
Fikri kembali mengumpulkan bawahanya setelah mengingat sesuatu hal yang menganjal di kepalanya. Ia memerintahkan mereka untuk tetap keberadaan Vandir sedangkan ia memutuskan untuk datang kekantor polisi, barang kali polisi itu mengetahui keberadaan Vandir atau setidaknya ia bisa meminta tolong pada polisi untuk membantunya mencari keberadaan lelaki itu.
Rafa kembali masuk kedalam ruangan Nadya dengan perasaan bersalah, ia terlalu mengkhawatirkan kondisi Vania dan tidak memikirkan korban terluka lainya. Dengan perasaan cemasnya Rafa menemui Nadya yang masih terbarjng diatas ranjang rumah sakit.
"Ayah gimana Raf?" tanya Nadya kembali menatap kedua bola mata Rafa dengan seksama. Bola mata itu tampak sendu dan sedikit memberi keraguan dan ia sudah dapat menduga jika jawaban yang akan dilontarkan Rafa akan membuatnya kecewa, sudah terlihat dari raut wajahnya.
"Maaf Nad!" ujar Rafa tertunduk lesu dan kembali duduk di atas kursi yang berada di sebelah Nadya. Nadya hanya dapat menelan ludahnya, jawaban yang sudah di duganya, akhirnya terucap juga.
"Sekarang ayah dimana?" tanya Nadya sembari melepas selang infus yang berada di tanganya. Rafa terbelalak melihat aksi Nadya ini. Apa yang akan gadis ini lakukan? Apa ia tidak memperdulikan kondisi tubuh dan kesehatanya.
"Kamu mau ngapain Nad?" tanya Rafa mulai khawatir. Jika sudah menyangkut Perihal ayahnya gadis ini sangat keras kepala dan tidak akan mendengarkan ucapan orang yang melarangnya. Baginya ayahnya adalah segalanya.
"Ayah aku dimana?"
"Nadya kamu jangan nekat!" ujar Rafa kembali merebahkan tubuh Nadya yang sudah sempat terduduk di atas ranjang, ia juga kembali memasang selang infus itu ketangan Nadya. Mendapat perilaku seperti itu Nadya tidak hanya diam di tempatnya, ia berusaha untuk membantah Rafa, tetapi tenaga lelaki ini lebih kuat darinya apalagi dengan kondisinya yang masih lemah sepertiĀ ini.
"Aku hanya ingin menemui Ayah Rafa!"
"Aku tau maksud kamu dan aku juga mengerti dengan keinginan kamu tapi kamu juga harus mengingat kesehataan kamu, kalau kamu memang sudah pulih dan boleh keluar dari rumah sakit, aku yang akan mengantar mu untuk mencari keberadaan Om Vandir!"
__ADS_1
"Aku tidak akan tenang disini jika aku melihat wajah ayahku!" bantah Nadya tetap pada pendirianya dan berusaha untuk tetap bangkit namun, tubuhnya ditahan oleh kedua tangan Rafa, jangankan untuk beranjak dari kasurnya, bergerak saja sulit baginya.
"Kamu mencari keberadaan Ayah kamu, lalu nanti kalian bertemu dan kamu pingsan, kamu ingin menunjukan tubuh lemah mu pada Om Vandir?" ucap Rafa. Kalimat yang keluar dari mulut Rafa ini berhasil membungkam Nadya, ia tidak dapat berkutik dan mengatakan hal lain. Tersinggung sudah tentulah, tapi apa yang dikatakan oleh Rafa ada benarnya.
"Kamu tunggu sampai kondisi kamu benar benar pulih dan nanti aku yang bakal nemani kamu buat cari Om Vandir!" Setelah melihat Nadya yang sudah terdiam, tubuhnya yang juga sudah tidak lagi bergerak, Rafa akhirnya kembali duduk dengan tenang di kursi yang berada di sebelah Nadya.
"Ibu sudah sadar?" Sapa seorang Suster yang sedang masuk kedalam ruangan Vania dengan membawa nampak yang berisikan bubur nasi pada gadis itu dan segelah air putih hangat, Vania hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
"Sus, Apakah tadi ada seseorang yang menunggu saya sadar?" tanya Vania yang sudah memperhatikan sekelilingnya dan mencari keberadaan kekasihnya itu. Ruanganya tampak sepi dan tidak ada seorang pun yang berada di sekitarnya. Perasaanya terasa hampa, ada sesuatu yang kurang di lubuk hatinya, biasanya saat ia sakit seperti ini, selalu ada Tifani yang menunggu kesadaranya. Sekarang mamanya sudah tiada, Rafa juga orang yang selalu menemani dan membantu Tifani ketika ia sakit.Sekarang keberadaan kedua orang itu tidak dilihatnya. Vania sekarang merasa benar benar sendiri.
Tania, sepupu dan sahabatnya yang selalu ada didekatnya dan membantu permasalahannya, kini sudah menikah dan memiliki dunia baru yang tidak mungkin untuk terus bersamanya. Setetes buliran bening mengalir di wajah Vania.
"Ibu sudah waktunya makan, mari saya suapi!" tawar sang suster dengan penuh keramahan pada Vania.
"Tidak usah Sus, Saya bisa minta tolong Sus?"
"Minta tolong apa Bu?"
"Suster bisa panggilkan orang yang sudah menunggu untuk masuk kedalam ruangan saya dan nanti dia yang bakan nyuapi saya!"
__ADS_1
"Itu pacarnya Ibu ya?" ucap Suster itu sedikit mengoda Vania, wajah Vania memerah, ia tidak dapat menutupi kebahagianya. Ia tersimpuh malu atas ucapan sang Suster yang berhasil membuatnya terbang hingga kelangit ketujuh.
"Baiklah kalau begitu saya keluar ya Bu, nanti kalau ada sesuatu panggil saja saya dan nanti saya juga akan memanggilkan pacar Ibu dan memberitahukanya kalau wanitanya yang cantik ini sudah sadar!" ucap Suster itu dengan senyum lebarnya sebelum ia meninggalkan ruangan Vania.
"Gimana kalau sesuatu buruk terjadi pada ayah?"
"Kamu itu harus bisa mikir yang baik, jangan berfikir buruk terus, doakan saja Om Vandir dan keadaan baik baik dan aku juga sudah menyuruh Fikri untuk mencari keberadaan Om Vandir dan saran aku kamu harus fokus pada kesehatan kamu biar nanti kita ikut serta dalam pencarian Om Vandir!"
"Aku khawatir Raf!"
"Iya aku ngerti Nad dan aku mau tanya sama kamu kenapa kamu bisa bersama preman preman itu sedangkan kamu izinnya keaku dan Vania mau pulang untuk masakin Om Vandir, tapi Om Vandir datang kerumah dan bilang kamu belum ada pulang sama sekali dan kenapa kamu bisa berada ditempat itu sedangkan lokasi rumah kamu tidak searah dengan tempat yang kamu lewati? Kamu bohong keaku Nad?" Nadya kembali tertunduk. Tidak mungkin ia mengatakan pada Rafa jika ia tadi sedang menenangkan dirinya setelah melihat keromantisan Rafa bersama kekasihnya, Rafa tidak boleh tau tentang perasaanya.
"Aku tadi ingin kepada dulu!" bohong Nadya tanpa berani menatap wajah Rafa.
"Pasar? Tidak ada pasar di daerah itu Nad, Kamu mau coba bohongin aku? Nad, kita ini sudah saling mengenal sejak lama, aku tau kamu sedang tidak jujur, kamu perempuan baik dan kamu tidak bakat dalam berbohong, jujur sama aku Nad, Kamu tadi kemana?" tanya Rafa yang semakin dalam menatap Nadya. Nadya semakin tidak berdaya untuk menjawab pertanyaan Rafa.
"Kita memang sudah lama mengenal tapi kamu juga tidak paham kalau sampai saat ini aku masih mencintaimu dan aku tidak bisa menerima lelaki mana pun setelah kepergian mu. Kamu jahat Raf, kamu sudah berhasil melupakan ku dan bahkan kamu juga sudah berhasil mencari pengganti ku, sedangkan aku? Aku masih mengharapkan mu kembali walau pun kemungkinan itu tidak ada!" gumam Nadya dengan buliran bening yang mengalir di wajahnya. Ia tidak dapat membohongi dirinya lagi, ia tidak dapat bersikap baik baik saja, sekarang ia benar benar hancur.
"Nad, Kamu kenapa nangis?" tanya Rafa yang kini mengunakan nada lembutnya. Ia mendekatkan wajahnya dengan Nadya dan benar saja jika wanita itu sedang menangis.
__ADS_1