya dan mengecek suhu badan Nadya dengan meletakan tangan kananya di kening Nadya, tubuhnya terasa dingin dan bergemetar, sepertinya wanita ini juga sedang tidak sadarkan diri. Fikri bangkit dari posisinya dan segera menghadap preman yang sedang mengangkat preman yang sedang pingsan itu kedalam mobilnya. Bukan hanya preman itu yang mereka bawa, mereka juga membawa Vandir masuk kedalam mobil mereka.


"Keempat dari mereka berhasil melarikan diri Pak!" lapor Fikri pada salah satu polisi yang datang ketempat kejadian.


"Iya Pak, Terima kasih atas informasi dan bantuannya, Sebenarnya orang ini sudah lama menjadi incaran kami, tapi mereka selalu berhasil melarikan diri dan sekarang kami berhasil menangkap salah satu dari mereka berkata Bapak!"


"Bukan saya Pak, tetapi bos saya!" ucap Fikri.


"Baiklah, Sekali lagi kami ucapkan terima kasih Pak!"


"Beri efek jera pada pelaku Pak!" ucap Fikri.


"Baik Pak!"


"Kalau begitu saya tinggal dulu Pak!" ucap Fikri yang langsung meninggalkan polisi itu dan berjalan menuju mobil Vania terparkir. Ketiga bawahanya sudah pergi lebih dulu membawa Nadya kerumah sakit dan ia juga harus mengamankan mobil Vania sebelum ia ikut menyusul kerumah sakit.

__ADS_1


"Kamu tunggu sebentar ya Sayang, kita sebentar lagi sampai kerumah sakit!" ucap Rafa dengan mata yang menoleh kearah belakang mobilnya tempatnya membaringkan tubuh Vania.


__ADS_2