Madu Dihari Pernikahan

Madu Dihari Pernikahan
Bab 54 - Mulai melawan


__ADS_3

"Mungkin entar setelah loh duluan!" balas Rafa pula.


"Wkwkwk, gue masih lama kali, calon gue aja belum ada, Loh aja luan, lohkan sudah ada calon, yakali gue nikah sama tampa pasangan!"


"Gue masih belum yakin!"


"Why?"


"Gue takut kejadian lagi Bro, Gue ngk mau nyakitin hati Vania, gue sayang banget sama dia!"


"Coba aja dulu!"


Vania langsung mematikan ponsel Rafa dan kembali meletakanya. Hubungan yang sudah lama di jalaninya ternyata belum dapat memberikan keyakinan di hati kekasihnya itu. Sikap dan ketulusan yang selama ini Rafa tunjukan, ternyata masih ada rahasia yang masih di sembunyikanya.


Overthingking sudah pasti di rasakan Vania setelah membaca percakapan Rafa dan Regan yang membuat sakit hatinya. Apa maksud Rafa mengatakan takut jika kejadian itu terulang kembali, apakah sebelumnya Rafa sudah pernah berniat untuk menikahi seorang wanita tetapi gagal hingga ia juga merasa takut untuk menikahi dirinya, lalu kenapa Rafa tidak pernah menceritakan hal itu padanya. Apakah keberadaanya selama ini tidak di anggap oleh Rafa.


Tapi, sikap dan ketulusan yang di berikan Rafa bukanlah hal kecil atau pun hal yang mudah untuk di lakukan dan selama berpacaran Vania merasa jika Rafa adalah orang selalu berjuang untuknya dan belum pernah di temukanya dari sosok lelaki yang sebelumnya pernah bersama denganya. Jadi, tidak mungkin jika Rafa ingin mempermainkanya. Lalu, kenapa Rafa mengatakan hal itu.


Tak terasa buliran bening itu kembali membasahi wajah Vania. Pantas saja Rafa tidak pernah sedikit pun membahas pernikahan di hubungan yang cukup lama sudah mereka jalani dan Vania juga juga tidak pernah membicarakan hal itu pada Rafa.


"Aku kira kamu beda dari lelaki lain Raf, ternyata sama saja, lalu apa bedanya kamu dengan masa lalu ku, kamu hanya mengajak ku untuk berpacaran tetapi, tidak berniat untuk menikahi ku?"

__ADS_1


"Apa bedanya kamu dengan Lendra, Lendra saja masih berniat menikahi pacarnya walau hanya menjadikanya sebagai istri keduanya, bahkan ia rela mengorbankan istri pertamanya untuk bisa bersama dengan wanita yang di cintainya, sedangkan kamu hanya memberikan ku harapan tampa mau mewujudkan hal terindah setelah pacaran!" lirih Vania.


"Awawwwhhhh!" lirih Nadya yang sudah terjatuh dan terduduk di tengah jalan karena kakinya tersandung batu yang cukup besar.


"Mau kemana kamu gadis cantik?" goda preman itu yang kini sudah berdiri di hadapan Nadya.


"Pergi kalian!" teriak Nadya yang terus saja mengeserkan tubuhnya mundur kebelakang karena lelaki begis itu terus saja mendekat dengannya. Dengan segala kesusahan dalam dirinya ia terus mengerakan tubuhnya agar berpindah dari tempat ini namun, berdiri pun Nadya sudah tidak sanggup.


"Hayolah, Kami hanya mengajak mu bersenang senang!" ucap preman satunya lagi yang kini sudah berada di belakang Nadya dan dua orang preman lainya sudah berada di sebelah kanan dan kirinya, sudah tidak ada ruang untuknya berlari. Keempat preman ini sudah mengapit tempatnya, kemungkinan untuk dirinya lolos dari tempat ini tinggal sedikit atau bahkan tidak ada, tapi itu bukan menjadi alasannya untuk menyerah dan pasrah pada preman preman itu.


"Kamu mau lari kemana lagi?" tanya preman yang berada di sebelah kananya.


"Berani kamu melawan saya?" bentak preman itu yang sudah semakin emosi pada Nadya yang terus saja melakukan perlawanan dan ia langsung menampar Nadya dengan kuat, hingga wajah Nadya kemerahan dengan jelas.


"Anda jika ingin di hormati, Jangan memperlakukan wanita seenak anda!" bentak Nadya pula yang tidak sedikit pun rasa takut menghampirinya, siapa pun orangnya, jika orang itu ingin merebut harga dirinya sebagai seorang wanita maka Nadya siap melakukan perlawanan. Wanita bukan untuk di rendahkan, itulah prinsipnya.


"Kamu berani melawan bos kita?" ucap Preman yang berada di sebelah kiri Nadya dan ia mendorong tubuh Nadya hingga tersungkur dan hampir saja kening Nadya menyentuh batu yang ada di dekatnya.


"Kamu tinggal menuruti keinginannya saja sulit!" bentak preman yang berada di belakangnya pula dan ia juga mendorong tubuh Tania kedepan dengan kuat. Nadya yang sudah mulai merasa lemah dan tak berdaya, terdorong hingga masuk kedalam kepelukan preman yang mereka sebut sebagai bos.


"Akhirnya kamu menjadi miliku!" ucap preman itu yang kini memeluk Nadya yang sudah sempoyan tak berdaya dan mengelus wajah mulus Nadya dengan penuh hawa nafsu, Nadya yang sudah tidak dapat berbuat apa apa tetap berusaha menjauhkan tubuhnya dari lelaki begis itu.

__ADS_1


"Kamu cantik sekali!" ucap preman itu melempar tubuh Nadya ke preman lainya.


"Hai gadis cantik!" ucap preman yang menangkap tubuh Nadya, dan begitulah seterusnya Nadya di anggap seperti permainan, di lempar kesana kesini, Nadya hanya dapat terdiam dan sudah tidak dapat melakukan perlawanan apa pun karena tubuhnya sudah sangat lemah tak berdaya.


"Rafa, cepetan, firasat Om tidak enak ke Nadya, Om takut sesuatu buruk terjadi pada Nadya!" ucap vandir yang semakin khawatir di dalam mobil Rafa, Rafa yang sedang menyetir mobilnya masih menyempatkan matanya untuk melirik kekanan kekiri untuk melihat keberadaan Nadya, Sedangkan Vandir yang kekhawatirannya sudah memuncak hanya dapat menatap kearah depanya.


"Om, Om lihat kanan kiri Om, siapa tau Nadya masih ada di sekitaran sini!" ucap Rafa.


"Om di situ ada Preman Om!" ucap Rafa yang langsung menghentikan mobilnya secara mendadak saat melihat sekumpulan preman dan hendak keluar dari dalam mobilnya untuk menolong orang yang di sakiti oleh preman yang berada di depanya itu.


"Rafa, Kita tidak bisa menolong orang itu, Sekarang kita harus mencari Nadya dulu, pikiran Om tidak tenang jika belum melihat Nadya!" ucap Vandir mengerti dengan ucapan Rafa yang mengajaknya untuk menolong orang yang sedang di kerjain oleh preman preman itu.


Rafa mengerti dengan maksud Vandir, wajar saja saat ini Vandir tidak mau menolong orang itu karena memang kondisi yang tidak memungkinkan, namun di sisi lain, Rafa tidak tega melihat wanita yang di permainkan oleh preman yang sudah jelas berada di depan matanya.


"Tapi Om!"


"Nadya, Raf!" ucap Vandir dan kali ini Rafa harus menurut dengan ucapan Vandir, ia kembali masuk kedalam mobilnya dan kembali melajukannya. Namun, karena pikiranya yang masih memikirkan wanita itu, Rafa menyetir dengan sangat lambat dan melihat siapa orang yang di lukai oleh preman preman itu.


"Nadya Om!" ucap Rafa yang langsung menghentikan mobilnya di tengah jalan dan tidak menunggu jawaban dari Vandir. Vandir sempat sedikit kesal pada Rafa, karena Rafa terus saja memusatkan pandanganya pada preman preman itu dan melajukan mobilnya dengan sangat pelan.


Vandir menoleh kearah belakang dan melihat seorang wanita yang sedang di kroyok oleh lima preman sekaligus, ia tidak mendengar dengan jelas suara Rafa sebelumnya karena Rafa bicara terlalu terburu buru.

__ADS_1


__ADS_2