
"Ngapain loh kesini?" tanya Lendra yang melihat Tania memasuki kamarnya.
"Aku di suruh mama tidur sama kamu Mas!"
"Terus kamu mau?" Tania hanya mengangguk.
"Gue ngk sudi tidur satu ranjang sama perempuan kayak loh!" ucap Lendra dengan nada tingginya dan melempar guling yang di pegangnya pada Tania.
"Saya juga karena di suruh mama aja kok Mas!" balas Tania tertunduk.
"Basi banget alasan loh!"
"Kalau Mas memang tidak mau seranjang dengan saya, saya tidur di sofa aja Mas!" ujar Tania dengan memunggut guling yang di lempar Lendra dan mengambil satu bantal yang ada di atas kasur Lendra.
"Enak aja loh!" Lendra menarik bantal dan guling Tania dan meletakanya kembali di kasurnya.
"Tapi Tania juga butuh bantal Mas!"
"Gue ngk peduli!" ketus Lendra yang langsung merebahkan tubuhnya dan memeluk guling yang sempat di letakan Tania di atas sofa yang ada di dalam kamarnya.
Tania hanya dapat menghela nafasnya mendapat perlakuan seperti ini, ia tidak dapat berkata banyak dan melakukan apa pun selain bersikap sabar. Ia keluar dari kamar Lendra untuk mengambil bantal, guling dan selimut dari kamarnya.
Tania berjalan dengan sangat pelan agar langkahnya tidak terdengar oleh siapa pun, namun sayang, Liora yang tengah mengambil minuman di dapur mendengar suara langkah Tania dan langsung menghampiri menantunya itu.
"Kamu mau ngapain?" tanya Liora curiga.
"Tania cuma mau ambil barang dari kamar Tania Ma!"
"Ngambil apa?"
"Tania mau ambil selimut aja kok Ma!"
__ADS_1
"Bukannya selimut di kamarnya Lendra ada?"
"Tapi Tania mau pakai selimut Tania aja Ma!"
"Kamu jangan gitu dong Sayang, kalau kita sudah memiliki suami maka barang kita juga boleh sama dengan suami, ngk harus pakai selimut kamu, pakai selimut Lendra saja!"
"Ta ... tapi Ma!"
"Sudah ayok masuk kamar, kasihan Lendra nunggui kamu!" balas Liora mendorong tubuh Tania pelan menuju kamar Lendra.
Liora mengantar Tania sampai Tania benar benar sampai ke depan pintu Lendra dan benar benar memastikan jika Tania masuk kedalam kamar Lendra.
Setelah Tania masuk kedalam kamar Lendra, Liora mengunci kamar anaknya itu, ia tersenyum saat menatap kuncinya dan kemudian pergi meninggalkan kamar Tania.
"Pasti Mama sudah pergi!" gumam Tania setelah berdiam diri beberapa menit di dalam kamar Lendra. Namun, ia mengalami kesulitan dalam membuka pintu kamar lelaki ini. Ia menatap sekilas pada wajah Lendra yang sudah terlelap dalam tidurnya sedangkan ia masih kesulitan seperti ini.
"Kok pintunya ngk bisa di buka ya?" pikir Tania yang sudah berulang kali mencoba menarik pintu kamarnya tetapi nihil usahanya tidak membuahkan hasil.
Sinar matahari mulai menyambut pagi ini, teriknya memanggil setiap orang untuk kembali beraktifitas. Vania kini sudah berada di dalam rumah Rafa bahkan sudah berada di dalam kamar kekasihnya itu. Ia membuka jendela dan gorden kamar pria itu. Sinar matahari mulai merangsang matanya, terpaksa Rafa harus terbangun dan mengusap matanya dengan mengunakan kedua tanganya.
"Pagi Sayang!" sambut Vania dengan senyuman manisnya.
"Pagi Sayang!" balasnya seperti orang yang masih mengantuk berat.
Rafa yang sudah mengenal dan memiliki perasaan yang besar pada Vania, mempercayakan wanita itu untuk memegang kunci duplikat rumahnya, makanya Tania bebas keluar masuk kedalam rumah pria ini.
"Sayang kamu mandi gih!" pinta Vania mengambil handuk dan memberikan benda itu pada Rafa.
"Masih ngantuk Yang!" jawab Rafa kembali merebahkan tubuhnya.
"Sayang ayo bangun!" ujar Vania menarik tubuh Rafa dan membawa pria itu kedalam kamar mandi.
__ADS_1
Rafa yang masih dalam keadaan ngantuk berat, masih tidak mengetahui kemana Vania membawanya. Hingga Vania menghidupkan shower kamar mandi Rafa dan membasahi tubuh pria itu.
Rafa terkejut, ia mulai tersadar ketika tubuhnya mulai merasakan kedinginan, kakinya yang terus mengikuti langkah Vania dengan mata terpejam kini mata itu terbuka sempurna dan menyadari kalau dirinya tidak lagi berada di atas ranjangnya.
"Kamu ya!" kesal Rafa kini malah menciprati Vania dengan air, tak mau kalah Vania justru membalas perbuatan Rafa dengan air yang lebih banyak.
Tubuh yang tadinya sudah rapi dan cantik, kini harus basah kuyup, Vania sudah tidak lagi mempermasalahkan itu, kini ia benar benar bahagia berada di dekat pria ini.
"Awas kamu ya!" ucap Rafa terus menyiram kekasih itu dengan air yang semakin banyak. Kelakuan keduanya sudah seperti anak kecil, berlari hari di dalam kamar mandi tampa takut jatuh karena sedang menikmati kebahagiaan bersama.
"Akhhh sudah Raf aku lelah!" ucap Vania pada akhirnya karena sudah terjatuh di dalam kamar mandi, tetapi tawa masih saja menempel di bibir wanita itu.
"Kamu sudah mandi?" tanya Rafa yang kini berjongkok di hadapan Vania yang terduduk di atas lantai kamar mandi dan tangan di belakang memegang gayung yang berisikan air.
"Sudah dong!"
"Ya sudah mandi lagi ya!" ujar Rafa menyiramkan segayung air itu di kepala Vania dan berlari menjauh.
"Rafaaaaa!" teriak Vania.
"Dok, kapan teman saya bisa pulang?" tanya Rusdi setelah dokter yang menangangi Evandi hendak keluar dari ruangan Evandi.
"Pasien sudah boleh pulang, tetapi pasien juga harus melakukan kontrol agar pemulihan lebih cepat!" ucap dokter itu.
"Dok, kalau pasien sering melakukan kontrol, dia bisa sembuhkan Dok?"
"Insyaallah, sekarang kita perbanyak do'a saja ya!"
"Nadya, kamu tidak jenguk Rafa?" tanya Vandir. Nadya dan ayah itu kini tengah melakukan sarapan bersama.
"Tidak Yah!" balas Nadya.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Nanti ceweknya salah paham lagi Yah!"