
Perdebatan yang terjadi di ruangan Delino membuat Naila tidak nyaman di tempat itu selama Safania masih berada di lantai yang sama dengannya. Naila memutuskan untuk kembali keruangan Liora dan mengatakan pada mamanya jika Lendra sedang menjenguk papanya. Ia tidak mengatakan hal lain apa pun lagi karena tak ingin menambah beban pikiran wanita ini.
Bibirnya bisa diam tampa berkata, wajahnya tidak menunjukan kesedihaanya tapi, matanya yang menjelaskan perasaanya saat ini. Air matanya menetes begitu saja. Sebagai adik, ia tentu merasa kasihan pada kakaknya karena sudah mencintai wanita yang salah. Air mata itu di lihat jelas Liora tampa izin dari Tania, ia segera menghapus air matanya dan memeluk putrinya dengan erat. Tak perlu lagi Naila menjelaskan kesedihaanya, ia sudah dapat mengerti dengan keadaan anak bungsunya.
"Nai!"
"Ma, Naila ngk habis pikir sama kak Lendra, Ma. Kenapa kak Lendra bisa sebo*oh itu mencintai wanita yang salah padahal sudah jelas yang sayang dan tulus sama kak Lendra itu kak Tania bukan kak Safania. Naila bukan ingin mencampuri hidup kak Lendra, Naila hanya tidak ingin kak Lendra salah dalam memilih!"
"Kita doain yang terbaik ya buat kak Lendra agar dia tetap sadar dan menyadari keberadaan Tania sebelum Tania benar benar memutuskan untuk bercerai!"
***
"Kiara, ngapain kamu disini?" tanya Evandi menatap curiga pada Kiara yang duduk di bawah sofa dengan ruangan yang sangat berantakan. Bekas sobekan kertas itu berserakan dimana mana. Kiara mendongkakan kepalanya dan menatap Evandi yang sudah berdiri di depan pintu. Ia segera berdiri dan memghampiri lelaki itu.
__ADS_1
"Pak Evandi!" ujar Kiara menarik ujung bajunya untuk merapikan kembali penampilanya walau pun rambutnya sudah acak acakan.
"Ngapain kamu disini?" Kiara segera menghapus air matanya dan menetralkan kembali wajahnya agar kesedihan yang baru saja melandanya tidak terlihat oleh siapa pun.
"Saya baru saja bertemu clien Pak dan mereka membatalakan proyek karena mereka mengetahui masalah pribadi pak Lendra terutama berita yang mengatakan jika pak Delino ingin menarik kembali perusahaan atas nama beliau dan mereka mengatakan jika nama perusahaan belum jelas milik siapa dan itu membuat ragu dengan perusahaan kita. Perusahaan yang membatalkan kerja sama ini adalah proyek yang sudah lama di rintis oleh pak Lendra jadi, sangat ragu untuk mengatakan pada pak Lendra. Bisakah saya minta tolong pada Bapak untuk menyampaikan hal ini pada pak Lendra!" aduh Kiara.
"Inikan yang kamu mau?, Perusahaan Lendra jatuh dan kamu keluar dari perusahaan setelah itu kamu mencari perusahaan yang lebih besar yang menjanjikan gaji yang besar!" tuduh Evandi.
"Kamu pikir saya tidak tau, rahasia sebesar itu hanya di ketahui oleh beberapa orang saja dan kamu adalah salah satunya. Sekarang berita itu sudah tersebar viral, siapa yang mempublikan jika bukan kamu. Kamu mengatakan akan keluar dari perusahaan ini jika, bukan Lendra lagi yang memimpinnya lagi. Kenapa kamu takut gaji kamu tidak sebesar bos pertama kamu?"
"Saya memang salah satu orang yang mengetahui keputusan pak Delino, Pak tapi saya tidak pernah memberitau hal ini kepada siapa pun kecuali pada Rusdi yang sudah memaksa saya dan Bapak. Saya sangat menjaga perasaan pak Lendra. Saya juga tau diri Pak, Pak Lendra bos pertama yang mau menerima saya bekerja di perusahaan sebesar ini tampa pengalaman dan minimnya pengetahuan dan tidak mungkin bagi saya untuk berkhinat pada orang sebaik pak Lendra. Saya juga tidak bisa mencampuri keluarga pak Lendra, saya hanya dapat menjalankan tugas saya, Pak!"
"Sudahlah Kiara, saya tau semua kelicikan kamu dan saya tidak akan membiarkan rencana kamu itu berjalan dengan baik!"
__ADS_1
"Evandi kenapa kamu bisa bicara seperti itu?" tiba tiba Rusdi sudah berdiri di belakang mereka. Keduanya segera membalikan badanya dan menoleh pada Rusdi yang akan menghampiri mereka.
"Kamu tidak bisa menuduh Kiara seperti itu. Bagaimana pun dia memiliki peran penting perusahaan ini, perusahaan ini juga besar karena kerja kerasnya dan Kiara tidak mungkin sejahat itu!" bela Rusdi.
"Kok lho jadi belain dia gitu Rus bukanya, lho bilang bakal bantui Lendra atas masalahnya sekarang!"
"Gue bakal bantu Lendra tapi, bukan berarti gue juga bakal nyalahin orang lain dalam hal ini dan gue rasa lho sudah terlalu berlebihaan menuduh Kiara yang tidk tidak seperti itu. Bisa lho setega itu ke dia. Gue tau Kiara itu siapa Van jadi, tidak mungkin Kiara sejahat itu. Kiara memulai dan merintis kariernya di perusahaan ini dan gue yakin Kiara adalah orang yang tau diri jadi, kita tidak perlu untuk mengajarinya cara berterima kasih!" jelas Rusdi.
"Tapi lho bisakan mikir secara logis. Bagaimana mereka di luar sana mengetahui hal ini kalau bukan wanita ini?"
"Pak, saya tidak sejahat itu!"
"Sudahlah Van, jangan menyalahkan orang seperti itu, belun tentu jugakan Kiara yang menyebarka berita ini karena buka Kiara saja yang mengetahui hal ini. jangan terlalu menyalahkan orang lain!"
__ADS_1