Madu Dihari Pernikahan

Madu Dihari Pernikahan
Bab 116 - Keberuntungan


__ADS_3

Tak ingin Kiara semakin dalam bahaya orang orang utu memundurkan beberapa langkahanya menjauh. Sedangkan Kiara semakin tidak berdaya benda tajam itu semakin mendekat dengan lehernya. Salah melangkah nyawa taruhanya. Rusdi memperhatikan sekitarnya walau pun banyak orang berada di tempat ini jika, mereka hanya berdiam diri di tempatnya. Kiara tetap tidak akan selamat. Ia harus bertindak cepat sebelum orang ini semakij mengancam mereka dan membawa sekretaris Lendra ketempat lain. Ia mencari keberadaan Evandi namun, tak di temukanya sosok sahabatnya itu.


Ia melangkah selangkah kakinya maju kedepan, pergerakanya di sadari oleh lelaki bertubuh kekar itu. Benar saja ketika ada yang mendekat dengan mereka, lelaki itu semakin mendekat pisau kebagaian tubuh Kiara. Ia juga tidak ingin membahayakan Kiara dan mengambil resiko yang lebih dalam. Ia menghentikan langkahnya. Di dalam sakunya secara diam diam Rusdi menyempatkan membunyikan suara alunan kedatangan polisi.


Semua orang yang berada di tempat itu seketika memutarkan pandangan merrka mencari sumber suara termasuk lelaki jahat itu. Ia juga memantau sekitarnya untuk memastikan kehadiran polisi itu. Sebagai wanita cerdas, kesempatan itu di manfaatkan Kiara, ia segera lari ketempat Rusdi dan bersembunyi di balik tubuh lelaki itu. Sekilas Rusdi menatap wajah Kiara yang tampak sangat ketakutan. Hembusan nafas wanita ini juga masih terdengar di telinganya. Di gengamnya tangan Kiara dengan erat setidaknya dapat membuat Kiara sedikit tenang. Hal yang sama juga di lakukan gadis itu. Sekilas ia memandang ke wajah Rusdi yang memancarkan aura ketulusan dalam menolongnya. Ia juga semakin menguatkan cengkraman tanganya pada pria ini.


"Ku*ang ajar!" kesal pria bertubuh kekar itu. Ia segera menbuka jas hitam yang menutupnya dan melemparnya kesembarang arah. Dari caranya bersikap sepertimya pria ini memang bukan clien perusahaan namun, ia adalah seorang preman yang menyamar dan menyusup masuk kedalam perusahaan. Selama bekerja di perusahaan sahabatnya, Rusdi belum pernah menemui clien besar yang mau di ajak meeting di ruangan kumal seperti itu.

__ADS_1


Rusdi sadar begitu jika, ia kurang mahir dalam hal pertarungan. Ia tidak sehebat Evandi dan Lendra dalam bertengkar. Di dorongnya tubuh Kiara menjauh darinya. Kiara sempat terjatuh. Di pandangnya kearah depanya. Ia mengerti mengapa Rusdi melakukan hal ini padanya. Tampa pikir panjang Kiara segera berlari kersuatu tempat yang lumayan jauh dari tempat ini. Rusdi melakukan melakukan persiapan jika, ia tidak dapat melawan setidaknya, ia dapat menghindar dari perlawanan pria ini.


Kemarahan pria itu semakin mendalam menyadari jika, suara itu tidak berasal dari polisi langsung. Rusdi sudah pasrah kalau nanti tubuhnya harus babak belur menghadapi preman begis seperti ini.


Brughhhhhh


Plakkkkkkk

__ADS_1


Dari arah belakang Kiara melayangkan kayu yang cukup besar dan berat pada lelaki jahat itu. Kiara melayangkanya tepat sasaran ia memukulnya tepat di bagian dekat kepala lelaki itu. Tidak langsung terkapar, penjahat itu masih mencoba untuk berdiri. Kiara segera mendorongnya dan memukulnya ulang namun, pukulan kedua ini tidak sekeras pukulan pertama. Setelah memastikan penjahat itu sudah tak berdaya. Kiara membuang kayu yang di pegangnya kesembarang arah, untung saja tidak mengenai siapa pun. Ia langsung menghampiri Rusdi yang masih memegangi perutnya. Di bantunya pria itu berdiri untuk berpindah tempat.


Tal berdaya bukan berarti tak sadarkan diri. Preman itu masih dalam keadaan sadar namun, untuk mengerakan tubuhnya saja saat ini ia tidak mampu. Orang orang yang berkumpul dan menyaksikan hal ini segera mendekat dengan orang jahat itu untuk melihatnya secara langsung detail agar kasus seperti ini tidak kembali dan untuk kedepanya mereka dapat mencurigai wajah wajah seperti mereka agar tidak masuk keperusahaan.


"Pak, perut Bapak pasti sangat sakit ya?" ujar Kiara dengan tulus seraya mengelus bagian perut lelaki itu. Rusdi hanya mengangguk.


"Pak tolong bantu saya!" teriak Kiara pada seorang Bapak yang penglihatanya mengarah pada mereka. Kesempatan ini di manfaatkan Kiara untuk meminta bantuan Bapak ini agar membopong tubuh Rusdi keuks kantor. Bapak itu juga tidak melakukan penolakan sedikit pun. Ia langsung melaksanakan perintah dari Kiara dengan baik.

__ADS_1


Kiara mendudukan Rusdi di salah sstu kursi yang berada di perusahaan Lendra. Rusdi yang hanya diam mendapst perlakuan dari gadia itu yang berusaha untuk menghilangkah rasa sakit yang di rasakan oleh Rusdi. Walau pun dalam keadaaan genting sepetri ini. Kiara masih sempat melihat raut wajah Rusdi kesakitan dan momen di abdikan di ponselnya namun, hal itu hanya berlaku dalam waktu yang sangat cepat. Rusdi tersadar dengan apa yang yang sedang terjadi padanya. ia meminta Kiara untuk tidak memyentuhnya tubuhnya. Rasa sakit yang dirasakanya tak lama lagi juga akan menghilangkan.


__ADS_2