Madu Dihari Pernikahan

Madu Dihari Pernikahan
Bab 80 - Sulit diartikan


__ADS_3

"Tan, Kamu sudah makan?" tanya Lendra memberanikan diri menanyakan perihal ini. Ia yakin pasti pertanyaannya ini akan menyinggung perasaan Tania seakan ia tidak rela jika makananya di makan oleh Tania, tapi ia juga ragu jika Tania yang makan karena Tania tidak mungkin untuk selancang itu.


"Mas Lendra kok tega banget sih, dia sudah pesan cuma satu dan sekarang menuduh ku," gumam Tania yang kembali meneteskan air mata yang sudah sempat terhenti.


Tak mendapat jawaban dari Tania, Lendra segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. Tania menatap sekilas kearah suaminya, pasti Lendra akan menghubungi Safania dan mengatakan jika ia sudah sampai di Bali, gumam Tania yang kembali kepolisian awalnya, membelakangi Lendra.


"Gimana ya Mbak, pesanan saya yang datang hanya seporsi," komplen Lendra pada orang seseorang melalui sambungan udara.


"Iya maaf Pak atas ketidak nyamanan kami salah melakukan pengiriman, Bapak bisa kirim ulang alamat Bapak agar dapat kami lakukan pengiriman ulang tapi, kami mohon waktunya karena makanan yang Bapak pesan stoknya sedang tidak kosong, mohon untuk kami menyiapkan dahulu." ujar orang itu. Lendra menatap Tania yang membelakanginya, jika menunggu lebih lama pasti Tania akan kelaparan sebaiknya ia mencari makanan diluar saja.


"Tidak usah Mbak tapi, mohon lain kali pelayananya di tingkatkan, jika stok sedang tidak ada mohon konfirmasi masih agar pembeli tidak kecewa seperti ini, lalu bagaimana jika konsumen seperti saya ini sedang kelaparan?" ujar Lendra.


"Kami mohon maaf Pak atas ketidak nyamananya,"


Lendra mematikan ponselnya secara sepihak dan mendekati Tania yang sedang terbaring.


"Tan!" panggil Lendra dengan sedikit tubuh Tania pasti gadis ini sedang merasakan lapar karena sejak tadi mereka belum ada sesi mengisi perut.


"Iya Mas!" jawabnya berusaha untuk bersikap biasa saja walau ia sedikit merasa sakit hati pada suaminya.


"Kamu lapar?" tanya Lendra. Tania mengeleng ia tidak ingin Lendra mengetahui keadaan yang sebenarnya dan ia tidak ingin di anggap terlalu baperan hanya karena tidak di pesankan makanan ia merasa sakit hati.


"Kita makan sama saja yuk," ajak Lendra, Tania tercenggang, suaminya kembali bersikap baik padanya. Apakah ini pertanda baik dalam rumah tangga yang, tapi seketika ingatanya tentang Safania ia segera menepis pikiran baik di kepalanya karena tidak mungkin seorang Lendra, lelaki terhormat yang bergelar sebagai Ceo mencintai gadis sederhana seperti dia, itu sangat tidak mungkin.


"Maskan cuma pesan satu porsi makanan," ujar Tania.


"Kita bagi saja, tadi aku sudah memesan makanan cukup untuk kita berdua tapi mereka hanya mengantarkan satu porsi makanan saja dan hanya minumanya yang sesuai dengan pesanan ku, aku juga tidak tau apa minuman favorite kamu jadi, aku pesankan coffematte buat kamu," ujar Lendra tersenyum.

__ADS_1


"Mas ngkpp kalau makananya kita bagi dua?" tanya Tania memastikan dan Lendra hanya memgangguk.


Tania menatap Lendra yang sedang mengunyah makananya, ia tersenyum melihat suaminya yang tengah asik menikmati makananya, melihat Lendra yang makan seperti ini saja ia ikut merasa kenyang, sepertinya ia benar benar sudah sangat mencintai Lendra.


"Kamu ngk makan?" tanya Lendra yang menyadari jika Tania menatapnya sedari tadi dan ia tidak melihat Tania menyentuh makananya.


"Kamu luan saja Mas," ujar Tania.


"Terus kamu mau makan bekas makan aku, aku tidak mau Tan, aku bilang kita makan bersama bukan kamu makan susa aku," ujar Lendra yang langsung menyodorkan sendok makanya keaeah mulut Tania. Disaat seperti inilah Tanua tidak dapat mengontol detak jantungnya.


Perlakuan manis Lendra yang seperti inilah membuat ia menaruh hati pada suaminya tapi, di sisi lain sikap Lendra pulalah yang meragukan Tania untuk mencintai Lendra lebih dalam lagi. Gak mau lebih lama lagi dalam lamunanya ia segera mengunyah makanannya, rasa makananya tambah nikmat karena Lendra yang menyuapinya.


Uhhuhhkkkkk


  Tiba tiba Tania tersedak dengan makananya dengan romantis pula Lendra menyodorkan minuman pada wanita itu dan Tania langsung meminumnya hingga tinggal tersisa setengah dari wadahnya. Selain rasanya yang nikmat, ia juga merasakan kesegaran ditengorokanya. Seperti biasa perlakuan Lendra seperti ini yang membuat Tania langsung melupakan semua sifat buruk lelaki ini.


"Safania juga suka yang varian itu," ujar Lendra dan seketika Tania langsung menyeburkan seluruh minuman yang tertinggal di mulutnya ke lantai dan menatap tajam kearah suaminya.


"Pantes saja," gumam Tania yang mulai menyadari hal bo*oh yang seharusnya tidak di jadikan harapan olehnya sampai kapan pun ia tidak akan pernah menjadi idaman bagi Lendra.


"Kamu minumnya belepotan," ujar Lendra tampa merasa bersalah sembari mengusap wajah Tania yang menghitam karena terkena tumpahan minuman dengan beberapa lembar tisu ditanganya dan Tania langsung merampas benda itu dan Lendra dan menglapnya sendiri.


"Kamu masih lapar?" Tania mengeleng.


"Kalau kamu lapar kita bisa cari makan di luar kok,"


"Tania sudah kenyang," ucap Tania langsung naik kembali keatas ranjangnya.

__ADS_1


***


"Lho mau kemana Rus?" tanya Evandi yang sudah selesai dengan kegiatan kantornya dan melihat Rusdi yang sedang mengandeng tasnya.


"Gue mau kerumah sakit Van, lho mau ikut?" tanyanya sembari mengikat tali sepatunya yang terlepas.


"Gue kayaknya harus balik deh, kasihan bi Sari di rumah sendiri," balasnya.


"Iya, yah gue juga sudah jarang banget kerumah lho, gue juga kangen sama bi Sari,"


"Gue titip salam ya sama Bi Sari," Evandi hanya mengeleng.


"Pak Rusdi!" Rusdi menghentikan langkahnya saat mendengar namanya disebut oleh seseorang dari arah belakangnya. Evandi juga melakukan hal yang sama ia juga memutarkan kepalanya dan melihat seorang wanita yang sudah berada di belakangnya.


"Iya ada apa Kiara?" tanya Rusdi yang juga melihat Kiara sepertinya juga hendak pulang tampak dari ia yang sudah menyandang tasnya.


"Bapak mau pulang ya? Saya boleh nebeng ngk Pak, saya tidak bawa mobil, saya tidak tau harus pulang sama siapa," ujar Kiara dengan memajukan beberapa cm bibirnya kedepan yang membuat Rusdi menarik sedikit ujung bibirnya melihat ekspresi Kiara yang di nilainya terlalu caper padanya apalagi dengan make upnya yang terlalu menor.


"Saya ngk mau pulang si ...."


"Bapak mau nginap? Saya temani ya Pak!" ujar Kiara pula antusias belum selesai mendengar jawaban yang keluar dari mulut Rusdi.


"Saya belum selesai ngomong Kiara," geram Rusdi.


"Iya Bapak mau ngomong apa Pak?" tanya Kiara cengegesan tidak jelas.


"Kamu sudah selesai dengan seluruh pekerjaan kamu, Saya tidak ingin ikut kenak amuk kalau nanti Lendra marah karena pekerjaan kamu tidak selesai,"

__ADS_1


__ADS_2