
Mata Rusdi dan Vania saling bertemu dan memandang kemudian keduanya tersenyum saling melemparkan senyum seraya memberi isarat agar menangkap Naila yang menjauh dari mereka dengan membawa toples tepung ditanganya. Rusdi juga memegang segengam tepung sedangkan Vania, ia tidak memiliki apa apa untuk membalas perilaku gadis kecil ini.
Rusdi dengan inisiatifnya sendiri segera memanjat sebuah rak yang berisi perbumbuan dengan kursi yang ada didekat mereka. Ia mengambil tepung yang masih berada didalam plastik dan memberikan setengahnya pada Vania.
"Ayok tangkap!" teriak Rusdi. Vania, ia juga langsung berlari menuju Naila yang sudah berada di pengujung pintu.
Byurrrrrr. Naila tertawa terbahak bahak, sedangkan Rusdi memegangi keningnya yang terasa sakit karena terbentur dengan kepala Vania. Vania juga meminta bagian telinganya yang terkena daun pintu, bukanya berhasil menjalankan misi, Rusdi dan Naila malah terkena rencananya sendiri.
Rusdi yang menangkap Naila dari sebelah kanan dan Vania yang berada disebelah kiri, keduanya berlari secara bersamaan dan karena terlalu bersemangat mereka berlari kejauhan hingga Naila dapat melarikan diri dan keduanya yang malah saling bertabrakan.
"Makanya jangan punya niat jahat sama Naila, orang baik di jahati, kena karmakan," ledek Naila menjulurkan ujung lidahnya dan berlari keluar dari dapur dan meninggalkan kedua sejoli ini.
"Hidung kamu belepotan," ucap Rusdi sembari membersihkan hidung Vania yang yang penuhi tepung putih. Vania terkejut mendapat perlakuan seperti ini dari lelaki yang belum lama di kenalnya.
"Naila, kamu kenapa kotor seperti itu? Baju kamu kenapa dipenuhi tepung, mandi sana!" usir Liora mendorong sedikit tubuh putrinya itu.
Selesai dari dapur, Naila malah berlari menuju ruang tengah yang disana terdapat mamanya yang sedang menonton televisi dan sedang meminum susu dan ia malah duduk disebelah Liora.
"Naila sudah mandi Ma!" jawab Naila yang semakin mendekatkan tubuhnya dengan Liora dan bahkan ia juga memeluk bahu kanan wanita paruh baya itu.
"Naila!" teriak Liora.
"Makasih!" ujar Vania tersenyum malu pada Rusdi dan lelaki itu hanya membalasnya dengan senyum tipis miliknya.
"Yok kita samperin Naila!" ajak Rusdi sedikit canggung karena ia mengenal Vania juga belum beberapa lama ini dan ia juga tidak pernah berdua dengan wanita didalam ruangan seperti ini kecuali bersama Naila dan Kiara yang suka mencari perhatian darinya.
__ADS_1
"Kita ngk jadi masak?" Rusdi menatap bahan bahan yang sudah sempat dikeluarkan Naila. Ia segera menghampiri bahan bahan tersebut dan mulai bertempur dengan alat masak, walau berjenis kelamin pria, Rusdi juga jago dalam hal memasak walau pun tidak sejago Naila.
Vania hanya menatap Rusdi yang tampak ulet memotongi bahan bahan sepertinya pria ini sudah biasa mengerjakan hal hal seperti ini. Rusdi yang merasa di lihati oleh Vania memberanikan diri untuk bertanya karena ia juga risih di perhatikan seperti ini tetapi, ia juga tidak ingin di cap sebagai orang yang memiliki tingkat kepedean yang tinggi.
"Kenapa?" tanya Rusdi yang masih asik mengirim bawang, cabe dan perbumbuan lainya tampa menatap ke Vania.
"Kamu bisa masak?" Rusdi hanya mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Vania.
"Hebat!" puji Vania.
"Emang kamu ngk bisa masak?" Vania hanya cengegesan tidak jelas karena sebetulnya ia juga merasa malu. Pria saja bisa masak, ia sebagai wanita merasa inscure pada lelaki ini.
"Aku juga bisa cuma sedikit doang kok," ucap Rusdi yang kini mulai memotong sosis.
"Aku mau coba boleh?" tanya Vania yang seperti ia juga mulai tergiur untuk melainkan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah di cobanya.
"Kamu jorok banget!" kesal Liora hang semakin mendorong tubuh anaknya menjauh darinya.
"Mandi sana!" lanjutnya.
"Naila mau masak Ma, nanti kotor lagi!"
"Ya sudah kamu masak sana, jangan lupa buatan Mama juga, Mama juga lapar,"
"Bilang aja Mama suka sama masakan Naila, uhhhh gengesian banget sih sama anak sendiri!" ucap Naila dengan pedenya.
__ADS_1
"Emang salah kalau seorang ibu suka sama masakan anaknya, anggapnya saja kamu lagi berbakti sama Mama dengan menyenangkan seorang ibu juga mendapat pahalakan?" ucap Liora.
"Iya deh, Naila masakin yang banyak sekalian buat Papa!"
"Nai tadi kak Rusdi kesini sama siapa?"
"Sendiri Ma,"
"Evandi ngk ikut?" Vania mengeleng.
"Kenapa Ma?"
"Mama kirain ikut!"
"Mama kangen ya sama kak Evandi," goda Naila dengan senyum jahil dibibirnya dan memainkan jari telunjuknya.
"Apa sih Nai, Mama sudah punya suami ya, jangan ngadi ngadi kamu tapi, kalau di tanya buat kamu, Mama setuju banget. Evandi tuh dah ganteng, pekerja keras bicaranya sangat santun, jarang bicara dan menurut Mama dia juga orang baik, pokoknya tipe Mama bangetlah!" puji Liora mulai membayangkan sosok lelaki yang sedang mereka bahas.
"Ihhhh Mama!" teriak Naila kesal dan menghentakan kakinya kelantai. Liora mengangkat sebelah alisnya sepertinya anaknya mulai merasa cemburu saat ia memuji sosok lelaki itu, ada perasaan senang dihati Liora melihatnya.
"Mama tuh sudah punya Papa. Mamam jangan gatal gatal lagi kelelaki mana pun apalagi sama temanya Kak Lendra, malu maluin tau," kesal Naila memalingkan wajahnya dari wanita yang sudah melahirkanya itu.
"Yang bilang Mama suka sama Evandi siapa Naila? Mama suka kalau dia yang jadi mantu Mama harusnya kamu tuh ngerti dengan pembicaraan Mama. Maman setuju banget kalau kamu punya hubungan spesial dengan Evandi, apalagikan dia teman kakak kamu jadi, ngk mungkin dia bakal menelantarkan kamu dan kamu juga sama Evandi sudah akrab banget. Kenapa kalian tidak memiliki hubungan yang spesial saja?" ucap Liora menyampaikan isi hatinya hang sesungguhnya.
Naila menatap mamanya dengan tatapan tidak percaya karena ini baru pertama kalinya Liora menyatakan hal seperti ini dan biasanya mamanya hanya menyuruhnya untuk mencari lelaki yang baik sebagai pemimpin rumah tangganya kelak dan ini terang tegangan Liora memintanya untuk dekat dengan teman kakaknya.
__ADS_1
"Apa sih Ma, kak Evandi itu sudah seperti kak Naila jadi, ngk mungkin. Naila sudah menganggap kak Evandi sama seperti dengan kak Lendra jadi, ngk akan bisa!"
"Selagi Evandi tidak lahir dari rahim Mama dan kalian tidak memiliki ikatan darah tidak ada yang tidak mungkin. Mama juga yakin kalau Evandi bisa menjaga kamu dengan baik, Evandi itu dewasa Sayang jadi, ngk mungkin dia nyakitin kamu dan kakak kamu Lendra pasti juga setuju, diakan orang yang paling takut kamu bertemu dengan lelaki yang tidak bisa membina kamu kalau dengan Evandi, mereka sudah bersahabat lama dan kakak kamu sudah banyak mengenal sifat dia dan Lendra juga pasti akan tenang jika sudah melepas kamu dengan orang yang tepat, apalagi papa pasti sangat setuju." ujar Liora panjang lebar dan Naila hanya dapat menarik nafas dan meghembuskanya dengan malas.