Madu Dihari Pernikahan

Madu Dihari Pernikahan
Bab 124 - Sikap Rusdi


__ADS_3

Rusdi terbangun dari tidurnya, orang pertama yang di tatapnya adalah Kiara dan ia tersenyum pada wanita itu. Kiara jyga membantu  Rusdi duduk di atas ranjangnya. Penuh ketulusan Kiara juga menyuapkan makanan yang di bawanya ke mulut Rusdi. Rusdi menerimanya dengan baik bahkan ia berulang kali tersenyum menatap Kiara hingga tidak mengetahui keberadaaan Naila yang juga berada di sebelahnya. Tidak dapat membohongi hatinya Kiara senang mendapat perlakuan seperti ini, ia justru memperbesar harapanya dan menganggap hati pria ini mulai terbuka walau ia belum mengutarakanya secara langsung. Setidaknya sudah apa perubahan sikap yang di lakukanya.


"Ini kamu masak sendiri?" Kiara mengangguk malu. Ia takut makanan yang di buatkanya kurang enak atau tidak ada rasa karena Rusdi menanyakanya dengan wajah datar yang membuatnya ragu.


"Masakanya enak!" pujinya. Naila semakin kesal dengan pemandangan yang ada di hadapanya. Sungguh menjengkelkan dan sepertinya Kiara sengaja membuatnya cemburu. Kiara pasti tau kalau ia juga memiliki perasaan yang lebih pada Rusdi dan ia sengaja melakukan ini untuk membuatnya tidak nyaman di tempat ini.


"Evan mana Kia?" Kiara menatap sekitarnya ia tidak menemukan pria yang di maksud oleh lelaki itu. Pandanganya kini tertuju pada Naila yang sejak tadi hanya terdiam karena sebelum Evandi pergi bersama Naila. Naila hanya mengeleng dan mengatakan ia tidak tau. Ia juga memberitau kalau ia baru saja pulang dari rumah. Tak lupa ia juga memberitau pada mereka jika orang tuanya sudah keluar dari rumah sakit. Kiara dan Rusdi kkut senang mendengarnya namun, tetap saja ada rasa tidak suka dalam diri Naila pada Kiara.


"Syukur Om dan tante sudah berada di rumah!" ujar Rusdi tersenyum bahagia menatap wajah Kiara dan ia juga mengengam tangan wanita itu dengan erat. Hati Naila benar benar tersentuh melihatnya. Dadanya terasa sesak. Perih rasanya tapi, apalah dayanya yang hanya di anggap sebagai adik oleh Rusdi. Sadar tidak ada status diantara mereka dan Naila juga tidak dapat mengutarakan rasa cemburu yang melanda hatinya.


"Saya sebenarnya ingin menjenguk pak Delino di rumah sakit tapi sayangnya waktunya tidak kunjung tiba sampai mereka sudah kembali karena banyaknya masalah saat ini yang terjadi dan alhamdulilah banget jika mereka sekarang sudah lebih baik. Nai, kamu malam nanti jagain pak Rusdi di rumah samit ya, saya ingin menjenguk orang tua kamu!"


"Saya ikut dengan mu!" Naila dan Kiara mendongkan kepalamya secara bersamaan menatap lelaki itu. Kiara tak percaya dengan apa hang di dengarnya. Kenapa Rusdi secare ini?. Naila, kehadiranya seakan tidak di anggap oleh Rusdi. Ia merasa terabaikan tampa tahu apa kesalahanya.


"Pak di sini saja ada Naila yang menjaga Bapak, saya tidak ingin kondisi Bapak memburuk karena bagaimana pun Bapak seperti ini karena saya dan karena menolong saya jadi, saya harus memastikan Bapak kembali ke sedia awal dalam keadaan sehat atas keperawatan saya!"

__ADS_1


"Ada hal yang harus saya sampaikan pada pak Delino harusnya hal ini saya sampaikan pada Pak Lendra sehubung pak Lendra masih di rawat dan perusahaan juga akan kembali di olah oleh pak Delino maka, sebaiknya hal penting ini saya sampaikan langsung pada beliau dan bukan hanya karena itu saja, pak Delino dan istrinya yang sudah banyak membantu saya dalam bidang apa pun, sudah waktunya saya untuk membalasnya!" jawab Rusdi panjang lebar.


"Saya mengerti maksud Bapak tapi Bapak juga harus memperhatikan kondisi Bapak. Bapak baru boleh kesana setelah kondisi Bapak membaik dan Dokter mengizinkanya biar nanti malam Naila yang menjaga Bapak!"


"Naila bisa kok Kak jagain Kakak!" ucap Naila malu plus ragu. Rusdi hanya menatapnya sekilas.


"Nai ini makananya di makan, sayang nih mubazir tadi saya bawain banyak!" tawa Kiara sembari menyondorkan satu kantong plastik yang di bawanya.


"Kiara ternyata baik banget kenapa aku baru sadarnya sekarang?" gumam Rusdi tampa di sadarinya senyum sungging terbit di bibirnya. Kiara tidak seburuk penilainya dan ia terlihat sangat berbeda dengan sebelumnya karena selama ini ia hanya bertemu gadis itu di kantor saja sekali pun di luar kantor pasti karena membiarkan pekerjaan.


"Kak Lendra masih berada di rumah sakit dan Naila yakin kak Lendra baik baik saja karena tadi sebelum Naila meninggalkanya ada kak Tania yang menjaga kak Lendra!" jawabnya.


"Boleh ambilkan handphone Kakak, Kakak ingin menghubungi kak Evan!" ujar Rusdi sembari menunjuk kearah meja yang di atasnya terletak ponsel miliknya. Tampa bertanya lagi Naila segera mengambilkan benda itu dan memberikanya pada sang pemiliknya.


"Loh dimana?" tidak menunggu lama Evandi langsung menerima panggilanya.

__ADS_1


"Gue di rumah!"


"Gue mau lho sekarang ketempat gue!"


Selesai perbincangan singkat dengan sahabatnya itu Evandi hanya menatap layar ponselnya dengan seksama. Apa yang ingin di katakan Rusdi tampaknya penting. Ia menutup kembali ponselnya dan memasukanya kedalam sakunya untuk mengakhiri rasa keingin tahuanya.


"Siapa Den?" tanya Sari yang kini menghampiri Evandi dengan lap dapur di bahunya. Evandi berusaha menahan tawanya melihat kehadiran wanita paruh baya yang sudah berdiri di depanya Wajahnya tampak celemotan dan terkena banyak noda hitam. Apa yang baru saja di lakukan Sari hingga penampilanya berantakan seperti ini?. Sari memeperhatikan seluruh pakaianya semuanya tampak sempurna dan perfeck, tidak ada yang salah lalu, mengapa Evandi menertawainya?.


"Biasa Bi dari Rusdi, Bibi perhatiin deh penampilan Bibi, jorok banget!" ujar Evandi dengan tawa renyahnya.


"Bagaimana dengan kondisi Den?" tanya Sari setelah tawa majikanya itu reda. Raut wajah Evandi seketika berubah, wajahnya seketika menjadi datar.


"Saya baik baik saja kok Bi!" jawabnya yang hendak meninggalkan Sari di ruangan yang cukup besar ini.


"Apakah Den sudah mengingat masa lalu Den. Bagaimana dengan gadis yang Den cintai apakah penampilanya sudah terlintas di benak Den?" teriak Sari karena Evandi semakin menjauh darinya. Lelaki muda itu menghentikan langkahnya. Sejauh ini ia belum dapat mengingat gadis yang sangat di cintainya itu ataukah rasa itu sudah menghilang darinya. Tak menjawab pertanyaan Sari, Evandi langsung meninggalkan wanita paruh baya itu di tempatnya. Sari hanya dapat mengelengkan kepalanya.

__ADS_1


Sejak kejadian itu sifat majikanya berubah menjadi cuek dan hampir tidak peduli dengan orang orang sekitarnya. Sari sebenarnya masih ingin mengobrolkan banyak hal dengan Evandi agar lelaki itu lebih mudah mengingatnya namun, Evandi sudah tidak pernah meluangkan waktunya untuk sekedarnya bersenda gurau saja. Mungkin saja waktunya selama ini bukan karena keinginanya tetapi karena kehadiran gadis yang di sukainya itu walau demikian Sari tetap berusaha memami posisi majikanya.


__ADS_2