Madu Dihari Pernikahan

Madu Dihari Pernikahan
Bab 135. Perencanaan pergi


__ADS_3

Tania dan Lendra saling melemparkan pandangan mereka kearah yang sama pada tumpukan barang yang sudah mereka rapikan. Tania hanya dapat menghela nafas panjang dan menghembuskanya perlahan. Hidup susah bukanlah yang hal sulit baginya karena sejak kecil ia sudah terbiasa hidup sederhana walau pun ia tidak berasal dari keluarga yang serba berpas pasan.


Setelah menatap barang barang pribadi mereka, mereka saling menatap satu sama lain dan saling melontarkan senyuman termanis yang mereka miliki.


"Tan, sebelum kita berangkat atau sebelum kita mencari rumah baru untuk kita. Aku ingin bertanya sembari menunggu keputusan dari pengadilan agama kamu akan ikut dengan ku atau kembali kehidupan lama mu bersama Vania?" tanya Lendra yang kini sudah duduk di tepi ranjang yang berada di hadapan Tania. Tania hanya membalasnya dengan senyuman dan memegang kedua tangan suaminya.


"Walau pun surat itu akan keluar besok, sekarang aku tetaplah istri mu dan aku akan menemani mu hingga surat keputusan itu keluar!"


"Makasih ya Tan!" hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Lendra dan ia langsung memeluk tubuh Tania penuh kehangatan. Haru sangat di rasakan wanita muda itu.


"Ternyata gini ya rasanya dicintai oleh suami, Kok bisa ya Safania meninggalkan lelaki yang sangat mencintainya hingga lelaki itu tidak melihat wanita yang sedang memperjuangkanya hanya karena harta Mas Lendra di sita oleh Papa. Andai kamu bisa bersikap adil Mas pasti waktu itu aku tidak akan melangkahkan kaki ku ke pengadilan dan rumah tangga kita pasti tidak berada di ujung tanduk seperti ini!" gumam Tania membalas pelukan suaminya sembari mengelus punggung Lendra penuh kasih sayang.


"Ya sudah Sayang yuk keluar!" ajak Lendra yang hendak menarik tangan Tania agar segera keluar dari dalam kamar.


Mata Tania membulat sempurna, mulutnya terbuka lebar. Sepertinya telinganya sedang mengalami kesalahan. Bagaimana bisa Lendra memanggilnya dengan sebutan itu?, atau Lendra mengira ia sedang bersama Safania.


"Tania ayok!" ajak Lendra lagi membuyarkan lamunan istrinya dan menarik tangan Tania lebih kuat dari sebelumnya.


"Mas!" Tania menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Kamu mau keluar dengan tangan kosong?" Lendra hanya mengangguk.


"Kamu sudah bukan pemimpin lagi, uang kamu juga sudah tidak banyak, wibawa kamu sudah tidak setinggi dulu lagi lalu, kamu membiarkan barang barang kita tetap di sini?" tanya Tania menaikan sebelah alisnya.


"Nanti aku bisa suruh Security untuk membawakanya keluar yang penting sekarang kita izin dulu dari Mama dan papa!" ucap Lendra tampa dosa.


"Mas, kamu dengar ngk sih Papa bilang apa. Kita harus memulai semuanya dari nol. Sekarang kamu sudah tidak memiliki jabatan apa pun dan kamu sudah tidak memiliki bawahan berarti semua tugas harus kamu selesaiin sendiri. Mari angkat barang barangnya keluar!" ajak Tania kembali menarik tangan Lendra agar menangkat barang barang Tania.


"Tania, Jangan ngaco, kita bisa suruh mereka buat angkat semua barang barang kita!"


"Mas, bisa tidak kamu kurangi sifat angkuh dan sombong kamu itu. Kita bisa kok mengangkat semuanya berdua. Jika hanya seperti ini kita meminta bantuan orang lain, bagaimana kita akan memulai semuanya dari nol!" pertegas Tania.


"Baiklah!" pasrah Lendra. Ia mulai mengangkat beberapa dus barang barang milik Tania yang berukuran tidak terlalu besar sedangkan Tania mengangkat dua koper sekaligus yang berukuran jumbo. Jika dilihat dari fisik seperti ini Tania lebih kuat dari Lendra.


"Ya sudah kamu istrirahat Mas biar aku yang lanjutkan!" ujar Tania kembali mengangkut barang barang mereka.


"Tan!" Tania menghentikan sejenak kegiatanya dan menoleh kearah suaminya.


"Sudahlah biar mereka saja yang mengangkatnya, aku kasihan sama kamu nantinya sesampainya kita di sana kamu juga harus mengurus barang barang ini nanti kamu kecapekan!"

__ADS_1


"Mas, kita harus membiasakan diri untuk capek bukankah untuk mencapai kesuksesan harus melalui rasa capek terlebih dahulu?" kekeh Tania pada pendirianya.


"Mama, Papa, Mama, Papa!" panggil Tania berulang kali mengetuk pintu kamar orang tuanya lebih kuat. Ia pasti tidak akan mampu menahan kepergian kakaknya jika Delino belum memperintahkan mereka untuk tetap stay di rumah ini.


"Ada apa Naila?" tanya Delino yang tampak biasa saja melihat Naila yang sudah terlihat sangat panik bahkan putri kecilnya itu berulang kali menunjuk kearah ruang tengah. Delino menoleh sedikit kearah yang di maksud anaknya tampa di perjelas Naila lagi pun sebenarnya Delino sudah mengerti maksud putri kecilnya.


"Ada apa Sayang?" tanya Delino dengan nada seperti bicara pada anak usia tiga tahun.


"Papa, Kak Lendra beneran mau pergi dari rumah ini dan mereka sudah menyusun semua barang barang mereka dan sekarang sudah di letakan di ruang tengah. Pa, Naila mau Papa tahan mereka dan suruh mereka untuk tetap tinggal disinu nemani Naila!" aduh Naila dengan nafas tersengal sengal dan berusaha menarik tubuh Delino yang lebuh berat darinya.


"Mama kenapa diam saja, Ayok tahan mereka!" tangan sebelah kiri Naila kini ikut menarik Liora yang sejak tadi tertawa melihat kepanikan yang berlebihan dari anak bungsunya.


"Papa tidak akan ubah keputusan Papa!" Delino melepaskan secara paksa tanganya dari Naila dan kembali masuk kedalam kamarnya. Ketiganya kini sudah berada di depan kamar keduanya.


"Ma, kenapa Mama tidak mencegah Papa bukanya Ma, juga tidak suka dengan keputusan Papa sekarang kenapa Mama diam saja. Apa Mama tega membiarkan Kak Lendra dan Kak Tania terlantar?" sifat gegabah Naila mulai hilang. Ia sedikit tenang dari sebelumnya namun nadamya terdengar sangat kecewa melihat wanita yang telah melahirkanya itu.


"Mama tidak akan cegah mereka karena Mama sudah setuju dengan keputusan Papa dan sebagai istri, Mama harus mematuhi perintah suami, Mama!" jawab Liora santai.


"Bukankah Mama pernah bilang ke Naila kalau perintah suami kita salah kita boleh membantahnya dengan nada yang lembutĀ  dan memberikanya pengertian. Lalu kenapa Mama malah bersikap seperti ini?"

__ADS_1


"Mama tidak menyalahkan kamu untuk membicarakan itu karena Mama juga pernah mengatakanya tapi, kebalikanya Papalah yang memberikan pengertian pada Mama sehingga Mama sekarang memihak kearah Papa jadi, biarkan Kakak kamu memulai kehidupan barunya. Kelak nanti kamu akan mengerti maksud Mama dan Papa terutama Papa!" jelas Liora seraya menepuk bahu Naila.


Sedikit penjelasn Mamanya membuat Naila sedikit tenang tapi, tidak pikiranya ja terus saja memikirkan nasib Lendra dan kakak iparnya setelah ini. Apakah ia akan melihat kakaknya bsrulang berjadi gembel?.


__ADS_2